Tidak Semua ‘Digital Marketing’ Berita Bahagia

Data memang tidak pernah bohong.

Perkenalkan terlebih dahulu sosok yang telah membawa pengaruh untuk menulis ini, Bob Hoffman, seorang guru Advertising dan Marketing dari San Fransisco, sudah bergelut di dunia ini dari pengalamannya 5 tahun lebih. Semua orang advertising dari seluruh dunia belajar banyak dari dia, Menemukan sosoknya berasal dari surat harian terkenalnya dan kunjungan blog pribadi dia.

Waktu pertama kali membaca setiap surat harian Bob dari website pribadinya sangat berbeda dengan orang advertising yang sering aku kunjungi blognya dengan berita bahagia mengenai pemanfaatan sosial media, internet bisnis terhadap dampak bisnis kita.

Dan Bob Hoffman, satu — satunya sosok ambisius ketidaksetujuan bahwa digital marketing atau digital advertising terbukti membawa dampak positif.

Ini beberapa yang aku petik dari pengalaman dan pelajaran dari dia.

  1. 4 atau 5 tahun lalu, para innovator teknologi memprediksi media televisi akan mengalami keturunan, karena ekspetasi inovasi yang dikembangkan internet, seperti streaming dari Youtube misalnya, akan memberikan tinggi dalam waktu jangka pendek. Sayangnya prediksi itu tidak berlaku di fakta sekarang. Televisi masih menjadi pilihan utama pemirsa untuk menyisakan kesehariannya, bahkan media radio juga dibilang tinggi untuk menjadi bagian mengonsumsi informasi. Berarti, media televisi masih segar untuk permainan periklanan.
  2. Memasang iklan di sosial media, salah satu implikasi dari Digital Marketing saat ini. Facebook bisa saja menambahkan angka ‘like’, banyak juga yang memberikan respon terhadap positif kita. Sekarang pertanyaannya, apakah benar pengguna Facebook ini melihat iklannya?, atau ternyata bukan manusia?, atau lagi hanya sekedar lewat, terus tinggal main respon saja. Atau, kita sendiri pernah tidak melihat iklan sendiri yang dipasang sedang berjalan?. Dan pertanyaan terakhir, apakah mereka benar — benar akan membeli yang kita tawarkan di Facebook, walaupun angka impresi-nya terbukti menakjubkan.
  3. Dari data mengenai bagaimana iklan internet berinteraksi, Mr. Bob Hoffman melugaskan dalam 10 ribu iklan ditampilkan, hanya rata — rata 6 iklan berinteraksi.
  4. 80 persen pengguna internet tahu mengenai pemblokir iklan internet. Dan waktu pengguna memperhatikan iklan, rata — rata sekedar 1 detik. Ya, sosial media cara kerjanya, tinggal scroll.
  5. “Email, masih 40 kali lebih terbaik dan efektif untuk memperoleh pelanggan baru dari apa yang sosial media tawarkan” — Mckinsey & Co., perusahaan konsultan bisnis.
Credit: Bob Hoffman

Aku mulai percaya apa yang Bob Hoffman sampaikan, karena ini berkaitan dengan pengalaman Facebook Page blog ini, ketika aku menginvenstasikan ratusan ribu rupiah untuk pasang iklan sebagai percobaan, angka impresi-nya memang tinggi signfikan dan aku senang atas hal ini, Facebook Page Kicikku juga menambah angka ‘Like’.

Cuma, yang aku bingung dan sedikit khawatir adalah orang — orang yang merespon blog ku rata — rata pengguna yang kelihatannya tidak sesuai dengan yang aku profiling atau ditargetkan secara spesifik. Mereka punya profil seperti berstatus spam dan pekerjaannya jika dilihat, ‘PT. Cinta Abadi’ atau ‘PT Mencari Cinta Sejati’. Ini tidak sesuai dengan harapan ku, terus setelah melihat analisa data blog ini, tidak ada angka kepastian menunjukkan bahwa yang mengunjungi blog ku sedang membacanya

Berkat pengalaman ini, aku lebih fokus mempromosikan blog ku di twitter pribadi dan memilih menghapus Facebook Page Kicikku, berkat tidak ada respon kemanusiaan yang datang.


