Rasa Syukur Punya Proses Seni

Kondisi budaya kreativitas ku belum bisa menangkap dunia luar, terbatas, masih kecil ruangan. Hal demikian produktifitas dan proses, aku pun masih harus mencari — cari cerita bagus di internet, yang mendalam

/ — -

Apakah kepuasanku bisa terbayarkan tanpa internet?

Terbiasa berkarya dengan internet?, bukankah aku seharusnya gampang ketemu dengan orang berkarya juga

Tunggu dulu, data mengatakan lain tentang karya — karya, semua begitu cepat, aku khawatir apa yang ku buat akan terasa expired.

Data memperlihatkan talenta orang, mereka berkualitas, banyak disukai pengunjung nya, aku sangat iri, apa boleh buat, ini satu — satunya doronganku.

Aku ingin internet menjadi pasar seni ku, orang lain bisa membuktikannya, sudah banyak persembahan cerita kesuksesannya.

Ya, karya ku memiliki jalan lain, aku menganggapnya ini unik, tapi tanggung jawab data untuk membantuku, bisakah satu dengan popularitas sekarang?

Apa orang — orang mau rela mengeluarkan uangnya untuk menikmati karyaku, atau aku harus membagi nya gratis

Tapi, aku harus mengerti apa arti dibalik gratisnya inovasi internet?

Aku bisa berkoneksi dengan orang lain, lainnya…

Catatan khusunya, bagaimana aku bisa menghampiri orang — orang inspirasi, berkualitas, berkarya, terutama untuk saling berbagi

Gratis, berarti aku bisa belajar ilmu baru, belajar menulis, bercerita dengan orang lain, tunjukkan kemampuan kreativitas ku.

Soal bicara kreativitas, aku harus belajar cara mengapresiasi terlebih dahulu?

Siapa yang tidak mengerti?, bagaimana ide dipertajam menjadi suatu eksekusi

Tidak sekedar bicara dan merencanakan, internet mempertemukan proses desain

Proses seni mengejutkan, aku lebih senang menerapkannya susunan tulisan, lebih akrab

Enaknya menjadi visual, asyik dipandangi, membayangi aku semakin percaya diri bersama karyaku.

Itu bukan berarti untuk kepentinganku, walaupun emosional sendiri maunya gimana,

Tapi jalan tengah kadang harus berlawanan dengan kebutuhan waktu,

Apakah aku berlama — lama dengan proses seni, akan mengubah persepsi data mengenai industri seni sekarang.

Ternyata bukan sekedar mengapresiasi,

Kembali ke rasa syukur, pengembangan selama ini ku perjuangkan, masa ku putuskan, karena hanya populasi data mengganti pandangan seni

Syukur, karena aku sedikit demi sedikit menciptakan kuantitas, diimbangi kualitas,

Ya walaupun, kelemahan produktivitas sering bergeser, memberontak juga ada, buruknya kemunculan perfeksionis

Semakin mendalam, semakin besar tantangan, besar juga kompetisinya.

Dua tahun, tiga tahun, apalagi data yang ingin perlihatkan kepada ku, proses seni ini masih ditengah jembatan

Kembali teruji rasa syukur ini, Apakah aku tetap di sisi ini, atau mulai mengikuti cara — cara modern sekarang, hasilnya terbukti berhasil untuk sebagian besar.

Setelah rasa syukur tersebut, ternyata juga bagaimana aku menghadapi kegagalan, frustrasi dan pengeluaran tidak berujung pemasukan?

Apakah dominasi popularitas data bisa mengajariku untuk bangkit dari kegagalan, bahkan mengulanginya kembali?

Istimewa rasanya bisa punya motivasi tersebut,

Karena internet, dari manapun, keseruannya bisa menghantui rasa tidak konsisten, ingin melakukan sesuatu

Jangan sampai sifat itu sempat menggirukan ku dan instan,

Karena diriku tidak tahu, seberapa antiknya internet serta data bisa mengawetkan karya ku.

— / Letters of Idea