Kenapa aku tidak menggunakan Facebook lagi


Pastinya hal ini menjadi sebagian kewajiban kita sepertinya, memiliki akun Facebook itu seperti halnya aktifitas makan dan minum.


Dari kehidupan, bisnislah yang telah mempengaruhi cara masyarakat melakukan sesuatu dan aktifitas sebagainya, itu termasuk juga ke strategi bisnis Facebook. Sebenarnya, apa yang kita lakukan dengan sosial media ini?. Setiap kali membuka internet, kebanyakan menjadi prioritas utama, bahkan Facebook menjadi aplikasi sosial media nomor satu paling banyak di buka. Hal biasa itu, mesin uang mereka selalu lancar dipenuhi iklan di sekitarnya. Ya begitulah perusahaan Internet, pekerjaannya memberikan jasa inovatif.

Jika kita tanyakan kepada orang, apa sih fungsi Facebook itu. Jawabannya pasti berhubungan dengan satu kunci, berinteraksi dengan orang lain. Jika kita bandingkan dengan fungsi internet sebenarnya yaitu menjelajah. Apakah Facebook itu sifatnya hampir sama dengan internet. Mungkin ada dua alasan antara ya atau tidak. Jika ya, kita menjelajah hanya sebatas lingkungan sosial kita. Jika tidak, kita tidak menjelajah informasi atau ilmu yang di dapat, itu pun tergantung apa yang dibagikan oleh pengguna.

Aku tahu inovasi apa yang mereka lakukan. Intinya, memudahkan komunikasi antara sesama teman, keluarga dan sebagainya. Namun, aku kurang setuju bagaimana Facebook memberikan pelayanan terhadap pengguna. Seperti menonton televisi selama satu jam lebih dengan acara tidak bermanfaat. Sebenarnya, sudah banyak fakta mengenai bagaimana Facebook mempengaruhi kita dari eksperimen — eksperimen pengamat sosial, dengan kesimpulan adiktif-lah, membuang waktu dan lainnya.

Kita balik lagi dengan fungsi Internet. Ada juga orang berpendapat, internet itu telah membuat kita tidak produktif, semakin kita menjelajah semakin lama kita akan menjelajah. Sebenarnya ini juga bisa berkaitan dengan desain penggunaan Web Browser, seandainya web browser seperti Chrome atau Firefox hanya memiliki satu tab, internet mungkin hanya seperti membaca buku secara berurutan saja. Pribadi aku saja, hobi dan pekerjaan ku banyak di depan komputer kadang membuatku untuk menjelajah terus dan itu melupakan aku untuk fokus dan berfikir. Karena penjelajahannya, aku semakin banyak mendapatkan referensi atau ilmu dan kadang membuat aku bingung untuk memulai dari mana. Jika aktifitas tadi diganti dengan membuka Facebook setiap sekitaran menitnya, itu justru memperburuk suasana aku untuk kreatif, karena internet yang kita lakukan hanya sebatas itu saja.

Sekarang, Facebook itu seperti taman bermain.

Setidaknya Facebook hanya memiliki tiga fitur, berbagi, bercerita dan bercerita. Faktanya, Facebook memiliki puluhan kategori yang membuat orang penasaran dan mungkin membuat Facebook tidak jelas dengan misi mereka. Kadang, aku tidak bisa membaca peraturan penting teman lewat status hanya karena dihimpitkan oleh rapor pengguna Facebook yang suka bermain game dan timeline aku hampir dipenuhi dengan itu. Facebook mampu mempertahankan penggunannya dan mereka manfaatkan dengan mengisi apapun, agar pengguna terus bertahan di halaman web mereka. Heran juga, Facebook itu tempat pusat bermain atau sosial media. Hal pertama ini yang membuat aku lepas dari Facebook.

