Ketika Kenyamanan Telingaku Mendengarkan Musik Jazz dan Klasik

“Jazz is not a what, It is a how.” — Bill Evans

Maksud dari kenyamanan telingaku, terbiasa mendengar musik bertempo cepat serta berulang — ulang, terutama musik EDM dan K-Pop, selama ini daftar lagu ku hanya dari kedua genre ini dan kebanyakan juga sekedar musik instrumen dan beberapa indie untuk yang EDM dan K-Pop kebanyakan dari girlband dan Hip — Hop atau EXO.

Transisi ini, ketika aku sedang mulai asyik dengan musik dari beberapa soundtrack film. Waktu itu aku dengar beberapa sekilas dari soundtrack film Spectre di iTunes, oleh komposer Thomas Newman dan salah satu lagu favorit, Los Muetos Vivos Estan, Secret Room & Vauxhall Bridge . Dari dulu memang senang dengan musik tanpa vokal atau instrumental dan jenis soundtrack seperti ini menjadi bahan ku untuk tetap fokus. Itu membuatku bergairah untuk mencari komposer yang lainnya. Setelah itu, kali ini dari Film The Intern, oleh komposer Theodore Shapiro, hingga aku membeli tiga lagu dari satu album tersebut, San Fransisco, judul lagu ini kadang menjadi temanku untuk produktif. Soundtrack lainnya dari film Inception, berjudul Time oleh Hans Zimmer, ini dikabarkan soundtrack terbaik tahun 2010. Dan yang terakhir, Bridget Jones’s Baby, bahkan aku lebih tertarik mendengar berberapa soundtrack-nya daripada menonton film ini, oleh komposer Craig Armstrong berjudul Wedding and Race to Mark’s Flat.

Ennio Morricone

Eksplorasi ku mencari para musisi klasik dan orkestra ini berlanjut hingga aku sedang asyik mendengar komposer terkenal dari Italia, Ennio Morricone, favorit Metti una sera a cena. Selain itu datang dari Jepang, komposer Ryuichi Sakamoto, favorit Rain dan Merry Christmas Mr. Lawrence dari album 1996. Sebenarnya bukan pembiasaan baru dari hal ini, karena memang dari dulu aku tidak konsisten soal favorit musik, karena musik klasik seperti ini seolah — olah orang yang suka mendengarkannya memiliki gaya artistik sendiri. Mungkin manfaat yang bisa aku ambil, aku mudah fokus dan selera musik ku didaur ulang kembali.

Ketika musik klasik memiliki ketegangan sendiri, musik jazz suatu musik yang tidak bisa diprediksi proses relaksasinya. Karena musik jazz memiliki suatu beragam gaya atau selera yang berbeda, aku lebih menikmati dari instrumen piano dan itu aku memulai petualangan tersebut dari mendengarkan karya oleh Bill Evans dan mungkin ini akan menjadi favorit musisi Jazz utamaku, favorit Danny Boy dan Lover Man dari album Time Remembered dari tahun 1963, musisi abad ke 20 dengan suasana malam kota New York. Lagu — lagunya cocok untuk teman belajar. Sebelumnya aku bingung harus mulai dari mana untuk mendengarkan genre yang diluar konteks popularitas internet sekarang, untung ada kurator bernama Verve50 sebagai referensi pertamaku membagikan lagu — lagu terbaik di setiap anak genre dari Jazz, favorit Late Night Jazz dan Jazz Piano koleksi. Jazz dari grup band juga seru didengar, seperti Accoustic Alchemy dengan kombinasi elemen Funk dan gitaris Lee Ritenour dengan lagu terbaik, Night Rhythms.

Musik Jazz bagiku melodinya sedikit kompleks untuk diingat, walaupun aku sudah mendengarkan beberapa kali dari suatu album, aku masih belum bisa mengingatnya, apalagi mencocokkan dengan judul lagu tersebut.

Dan berkat streaming musik zaman sekarang, aku bisa menemukan para seniman musik klasik dan Jazz di luar sana yang memiliki pengaruh kuat di genre mereka. Album dari Kamasi Washington, temannya Flying Lotus, boleh juga sebagai wishlist untuk didengar. Mengganti selera musik adalah salah satu petualangan sebagai penemuan kreativitasku, namun belum sepenuhnya itu terjadi.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.