Sebuah Hadiah dari Seorang Pedagang

Tidak lain tidak bukan hanya inovasi sederhana

 

Kadang menyenangkan, kadang menikmati, kadang frustrasi. Perlahan — lahan waktu terus — menerus menunggu di depan sungai mengalir tiada henti, perahu kecil antara pemilik dan calon pelanggan kadang menyapa, hari demi hari hanya menikmati cerminan ini, sambil memikirkan apakah perahu — perahu tersebut tertarik dengan apa yang mereka bawa, namun profesi mereka nampak disatukan emosinya dalam keadaan apa pun, hanya saja bertahan atau tidak mungkin di lain cerita,

Itulah seorang merchant, pedagang. Mengasumsikan sungai dan perahu kecil ditemani para petualang dari seluruh dunia untuk menikmati kota sekitarnya, inspirasi dari kota Venice, atau judul karya Shakespeare, The Merchant of Venice.

Mungkin saja seorang merchant itu juga berinovasi, terutama mereka yang ingin menarik perhatian calon pelanggan, berawal dari sebuah senyuman hingga berakhir meninggalkan uang untuk Merchant, karena hadiah. Berhasil ekspetasi tersebut, kebanggan mereka benar tidak diperjual belikan.

Jauh dari perantara dunia bisnis, seorang merchant punya kegemaran, sejarah, kualitas, kuantitas bahkan seni nya. Hanya berdiri di depan sungai berhari — hari karena menunggu pelanggan singgah mengalir ke pinggir, mungkin itu sebenarnya pekerjaan seni.

Pertanyaan kecilnya ‘apa yang mereka pikirkan?’, pedagang bukan sekedar jual beli, mencari untung rugi bukan. Lihat bagaimana sejarah menjawab pertanyaan tersebut, aku senang sekali bagaimana pedagang memberikan hadiah tersebut, sebuah inovasi, isinya kompleks, ternyata setelah dibuka, hanya ingin berbagi senyuman.

Ternyata itu hasil seni dari seorang pedagang, berbagi senyuman. Aku mengatakannya sebuah inovasi, bisa saja pembeli kembali lagi ke mereka, inovasi berkala panjang, lama kelamaan lahir sebuah komunikasi, saling dekat, berbagi pengalaman, mulai ada rasa empati, mulai nyaman untuk bernegosiasi.

Baru pernah merasakan pengalaman ini, selama ini aku melihat Merchant diremehkan prosesnya, sekedar beli dan jual, berkunjung ke mana pun, ternyata ini enterpreneur yang abadi, tidak pernah habisnya. Pengembangan inovasi mereka hanyalah berbagi senyuman antara saling beri hadiah, otomatis bukan sebuah hadiah bisa menghasilkan ekspresi positif ini, jika bukan hadiah namanya berarti inovasi itu belum berhasil didapatkan

Itulah kenapa pedagang dengan sejarah tiga bahkan sampai lima generasi tidak ada matinya, kepribadian budaya yang telah diangkat puluhan tahun berhasil ditegakkan, hingga pedagang lain terinspirasi dengan sejarahnya.

Terutama bidang kuliner, semangatnya ingin melihat makanan sendiri dinikmati oleh orang — orang asing, kaya karena bisa menguasai lidah orang asing setelah kepercayaan datang, ketika pelanggan masuk ke pintu toko Merchant tersebut. Hingga dimanjakan sebelum pelanggan membuka pintu untuk keluar.

Toko buku dimana menyediakan ribuan inspirasi dan ide, pengunjung datang dengan ekspresi penasaran, si Merchant juga penasaran ide apa yang mereka cari, hingga buku yang dibeli bisa saja menemukan jati pengunjung, Merchant mengerti pilihan buku tersebut menjelaskan kepribadian pengunjung. Proses dimana seharusnya tidak terjadi, mengingatkan sesuatu. Ada suatu interaksi sosial.


Aku melihat media internet freunde von freunden juga membagikan keseruan para Merchant dari berbagai budaya.

Restoran kecil seni masakan rumah budaya Thailand di Berlin – http://www.freundevonfreunden.com/interviews/kin-dee-restaurant-behind-the-scenes-berlin-dalad-kambhu/

Penulis Craig Walzer membangun toko buku kecil di suatu pulau — http://www.freundevonfreunden.com/features/author-craig-walzer-runs-the-worlds-most-beautiful-bookshop-on-a-small-greek-island-in-the-middle-of-the-aegean-sea/

Toko buku yang mengingatkan kembali penulis — penulis perempuan terlupakan juga sekaligus penerbit independen — http://www.freundevonfreunden.com/journal/discovering-lost-stories-with-londons-persephone-books/

[Daftar link ini akan diperbaharui kembali]

Asyik melihat gambarnya dari link tertera, kesederhanaan mereka cukup terbentuk untuk menjalani kehidupan antara passion dan kegembiraan, kerja keras mereka tidak melihat potensi ke depannya gimana, potensi baru yang telah terbayar oleh kerja keras.


Aku harap pandangan ku terhadap inovasi beserta teman eratnya teknologi, bisa terinspirasi pengalaman saling beri minta hadiah, dengan berbagi senyum, layaknya bagaimana pelanggan menikmati rasa buah manis ketika merchant buah tersebut jujur dengan penawarannya. Itulah kesederhaan dari pedagang merchant.

Desain secara natural.

Also available draft on English

Leave a Reply