Search and Hit Enter

Startup, Bukan Sekedar Berilusi

Dari yang kecil terlebih dahulu hingga menjadi besar nantinya dan bukan menjadi kecil melulu.



Bisnis teknologi sedikit berguncang ke bawah, terutama untuk para pemain digital. Kenapa demikian?, ada kecanggungan di mana mereka mungkin menerapkan ide terbaiknya dalam hal inovasi, walaupun mulai kelihatan manfaatnya, sekarang pertanyaan besarnya adalah bagaimana mereka memanfaatkan pemanfaatan inovasi tersebut?

Dunia ku selalu memandang inovasi terkini teknologi, hingga analisa untuk kesempatan ke depan dari pandangan bisnis, namun dunia seni seperti Media Art dan eksploritas desain juga demikian. Menikmati teknologi sebagai hal — hal eksperimental dan ketidaksempurnaan karyaku sendiri. Membuat ku ingin terus belajar hal — hal baru. Namun, hal ini tidak menunjukkan ketertarikan ku dengan dunia Startup.

Karena aku selalu menanyakan diriku sendiri dan merasakan hal aneh, seolah — olah aku memprediksi Startup akan selamanya menjadi Startup, jika tidak bermain lebih dalam lagi penerapannya, akan terasa datar performa bila belum bisa menuju ke tingkat berikut permainan bisnisnya. Akan seperti toko kecil di antara toko — toko kecil lainnya dalam suatu Pasar, bukan gedung — gedung tinggi di kalangan elit. Anggap saja pasar imajinatif ini dunia digital, rata — rata hanya seperti menjual pernak — pernik, sembako dan kebutuhan pokok lainnya. Kalau untuk gedung — gedung tinggi tadi, mereka menjual produk — produk di kalangan pilihan, hanya teman bisnis dengan negosiasi berkala, orang — orang Startup setidaknya masih bisa bermimpi untuk meraih seperti mereka. Inilah hal aneh yang ku rasakan dari dunia Startup.

Penghuni gedung — gedung demikian, aku bisa mencontohkan perusahaan seerti Mercedes-Benz, Boeing, Rolls Royce atau Pertamina. Tantangannya adalah?, Mereka tidak berpikir seperti Startup, itulah kenapa tingkat mereka sudah jauh lebih dari Startup, tapi cara mereka memulainya seperti Startup namun tahap bertahan dan mengembangkan performa bisnis mereka tidak berlaku lagi dengan Startup.

Okelah, buat mereka Startup bersifat komunitas, non-profit, open source dan lainnya, itu tidak masalah bagi yang tidak ingin menjadikannya sebagai mesin uang atau belum berekspetasi untuk menjadi lebih besar. Selain bidang E-Commerce, jangan terlalu termakan dengan cerita kesuksesan Facebook, Google, Amazon, Uber bahkan Gojek, mereka sudah memegang kunci pintu — pintu potensi bisnis digital. Jadi, aku merasa bisnis digital bukan hal yang spesial lagi. Dan hal lainnya, E-Commerce memang agak sedikit menjanjikan dalam hal ini, tapi aku menyadari bukan lagi sebuah Inovasi dari dunia digital, itu sudah menjadi ide yang baru saja disambut hangat dari segudang dunia bisnis.

Visi Jack Ma, pemilik Alibaba Untuk Masa Depannya – Source: Bloomberg Gadfly [https://www.bloomberg.com/gadfly/articles/2016-11-01/jack-ma-goes-to-hollywood]

Jack Ma, pendiri dan pemilik Alibaba Group lebih yakin membuat perusahaan Film seperti Hollywood, daripada membangun Startup baru. Bahkan dia perlu berpikir dua kali untuk maraknya inovasi Virtual Reality. Ya, karena dia masih melihat ketidakjelasan bagaimana menghasilkan uang dengan kecanggihan teknologi sekarang untuk aspek bisnis

Kembali ke cerita imajinasi pasar digital tadi. Ternyata ada toko yang sedang naik daun, bahkan sudah membangun gedung dan pabrik sendiri, toko — toko tersebut ternyata beda dari toko yang lain, membuat inovasi dengan penuh kejutan, bukan disadari apa yang orang butuhkan, akan tetapi inovasi diluar pemikiran pasar dan orang — orang sekitarnya, ketika itulah toko tersebut menjadi pusat perhatian banyak orang, bahkan konsumennya tergila — gila menggunakannya, karena mereka menganggap sebagai pengalaman baru.

Tidak semuanya tergantung dari referensi potensial, relativitas pasar ternyata bisa membangun kategori baru dan justru ingin menikmati keunikan baru. Katakan GoPro, Oculus atau perusahaan yang sedang asyik membangun Drone. Ini baru namanya kejutan spesial dari kehidupan Startup, bukan karena mereka memiliki originalitas ide, mereka ingin mencoba lain daripada yang lain. Dan mereka sudah membangun kunci dan pintu sendiri, sekalipun mereka membangun potensi baru, bahkan pemain besar merasa minder dan ingin ikut serta dalam kompetisi. Selain itu, jelas bagaimana performa bisnisnya berjalan.

GoPro jelas mesin uangnya berjalan dari menjual kamera, Oculus jelas menjual alat VR. Pemain Startup harus tergantung dengan diri sendiri, seperti seorang seniman, seniman memiliki prinsip sendiri. Jangan memikirkan ego, kompetisi atau menang kalah dari permainan. Karena itu yang membuat kita destruktif atas konsistensi perjuangan Startup, sehingga apa yang mereka kembangkan menjadi tidak jelas dan akhirnya terus memiliki posisi Startup.

Begini, daripada bingung kenapa Startup punya dinamika tidak menjanjikan untuk masa depan jangka panjangnya, semua berawal dari keyakinan terhadap hal — hal sekitar atas persepsi ide, mungkin saja dari pembicaraan orang — orang sekitar, atau sensitivitas karena ada yang melenceng dan seharusnya memiliki solusi dari pandangan visi kita. Bukankah begitu, dunia Startup?, hal kecil yang tidak dibesar-besarkan akan tidak sengaja menjadi dampak yang besar. Pandangan lain pun, ilusi yang aku maksud, tentu sebagai tahap proses yang panjang untuk membangun sedikit demi sedikit menjadi nyata dalam berbisnis antara saling memberi untuk menguntungkan sesama.

Jika tidak, mendingan membangun Startup menjual tempat tidur yang jelas produknya dijual dan keuntungan bagaimana daripada Startup yang menjanjikan dunia digital sebagai fondasi untuk menciptakan hal inovatif, tapi sampai sekarang tidak bisa memberikan keuntungan balik.

No Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: