Search and Hit Enter

Permasalahan Dunia Sekarang adalah Kurangnya Rasa Empati

Apakah ini pertanda dunia tidak mengikuti prinsipnya lagi?, apakah dunia hanya tergantung kepada sebuah hal — hal yang viral. Mementingkan diri sendiri, egois untuk tidak menerima keterbukaan orang berbagi ilmu, pengalaman dan lainnya. Inilah kesadaran yang ternyata telah memudar di era persaingan ini, rasa empati.


Rasa empati sudah mencakupi pertanyaan semua, dari produktifitas, kepedulian sosial dan mencari kesempatan baru. Pandangan ku di sini, di mana teknologi sudah mendominasi pikiran dan aktifitas kita, yang sekarang kita cari tahu sekarang adalah bagaimana teknologi menjawab pertanyaan terhadap kemanusiaan kita. Era modernisasi dunia pendidikan sekarang mengesampingkan teknologi menjadi solusi terbaik untuk memberikan pengalaman baru terhadap pelajarnya, hal yang sangat sederhana penyampaiannya, namun efek samping tersebut memberikan pertanyaan lainnya, ‘apakah teknologi sudah siap memberikan kuantitas mental terhadap pelajarnya, untuk tidak sekedar belajar dari ilmu namun bagaimana cara bertahan hidup’.

Kita tidak butuh lagi yang namanya teknologi bermutakhir, namun teknologi yang cukup sudah menyesuaikan apa yang kita butuhkan. Buku favoritku minggu ini ‘Reclaiming Conversation’ dari penulis Sherry Turkle banyak menkritik era Smartphone telah mendefinisikan kehidupan normal baru terhadap komunikasi, ini tidak boleh terjadi menurutnya, apalagi untuk generasi ke depan. Apakah, komunikasi kita hanya tergantung terhadap layar dan kurang berempati terhadap hal — hal sekitar yang seharusnya menjadi prioritas mereka.

Jika saja kita tidak ada prinsip untuk masa ke depannya. Bagaimana kita menerapkan produktifitas terhadap kehidupan kita, percuma Internet yang memberikan banyak informasi bermanfaat dan motivasi, ternyata kita hanya sebagai penikmat informasi yang tidak memiliki konsisten, tidak berpendirian, hingga berdampak buruk. Internet bersifat netral, hanya sebagai tempat informasi semua.


Aku sering memperhatikan permasalahan ekonomi dunia, kita diambang banyak ketidakstabilan, karena teknologi kini tidak lagi menjadi bagian fondasi kehidupan kita, bahkan ada inisiatif untuk menghancurkan satu sama lain karena kompetisi begitu ketat. Ide bukan lagi hal yang diperdalam dan mengorbankan waktu untuk menemukan terobosan baru, karena kekhawatiran terhadap dominasi. Kreatifitas sulit untuk

Hanya kita yang harus bisa mengontrol untuk mengejar ambisi kita, membuat perbedaan, menerima kritikan dengan baik. Ini masa di mana kita sebagai generasi muda selalu memanfaatkan teknologi untuk menerima hal — hal instan, mencari efektifitas, cara sederhana untuk menemukan kesenangan, namun tantangan dunia sekarang begitu kompleksitas yang harus dihadapi dengan perjuangan berpikir, berpikir dan berpikir untuk menemukan ide baru. Dunia memang penuh dengan pertanyaan.

Rasa empati satu — satunya tempat kita untuk belajar, terbuka untuk menemukan inspirasi, mendengarkan yang sedang membutuhkan, berinovasi bersama dan menikmati hasilnya bersama.

Rasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang sedang mengejar ambisi-nya, penuh dengan ketidakpastian dalam hatinya apakah bakal sukses atau gagal, mentalnya selalu diperhitungkan, kadang mengorbankan waktu untuk tidak bersenang — senang bersama teman — temannya, berpendirian kuat dan selalu percaya diri dengan passion-nya.

No Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: