Membolak balik kata ‘kreativitas’

Essay terbaru berjudul ‘Back to Question ‘What is this?’, sudah lama juga tidak menulis tentang desain’. Cara ku mengembangkan tulisan ini, karena perhatian ku juga terhadap kreativitas. Ada satu line di situ bertulis ‘What if creativity is in crisis?’ antara dua paragraf.

Kehebatan dari dunia modern sekarang adalah, kreativitas bisa dipelajari dengan mudah. Terutama buku — buku yang terus memperbaharui prinsip kreatif. Kemarin pun, aku membeli buku saku panduan berjudul The Art of Creative Thinking, oleh Rod Judkins.

Work on an idea constantly until it’s resolved. The minute we lose momentum, we lose the thread. Our inner critic awakens. We start doubting what we’re doing and energy levels drop. When it comes to creative execution, the key is to get moving — and keep moving.

Beberapa kutipan buku ini dari bagian berjudul ‘maintain momentum’. Bagian ini yang terus menjadi pikiran ku, karena ide punya nilai kondisinya, jika dari cara kita melakukan terhadapnya tidak serius, ide tersebut pun tidak akan serius, karena ide itu bisa saja menjadi energi atau motivasi, dan kebalikannya juga sebagai kritikan, sampai kita selesai mengeksekusinya.

Ini juga termasuk pembacaan kebiasaan, karena ketidaksadaranku terbaca dan aku menyadari apa yang ku lakukan dan ini suatu saat menjadi pikiran ku untuk produktivitas selanjutnya, bahkan membuatnya kelihatan sempurna. Mungkin di zaman berbeda dahulu, orang secara alamiah sebenarnya sudah berpikir kreatif, tapi karena cara aktivitas mereka melakukan sesuatu, belajar hal baru, yang membuat orang — orang menganggap itu kreatif.

Sekarang di era dunia digital ini, kita sudah mendapatkan banyak referensi mengenai ini, prinsip dan pemikiran yang dibudidayakan multitasking dan sempitnya ruangan waktu, apalagi kalau orang — orang di sekitar tidak mendukung, kreativitas seperti apa lagi yang harus diandalkan. That’s your challenge.