Ketika Passion ku Kelihatan Aneh

Di depan orang — orang

Kumpulan foto — foto ini telah menjadi bagian pengalaman ku di bidang fotografi, berawal dari membuat Instagram, bingung apa yang mau diberi kontennya apa, dari foto — foto ku, aku bisa mengambil portrait orang — orang yang berada di sekitar momen ku. Sayangnya Instagram harus diberhentikan dulu, menyangkut aplikasinya sedikit bermasalah di hape ku, berkat Instagram Stories.

Tapi kelihatannya lebih bermakna upload di blog sendiri.

Sayangnya tidak mudah, emosi ekspresi mereka tidak selalu sesuai dengan permintaan ku, setiap foto memiliki cerita panjang, tidak ada favorit, walaupun berseru bangga dengan hasil jepretan sendiri, tapi aku masih menganggapnya ketidaksempurnaan. Berawal dari mengambil momen profesi orang asyik mencari nafkah hingga jadi permainan baru.

Bangga bisa menjadi bagian dari setiap foto tersebut, dari cara ku menghampiri orang, ekspresi mereka yang secara mendadak ‘ko ada orang tiba — tiba minta foto’, gitu?, aneh kan. Mungkin aku rasa seni nya berada di dalam proses tersebut, lebih enak kalau orang — orang tersebut sempat berkenalan secara tidak sengaja, ataupun pekerjaan yang mereka lakukan.


Aku ingin menceritakannya satu per satu, mereka mungkin melihat ku tidak kelihatan profesionalitas, tapi setidaknya jiwa seni menyuruhku untuk mengambil resiko, berangsur — angsur, kebanyakan gagal dan sedikit berhasil.

Beberapa orang aku anggap gagal, kebanyakan wanita dengan dirinya cantik, menolak berfoto, aku pun harus juga menghadapi rasa malu. Kalau mengambil foto ibu tante sedang asyik di budaya nya kebanyakan dari mereka tidak masalah.

Bapak yang sedang asyik berjualan atau bekerja kadang juga menjadi masalah buat ku, tergantung emosi mereka sekarang, atau pekerjaan yang sedang mereka hadapi di waktu itu, bisa saja menganggu mereka. Tapi beruntung ketemu dengan bapak — bapak rasa malu, itu tanda mereka menerima kesempatan ku.

Salah satunya

Seperti foto seorang bapak asyiknya berjualan jam tangan dan jam dinding, mungkin momen nya selalu sama setiap hari, tidak bosan menurutku baginya, asalkan ada cerita dari orang — orang sekitar untuk didengar, waktu itu foto bapak berkacamata ini sangat erat dengan teman depan nya, ketika difoto ternyata rasa malu mendadak keluar, itu memungkinkan aku bisa lebih dominan dari bapak tersebut, atau bisa saja itu ekspresi sebenarnya dari dia.

Ada juga kegagalan yang aku pernah buat, bahkan sempat bernegosiasi. Waktu di Jakarta, di suatu hotel, seorang bapak seperti pemeran bisnis besar sedang menunggu seseorang, aku bertanya, dia seorang konsultan perusahaan minyak dan dia ingin bertemu seorang professor Indonesia yang sedang aktif mengajar di Amerika, ketika aku minta fotonya, dia justru memberiku ide, ‘kenapa ga ambil foto satpam di depan hotel situ?, itu lebih hidup untuk jadi momen foto kamu, mereka sedang bekerja, aku tidak ada seni — nya kalau di foto, duduk — duduk begini doang’. Iya betul juga, setelah aku tidak bisa berkata — kata lagi, memilih senyum.

Sangat absurd, tapi dia menerima dengan hobi aneh ku ini.

Hal lain juga yang paling asyik, waktu sedang dalam penerbangan, jelang pesawat mendarat, aku merasa ingin mengambil foto seorang pramugari dan bahkan aku sudah mengincar pramugari tersebut sebelum terbang, ketika menghampiri ruang belakang mereka setelah selesai dengan bagian pekerjaannya. Aku merasa ini pengalaman baru, pertama kali melihat kepribadian pramugari di luar pekerjaannya, bertemu dengan Ms. Nisa beserta teman — temannya. Mereka langung sahut ‘Kebetulan, dia sedang patah hati, kelihatannya terpojok’. Karena aku ingin mengambil fotonya, dia tetap professional dan senyum dirinya sudah percaya dengan foto ku nanti, sebelum siap di depan kamera, bahkan dia berkaca dulu serta perfeksionis.

Mereka pramugari mengerti apa yang ku lakukan, menganggapnya sebagai seni, bukan hal lain, itu cukup mengapresiasi proses yang ku lakukan, teman — temannya sempat berbincang dengan ku dan juga membandingkan hasil beberapa jepretan setelahnya.

Begitu panjang cerita masing — masing, selebihnya ada di Instagram ku sendiri.

 

 

Bicara unik, pedagang memang terbaik, suatu tempat tanpa pindah — pindah hanya waktu dan nasib mereka yang menentukan, itu cerita yang membuatku tidak bisa diprediksi kehidupan hari — harinya. Tidak lagi meremehkan mereka, mulai dari hal — hal kecil atas rasa penasaran ku dengan pedagang, menambah rasa empati dan pengalaman lain bersosial.

Karena foto — foto ini lah mengajarkan sesuatu dari berbagai bidang. Terutama fotografi, suatu pembelajaran dimana aku harus berani mengambil momen mereka dan seni nya melihat proses bagaimana kamu mendapatkannya. Itu pembelajaran ku di dunia fotografi.

Lama kelamaan melihatnya membuatku ingin bertemu mereka kembali, untungnya ada pilihan foto ini bisa mengingat bagaimana kita bertemu. Suatu kisah yang patut dikenang.

Aku senang mereka melihat ku terasa bingung dan aneh, ya walaupun pikiran ku juga mengatakan ini memang aneh, mengambil foto orang begitu saja. Tapi itu mengatakan, aku bisa menemukan prinsip untuk menjadi berbeda di depan mereka.

Mereka yang menolak, berarti mereka menganggap kegemaran ku ini kelihatan buruk, tidak terbuka, banyak terpengaruh karena dominan dan mereka menghalangi ku untuk berkarya.

Kalau ingin mencobanya, aku harap siapa saja menantang dirinya, selalu tanggap dengan baik dengan permintaan kita. Karya — karya seperti ini tidak asing lagi, namun setidaknya setiap fotografer harus mencoba pengalaman ini.

Aku sendiri menyayangkan berhenti untuk berburu foto kembali, tapi aku belum sensitif kembali untuk menemukan momen yang pas untuk cerita selanjutnya. Suatu saat pasti ada, agar kembali hidup budaya dan hal — hal sekitarnya.

 

Leave a Reply