Orang periklanan haruslah kontroversial, Trouble Maker, suka memberi kejutan dan kebebasan kreatif, bukan kreatif tergantung angka dan data. Masukan penting yang aku simpulkan dari ilmu dunia periklanan oleh Bob Hoffman.

Padahal dulu, setelah menulis dua artikel tentang cara membuat Facebook Page dan mempromosikannya, ingin melanjutkannya lagi beberapa bagaimana manfaat digital marketing terhadap bisnis, dan jika aku ingin melanjutkannya, tulisan berikutnya mungkin lebih menantang, sejak aku membaca blog dari Bob Hoffman.

Data memang tidak pernah bohong, jika sudah mulai bermain dengan angka, hasilnya pasti selalu angka, tidak peduli apa kondisinya. Dari penerapan ini, apa pengaruh sebenarnya dibalik permainan angka tersebut, butuh penerapan, layaknya bahasa Matematika, yang penuh misteri jika diterapkan ke kehidupan sehari — sehari.

Dunia digital sudah bukan tebakan lagi prediksinya, semuanya sudah di sekitar kita dari awal internet. Semua yang ditawarkan oleh dunia digital, begitu cepat merespon, karena awal pemikiran kita ketika teknologi berkontribusi terhadap inovasi, pasti ini menjanjikan dan menyelesaikan ribuan masalah, apalagi bercampur dengan identitas bisnis, itu berkali lipat kepercayaannya.

Padahal semuanya, belum dikatakan sebagai komersial, betul yang dikatakan oleh Mark Zuckerberg mengenai respon dari berbagai kritikan untuk Facebook, “Sistem kami masih jauh dari sempurna, tapi kami selalu berusaha untuk menjadi terbaik”. Karena teknologi adalah sifat eksperimental yang tidak pernah menyerah untuk beradaptasi dengan aktivitas kita.

Digital Marketing, Digital Advertising beserta strategis bisnis online termasuk adaptasi internet. Internet memiliki relativitas begitu tinggi, jawaban untuk menjawab pertanyaan ‘apa dampaknya?’, masih menjadi petualangan para inovator dari seluruh dunia. Seperti seniman, innovator butuh kebebasan untuk berkontribusi karyanya.


Catatan & Referensi:

  1. Surat harian oleh Bob Hoffman, http://bobhoffmanswebsite.com/newsletters/
  2. Blog pribadi oleh Bob Hoffman, http://adcontrarian.blogspot.co.id/
  3. “Tingginya angka interaksi iklan, bukanlah dari manusia”, Bloomberg, 2015, http://www.bloomberg.com/features/2015-click-fraud/
  4. Grafik antara ekspetasi dan realitas untuk perbandingan Media Televisi media streaming dan media digital lainnya, Bob Hoffman, http://createsend.com/t/d-0DD10F49B32DFD4E
  5. “Konsumsi televisi masih jauh tingginya dibandingkan media lainnya di tahun 2014”, Bob Hoffman, http://bobhoffmanswebsite.com/wp-content/uploads/2015/06/YouTube-Or-Televsion.pdf
  6. “Kesimpulan data periklanan digital dari Bob Hoffman”, Bob Hoffman, http://adcontrarian.blogspot.co.id/2016/10/digital-data-denial.html
  7. “Branding in the Age of Social Media”, Harvard Business Review, https://hbr.org/2016/03/branding-in-the-age-of-social-media
  8. “Tidak ada timbal balik, tinggi angka impresi dan interaksi iklan digital masih belum bisa memberi dampak positif bisnisnya secara jelas”, AdAge, 2016, http://adage.com/article/agency-news/marketers-spending-social-lack-results/302701/
  9. “Fakta buruk dan baik mengenai Digital Marketing, Sayangnya Fakta Baiknya kebanyakan hanya bersifat angka impresi”, Hubspot, http://blog.hubspot.com/marketing/horrifying-display-advertising-stats#sm.000s5wfy9kx3cvk102f22anbqrwaa
  10. “Cara Memasang Pemblokir Iklan di Web Browser”, etulisan, http://etulisan.com/cara-blokir-iklan-di-browser-google-chrome-mozilla-firefox-dan-internet-explorer/