Search and Hit Enter

Kenapa Diriku Menulis Blog?

Menulis blog, salah satu caraku bermain main dengan ide.



Menulis blog seperti api kecil perlahan lahan menguasai daerah sekitar objeknya menjadi panas atau istilah gampang ‘Sedikit demi sedikit, lama — lama menjadi bukit’. Ini adalah masalah waktu, di mana kita mencari prinsip sebuah petualangan, prinsip yang terhubung dengan kegemaran, prinsip untuk belajar banyak hal. Inilah isi dari ruangan menulis Blog.

Gayaku sekarang kenapa diriku menulis blog, bagaimana mengeksplorasi imajinasi ku dan bermain main dengan ide. Walaupun misalnya, ada sebuah ide yang ingin aku kerjakan tapi tidak memiliki bahannya, inisiatifnya bukan itu satu — satunya cara, aku bisa terapkan ide tersebut dalam cerita tulisan blog.

Api kecil ini tidak bisa sekedar menjadi api besar, jika api ini tidak memiliki inisiatif sendiri untuk mengambil energinya, juga ada yang malas, api kecil harus belajar ribuan cara untuk menarik perhatian energi akan dominannya menjadi besar, walaupun perjuangannya tidak didasari atas hal apa pun.

Bahkan sekalipun tidak memiliki ide, aku menulis apa saja yang lewat dari pikiran ini tanpa maksud lagi memperhatikan gaya tulisan, Lama kelamaan dari suatu titik di setiap tulisan ada pertanyaan yang bisa ku kembangkan ide baru lagi.

Perasaan penuh ketidakpastian, sering mengkritik diri sendiri jika tidak percaya, perfeksionis kadang meragukan ku untuk memberikan lebih terbaik dan mencoba berpikir bagaimana pembaca akan mendapatkan dampaknya. Hingga sebenarnya tidak ada yang baca tulisan blog kamu, namun konsistensi ku terus mengujiku untuk tetap berkarya.

Di sini aku seperti merekam imajinasi sendiri dan rekaman tersebut dipublikasikan lewat internet, sehingga orang mungkin akan memperhatikan, dalam pengalaman dan juga eksplorasi diri. Walaupun bidang yang ku tuju teknologi dan desain, berkat tulisan blog ini saja, aku bisa menghubungkan pembelajaran lainnya, seperti menghubungkan dunia desain Fashion bersama teknologi.

Tentu bukanlah hal mudah dan waktu terus menghantui. Internet benar menjadikan kebanggaanku telah melahirkan budaya menulis blog dan internet juga musuhku atas produktivitas. Pengendalian diri dalam mengungkapkan ide harus diperhatikan lagi, terutama kualitas, kadang aku memarahi diriku sendiri, antara argumen waktu dan manajemenku ‘Kenapa aku harus membuat hal kecil ini dan menghabiskan waktu selama satu minggu?’. Perasaan ini bisa saja menjatuhkan ku, karena, tapi ini aku anggap menjadi perjalanan ambisi.

Hampir sama dengan seorang seniman, seniman memiliki dunia sendiri dan kebanyakan orang belum tentu berselera dunianya, seniman pun belum bisa mengendalikan emosi untuk mempertahankan dunianya dan buruknya diam — diam orang mengejek dunia seniman tersebut.

Blogger juga demikian, gila penyesuaiannya, belum tentu apa yang kita promosikan, bagikan, orang akan menikmatinya. Link yang diklik, apakah mereka penasaran atau sekedar lihat — lihat. Suasana seperti yang melayakkan dengan seniman, karena apa yang kita lakukan, itu bagian api — api kecil yang terus berusaha menjadi kobaran api besar, tanpa henti bereksperimen, kadang berhasil, dan juga kebanyakan gagal. Rasa takut ini lah jika dipilah blogger terus menantang dirinya, percaya dengan apa yang mereka buat, kepercayaan tersebut bisa saja menumbuhkan api besar, untuk dijadikan sebagai senjata memanaskan mimpi besar.

Ini berdasarkan apa yang ku dapatkan selama menulis blog, juga termasuk motivasi aku.

Ekspetasi blogger berperilaku seniman yang aku dapatkan terbilang sedikit, angka ‘sedikit’ ini justru tidak kelihatan, padahal sebenarnya banyak, mereka orang — orang terkenal yang sudah menulis buku, seniman, musisi, bahkan blogger yang tidak sama sekali mengharapkan imbalan dari internet.

Bagian lainnya dengan Blogger berangka ‘banyak’ justru ini lebih kelihatan terkenalnya, sekedar mengikuti cita rasa yang menggairahkan, sensasional, pengunjung dibikin penasaran, hingga orang bertahan di blog mereka dan melupakan prioritasnya. Kebanyakan berisi Pop Culture dan janji menggiurkan.

Semua bebas berkarya apa saja dan memperlihatkannya, tergantung pengunjung, pembaca memilih lebih lengket dengan bagian mana.

No Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: