Kekuatan dari ‘Wishlist’


Semua layanan belanja online memiliki fitur ini. Fitur ini tidak menjadi perbincangan utama dalam pemasaran bisnis belanja online, namun para pengembang selalu mengesampingkan fitur ini. Menurut opini aku, fitur ini tidak terlalu diterapkan oleh pengguna. Padahal, ‘Wishlist’ memiliki makna yang sangat mendalam.


Desainer UX menyebutnya sebagai fitur ‘micro-interaction’, kecil namun fungsinya besar.

Kenapa makna yang mendalam?

Aku ingin membahas sebuah masalah yang tidak pernah selesai atas kesadaran para pengguna di Internet. Penyebaran musik bajakan tidak pernah habis ceritanya, musisi selalu mencari bagaimana mencegah hal ini agar tidak menjadi kebiasaan. Menurutku, caranya hanya tergantung kepada kesadaran dan rasa empati pengguna, terhadap kerja keras para musisi berkarya. Berkat fitur ‘Wishlist’, kamu merasa termotivasi bekerja keras agar mendapatkan karya mereka. Seandainya saja, musisi bisa melihat nama yang membeli karya mereka. Betapa bangga-nya nanti diri mereka, termasuk para pembeli.

‘Wishlist’ bakal membuat kamu gatal untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan, terus menggoda kamu, agar kamu selalu bekerja keras untuk mendapatkannya. Selain itu, ‘Wishlist’ akan menahan nafsu kamu terlebih dahulu agar bisa mengatur keuangan kamu mana yang lebih diprioritaskan terlebih dahulu, tenang saja, ‘Wishlist’ tidak akan pernah melupakan keinginan kamu.

Jika kamu ingin mendapatkan sesuatu dari internet yang bersifat hak cipta atau barang. Jika belum mampu, jangan terlalu nafsu dan mencari hal alternatif lainnya, yang bisa merugi pihak penjual atau pemilik karya. Cobalah minta bantuan dari ‘Wishlist’, siapa tahu fitur ini membantu kamu untuk ke depannya.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.