Pandangan Seorang Perempuan

Kuadrat ku tidak berhak menulis beginian, banyak keraguan bagaimana aku menjelaskan satuan pandangan seorang perempuan. Tapi ini hanya catatan kecil.

Sebagai laki — laki, suka berburu, mencari mangsa baru untuk menikmati setiap selera yang berbeda — beda. Itu adalah ekspetasi mental seorang laki – laki.

Sayangnya, perempuan yang selalu ku buru, sedikitnya memiliki rasa saling penasaran, sedikitnya sebuah cerita, terlalu kaku untuk emosional ku dan terlalu sensitif atas dasar pikiran gak menentu. Catatan kecil ini sengaja mengalah dengan kelemahan sebagai laki — laki punya pendirian. Kenapa pendirian?, hebatnya teman — temanku punya prinsip, cerita menarik dan ambisi kuat. Kelemahan tersebut seharusnya merefleksikan diriku bahwa petualangan berburu harusnya berlanjut, bukan lari dari konsistensi, Perempuan seperti putri dongeng di kebanyakan cerita fantasi, memang betul dibuat penasaran dengan petualangan seorang laki — laki. Laki laki ku seharusnya

Ternyata ini pun juga aku menyikapi nya dengan salah, petualangan yang ku jalani tidak semua perempuan bisa takluk dengan cerita yang ku bagikan. Kesalahan ku kenapa diri ku tertuju dengan sebagian perempuan tersebut, waktu hanya habis karena kelelahan ini. Perempuan, ternyata selama ini seharusnya mengingatkan laki — laki ku untuk terus berpetualang. Petualangan yang lebih seru, mengambil keputusan besar, serta masuk permainan ber-tantangan.


Terima kasih perempuan,

Kesempurnaan mu membuat ku belajar banyak hal, dari menahan nafsu, hingga meninggalkan yang seharusnya tidak ku kejar. Mengajari ku menetapkan pendirian, bukan terlalu banyak bicara hanya untuk memukau kamu. Cantik manis diri mu, adalah godaan yang selama ini menahan petualangan ku. Laki — laki ku seharusnya bukan punya rasa untuk memiliki kamu, tapi meraih dunia kecil ini.

Jujur, ini malu

Bahkan dibalik tulisan ini, kenapa diri ku baru menyadari hal ini semua, dan jika ingin mungungkapkan suara ku, ternyata asyiknya petulangan ku belum ada perempuan — perempuan di diri mu yang ingin berada di samping ku, ingin suatu debat yang ternyata membentuk sebuah kualitas jika menyatu.

Jika demikian, pertanyaan sederhana, apakah diri mu yang tidak memiliki apa — apa untuk saling mendengar atau seharusnya aku tidak menghampiri perempuan diri mu. Begitu penting, untuk tidak mencemaskan jika ini sebuah kegagalan.

Karena untuk melanjutkan perburuan ku, mangsa – mangsa ku yang lagi bertebaran.

Tapi setidaknya, aku sedang belajar kemampuan menghampiri mu layaknya seorang pangeran, bermain mata dengan mu, cara mendominasi pikiran diri mu dan mengelilingi pikiran dunia mu

Yang ku buru adalah, kuantitas dan kualitas ku untuk akhir petualangan ku nanti. Sebuah akhir yang menentukan kebahagiaan ku bersama putri seperti dirimu.

Leave a Reply