Failed It!: How to turn mistakes into ideas and other advice for successfully screwing up

Merasa gagal di tengah jalan, itu sudah pasti, sayangnya itu awal dari cerita perjuangan kamu, bahkan tanda — tanda menuju kemenangan untuk petualangan sendiri, terutama bidang kreativitas yang dipenuhi dengan rasa takut dan perfeksionis. Berakhir dan ditangisi terus menerus, menyesal dan bahkan menyerah, itu prinsip Seniman yang tidak bisa mengendalikan ego nya. Sayang sekali, jika artikel ini berhenti di sini karena merasa pesimis.

Kelihatan ada rahasia, jika tidak menyadarinya, dia mungkin terus bekerja keras membuat suatu karya, menikmati nya tanpa tiada akhir, walaupun perasaan nya di tangisi terus menerus, mempelajari hal baru, apakah itu kegagalan ataupun tidak, selalu membuat ketidakbatasan sesuatu, gali gali dan terus menggali, hingga jati diri terbangun kuat tanpa tiada akhir untuk berkarya.

Beruntung sesuai dengan harapan tersebut,

Kini rahasia terungkap di balik layar pemikiran kita dan buku ini menolong untuk membuka tirai layar tersebut, Failed It!: How to turn mistakes into ideas other advice for successfully screwing up.

Diperlihatkan oleh seniman bernama Erik Kessels, lama bidangnya di dunia seni dan desain, kini ia menyadari bahwa kegagalan ada kekuatan segala aspek dalam kreativitas diri kamu, bahkan anggap ini bukan sebagai kreativitas, cukup lakukan apa yang dihadapan kamu dan seharusnya orang menolak dengan apa yang kamu lakukan, padahal di lain waktu ada suatu titik betapa bangga nya dengan hal kecil tersebut nanti.

“But what if the mistakes that contribute to failure are actually early indications of success?”

Daripada tidak melakukan apa — apa, lebih baik menggali harta karun dengan tangan kosongmu sendiri. Seperti buku panduan, buku ini kelihatan menyinggung perjalanan mu dalam kondisi apa pun, tajam untuk bertahan, terutama profesi seniman dan desainer.

Aku pun tidak berhak menyebutnya profesi untuk buku ini, karena buku ini selalu mengingatkan seseorang yang masih belajar atau ‘amateur’ sebenarnya lebih mengejutkan dan menunjukkan kesempatan baru atas ide — ide baru, karena mereka tidak takut untuk bertindak atau berkorban, dibandingkan seorang professional yang dihimpun oleh perfeksionis, mengejar deadline, terlalu asyik dengan proses yang nyaman dengan dia, hingga masalah yang tidak terjadi bisa saja membuatnya terlalu serius mengerjakan nya.

Erik Kessels memberikan contoh yang cocok dengan motivasi nya, dunia Fotografi, menangkap momen kadang tidak bisa diprediksi, direncanakan dan relatif penuh kejutan, mungkin salah satu tantangannya.

Dia juga menyinggung pandangan teknologi menciptakan rasa baru instan di dunia seni, Photoshop dengan mudahnya memanipulasi foto, kebanyakan nya ingin mempercantik foto, hingga naturalitas nya hilang. Bahkan foto — foto di artikel ini, aku mengakui ini ditimpa dengan konsep filter sekarang. Sosial media mempermudah kita untuk mempamerkan karya bersama orang sekitar juga dunia, ini pertanda untuk berani dicap dislike, didampingi juga komen yang kadang pedas.

Sekarang, apabila seorang Fotografi punya pandangan yang tidak selalu mengikuti trend, berbalik arah dari kalangan dominan, di nikmati saja kondisi sekitarnya, bahkan tidak sengaja. Orang pastinya menganggap itu sebuah kegagalan, penolakan. Tatkala lama itu akan berakhir hingga orang menyadari ada pandangan baru di balik itu semua, Erik Kessels bisa saja menganggap Fotografi untuk pembelajaran ini, karena ada manipulasi tersendiri dan imajinasi tidak terbayangkan untuk langkah selanjutnya.

Sesuatu yang datang tiba — tiba, biasanya membawa keajaiban baru.


“These days it seems that everything, everywhere is the same. .. And it’s not just coffee shops and chain stores. It’s everything. The same doormats, shoes, plugs, condiments, coffee makers are everywhere.”

Kelihatannnya dunia sudah diciptakan sama semua, siapa yang memperdebatkannya, salah sendiri saling mengikuti ide orang lain, apalagi makan makanan cerita orang lain dengan kesuksesan nya tersendiri. Sekarang, ada tidak suatu titik yang ingin mencoba hal baru, bahkan mereka tidak takut untuk mengelabuinya, juga.

Perihalnya begini, orang percaya ide selalu membawa ketidakmungkinan menjadi mungkin, juga berpikir tidak ada yang tidak mungkin, namun proses manakah yang sudah bertahan hidup untuk melawan dominasi cerita sukses lainnya karena trendnya, untuk membangun generasi baru tempat ribuan cerita yang siap akan diikuti.

Hebatnya, budaya pikir kita kebanyakan, membawa keberhasilan seseorang dan mempelajari di sekitarnya, itu pengakuan halus bahwa kegagalan adalah ketidakpercayaan kita. Hebatnya, penyamaan mereka juga membawa hasil berkah untuknya dan terus — menerus dunia seni dan bisnis sudah menjadi tempat bosan, jika ide hanya dikucilkan di peternakan asing tanpa menyadari selalu lewat.

Bahkan kata — kata ini bisa membuat ku egois.