Sosial media yang aku inginkan, ada tiga komponen yang membuat internet tidak terasa liar dan menjadi bahan positif. Pertama, menginspirasi. Kita tidak boleh menghabiskan waktu kita terhadap hal yang tidak bermanfaat, kasus sebagian Internet telah melakukan itu. Kehidupan ini hanya sekali, manfaatkan sebaik — baiknya.Dengan inspirasi, internet akan membuka pikiran kita untuk hal — hal cemerlang. Kedua, memotivasi, di dunia ini banyak orang yang sukses dan cerita mereka beredar di Internet, sosial media bisa menjadi alat untuk memotivasi dari cerita mereka. Bukan menjadikan orang iri, kadang ada yang iri kalau seseorang mengupload barang — barang keren. Ketiga, menjelajah, ini sifat utama Internet dan kita perlu mengetahui apa yang orang lakukan di dunia luar, inovasi apa yang bisa menjadi bahan pembicaraan kita suatu saat dan juga sebagai lanjutan kita untuk terus berkarya. Tiga komponen ini sebenarnya sudah terdapat di Facebook, tetapi konten begitu disembunyikan oleh fitur — fitur Facebook, itu tergantung juga bagaimana pengguna menyikapinya.

Beberapa pelopor internet lainnya juga banyak memenuhi tiga komponen, karena mereka memiliki visi dan misi yang kuat dan konsisten, pengguna mereka pun mengerti. Pertama di Pinterest, ini kumpulan inspirasi yang dikoleksi orang, mereka juga punya sosial media, fitur chatting mungkin untuk membicarakan inspirasi dan komunikasi kreatif. Kedua adalah Tumblr, awalnya sebagai platform Blog dan fiturnya tidak jauh beda dengan Pinterest, Bahkan, Tumblr juga mengajak kita untuk belajar menulis kode, agar halaman inspirasi dan konten yang kita upload menjadi ketertarikan. Ketiga terdapat di Google+, sosial media ini konsisten untuk membangun komunitas sebenarnya, ada di fitur circle-nya, contohnya kamu ingin mengenal seseorang di situ dan kita bisa mengelompokkan orang itu sebagai zona kenalan, sehingga jika dia merespon ingin berkenalan akan termudah. Google+ pun tidak ribet suasananya, mereka tidak berlebihan sebagai sosial media.

Facebook sedikit samar sebenarnya, kamu menjadi teman di sana tidaklah menjadi teman sebenarnya. Jika ingin berteman paling efektif tidak berdasarkan meminta respon menjadi teman, ya komunikasi menjadi nomor satu. Kadang ada beberapa kasus yang aku dapat dari cerita — cerita di internet. Ada seorang cowok yang tertarik dengan cewek cantik sana di tempatnya, sekolah atau kampus. Dia tahu nama cewek itu dari orang — orang yang membicarakannya, karena perempuan itu terkenal. Sebagai tempat paling bagus, dia mencari cewek itu di Facebook, aku penasaran juga bagaimana cewek itu menyikapinya. Jika diterima respon itu, cowok itu memiliki kesempatan untuk melihat aktifitasnya di Facebook. Jika berani, dia akan memulai chatting, memperkenalkan dirinya dan menampakkan dirinya. Jika tidak, itu hanya akan pertemanan samar yang ternyata tidak kenal satu sama lain. Sebagian teman yang ada di Facebook kamu bukanlah teman sebenarnya.

Secara pribadi, aku pun masih menggunakan Facebook, buktinya website ini masih dipromosikan dengan Facebook, karena pemanfaatan bisnis di situ cukup efektif. Berbagi artikel, menyukai halaman dan promosikan karyaku juga masih ku gunakan. Sisanya, tidak aku gunakan. Merasa bersalah juga aku rasakan, kebanyakan teman — teman lamaku menghubungiku lewat Facebook, sekarang tidak ku gunakan. Ini juga bisa menyebabkan dianngap sombong dan itu kelemahannya tidak menggunakan Facebook lagi, kita bisa saja kehilangan teman lama. Itu tergantung terhadap diri kita sendiri, kita harus bisa mengendalikannya dan menyadarinya.

Karena aku kontra terhadap Facebook, aku tidak akan menggunakannya selama ingin berkarya dan produktif.

Leave a Reply