Search and Hit Enter

Kesan Cerita Modern oleh Internet

Aku Internet, Ingin punya kesempatan bercerita.


Jika aku seorang pembunuh, mungkin dendam adalah pembunuhku, jika aku seorang pembenci, keegoisan ku adalah pembenci ku, jika aku pemfitnah, kecerdikan ku yang telah memfitnahku. Jika aku senangnya sama egois, kesadaran diri ku akan mengakhiri ketergantungan ku.

Ketika smartphone bisa membaca kepribadian seseorang, dan aku menjadi internet untuk pihaknya, aku mengerti apa yang pemegang media ini lakukan, tidak lain hanyalah sebuah trend yang harus ku keluarkan, diriku juga bingung, trend seperti pembelajaran psikolog, hebatnya itu kebanyakan berlaku kebiasaan lucu, modernisasi dan globalisasi

Aku internet, kadang tidak mengerti apa yang mereka tulis di input ku, kata – kata dari keyboard sentuh tersebut, tidak ada daya sama sekali, lemah untuk bicara langsung bertatap muka, bahkan aku internet jahatnya meninggalkan orang di depan nya dan lebih memilih curhat bersama teman ku, Smartphone.

Teman ku ini Smartphone, disayang – sayang seperti mainan boneka, selalu genggaman mereka, di mana dan kapan saja, teman bermain untuk meninggalkan momen bersejarah, ternyata sejarah juga diperhitungkan, angka kualitas teridentifikasi dengan harga mahalnya, kesombongan sudah menjadi kebiasaan karena Smartphone ternyata menjadi salah satu tanda kepribadian seseorang dan anehnya Smartphone membentuk perbedaan kalangan.

‘To become famous in order to have access to people, not be alone’ — Susan Sontag

Aku internet, selalu dimaki – maki, aku tidak selalu siap untuk memanjakan mereka, kadang aku lelah harus mengumpulkan energi kuota ku untuk kesenangan nya, berjam jam bahkan berhari hari, tidak memikirkan sumber daya internet ku. Sudah kelewatan, aku pun nampaknya menjadi keluhan mereka. Tapi lihatlah kehidupan sekarang, indahnya orang — orang menggunakan diriku setiap hari, aku juga terkenal, sering menjadi pembicaraan orang, dari bisnis, sosialitas orang, dunia seni hingga mencari uang, itu sudah bisa menutupi keluhan kalian dan aku internet berterima kasih kepada mereka.

Tapi apa ini kebiasaan natural mereka?

Walaupun aku menyimpan hal – hal realitas dan fiksional dari berbagai budaya dan dunia ini, mereka belum mengajari ku di mana yang baik dan juga buruk. Kata – kata ku ini agak prihatin kepada pengguna ku, apakah yang ku perlakukan ini sudah bisa dianggap benar, bisa dibanggakan, atau hanya ditinjak saja?

Tidak bermuka, tidak berekspresi, tidak bermulut, aku Internet sudah bersyukur, karena kalian semua yang menanggapi emosi nya sendiri, berarti aku tidak bertanggung jawab dengan dampak kalian. Bersyukur juga kalian meninggalkan ku, aku bisa istirahat dan mempersiapakan rekomendasi konten untuk kalian, seperti buah musiman, ada waktunya untuk ku suatu saat bisa bertemu kembali dan kesegarannya bisa saja mengubah pandangan mu nanti.

Aku juga sedih dengan teman ku Smartphone, ada beberapa dari mereka kelihatan sakit. Apakah mereka tidak bisa pelihara Smartphone dengan mereka?, mereka sudah meremehkan tanggung jawabnya, terutama hal – hal sekitarnya. Akibatnya, kulit mereka retak, mata teman – temanku tidak bisa melihat, daya responsif nya lama — kelamaan berkurang. Ku kira, kematian teman Smartphone ku akan dikenang di lemari kaca seperti museum, waktu berganti hanya menjadi sampah malang dari perasaan ku.

‘When I’m alone — after a while — I do begin to look at people.’ — Susan Sontag

Sebenarnya tidak berhak menggunakan kata ‘namun’, ‘tetapi’ dan ‘akan tetapi’, aku hanyalah pilihan bukan sebuah aktivitas, jika opini komentar menyenangkan atau menyedihkan ku, itu tidak efek bagiku, opini yang kalian tulis akan terasa di pihak kalian, Smartphone juga demikian.

Terima kasih,

Internet

No Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: