Selama Blogging, Belum Mengerti Apa Itu Niche?

Setiap pengunjung pergi ke blog kamu, 5 detik berlangsung pandangan pertama, pengunjung tahu ga siapa dirimu?

Aku harus kembali belajar dibalik kesuksesan menulis blog, ternyata itu niche. Barang kali, aku selalu bertanya ke diriku, sebenarnya jika pengunjung datang ke blog ku, ‘Pengunjung mengerti ga dengan apa yang ku persembahkan?’, ‘Pengunjung tahu ga apa keahlianku selama menulis blog?.’ Memang, selama ini aku menulis tidak konsisten, pindah kategori berubah total, antara menulis desain, hingga tutorial merekam suara vokal Ableton.

Ini yang harus ku perbaiki untuk Kicikku. Niche, tidak jauh dari rumus blogging oleh para pemuka digital sekarang ini. Bahkan hal kecil seperti, antara menulis bahasa Inggris dan Indonesia terus jadi dilemma. Kalau pilih Inggris, tulisan ku tidak akan nampak selama tiga tahun lebih jika tidak konsisten, belum tentu seluruh dunia bisa menggapainya. Enaknya lokal, aku bisa menyampaikan cerita ke jangkauan lebih spesifik, tapi apa pembaca bisa menikmati?

Kemarin beli buku tanpa mikir dua kali, karena judulnya mengajak ku untuk membelinya, inilah alasan ku menulis artikel ini, aku mengerti apa itu niche. Million Dollar Blog, oleh expert digital dari Inggris Natasha Courtenay-Smith.

Buku ini mengajari  blog adalah sebuah petualangan, walaupun kamu tidak merasa menguasai satu kemampuan tersebut, dengan blog, kita bisa merekam perkembangan kita serta melihat satu sisi antara kelebihan dan kelemahan kita.

Maybe you’re not yet an expert? Don’t panic. It’s perfectly possible to be perceived as a different type of expert with a blog that is more of an exploration or learning curve than a definitive statement by an establishment expert.

Selagi jutaan pertanyaan itu terus ada, bukan berarti kita tidak melakukan sesuatu kan. Niche, memang harus dipertaruhkan untuk mendapakan pesan clear, bahwa pengunjung tahu kita senang dengan ‘apa’ atau keahlian ‘apa. Sederhana bukan, berbeda dengan topik, Niche adalah anak dari bapak ibu keluarga topik.

Mrs. Natasha menaikkan emosi kata – katanya memotivasi ku,

It doesn’t matter what your niche is, if you have a blog, you have an audience, even if that audience is just one person! An Audience tends to be a one-way following that passively watches or reads.

Walaupun aku mengira blog ini seperti tidak konsisten dengan apa yang dibicarakan, tapi jika berhasil menemukan niche tersebut, pengunjung akan bolak – balik, terasa blog kita akan menjadi tempat refreshing bagi pembaca.

Mrs. Natasha juga mengingatkan kompetisi ada dimana – mana, tapi menurutnya setiap komitmen blogging dan perbedaan yang kamu buat selalu ada ruangan khusus kesempatan besar untuk ke depan nantinya..

However, you then need to differentiate your blog from theirs – remember, this is all part of defining your niche. So ask yourself the three ‘Whats’: 1) What can I learn from them? 2) What can I do differently from them? and 3) What are they not doing?

Apa yang kebiasaan baik kita sering lakukan, kemampuan kita, produktivitas kita. Bukan berusaha menjadi orang lain, karena melihat kesuksesan batinnya. Padahal mereka berawal dari personal branding, being you, jadi dirimu.

Kalau bloggingnya bicara musik, itu adalah topik, masih bersifat common. Kalau blogging-nya bahas musik Jazz, hampir mendekati niche. Lebih diperdalam lagi, membahas Smooth Jazz, itu baru namanya niche.

Berarti begini, tunjukkan dimana orang akan datang ke tempat kamu, konsultasi dengan kamu, karena percaya dengan keahlian mu, menulis blog menunjukkan sikap kepercayaan tersebut. Walaupun kamu seorang penjahit, dengan menulis blog, kamu bisa tunjukkan mesin penjahit rekomendasi apa, bahan – bahan diperlukan, nasihat untuk para pemula.

Bahkan pemula pun ada yang menulis blog mengenai kegagalan pertama-nya, pelajaran yang dialami-nya, hingga berujung diserbu penjahit lainnya, saling berbagi ilmu, dan mengubahnya menjadi mesin uang.

Bersyukur buat pembaca yang sudah fokus satu hal dan suatu keahlian, kamu tidak perlu capek – capek cari tahu lagi apa niche untuk blog-mu.