Search and Hit Enter

Yakin Ecommerce Menggantikan Konvensional?

Ingat Ecommerce hanya terbentuk di layar screen Smartphone-mu dan komputer-mu, kalau konvensional terbentuk di suatu ruangan. Dunia siapa yang lebih besar?

Pemain besar, kadang seniman berbisnis, masih tetap dengan Storefront dan Retail-nya, Mereka ingin Customer merasa emosional dengan produknya, tentu juga hubungan sosial bersama pelayanan karyawan di sana, bagaimana kamu dipandu, saling berbagi ekspresi, mungkin disamping berbagi cerita.

Ketika Konvensional berimajinasi sendiri demi pelanggan menikmati dunia brand-nya sendiri, Ecommerce hanya tergantung dengan kanvas layar flat, dan interaksi data terus menghantui promosi kamu.

Begitu masuk Toko Retail konvensional, kamu tidak tahu promosi-nya, tapi kamu sudah terlena dengan produk yang mereka tampilkan, ketika seorang pelayan datang menemani kamu, dia langsung berkata ‘Baju ini sedang promosi minggu ini’, pelanggan langsung terkejut.

Hingga data bisa menggapai antara satu lainnya, dan membuat trending besar – besaran, berskala nasional, agar konsumen menggapai menjadi pusat kesatuan, yaitu patform Ecommerce.

Ecommerce menang oleh permainan data. Tanpa sadar, kebiasaan-mu diam – diam dibaca, kategori apa yang kamu cari, link apa yang sedang kamu buka, ke depannya, mereka sudah mengerti kebiasaan belanja mu.

Tidak ada lagi sebuah misteri untuk konsumen, karena konsumen Ecommerce berfondasi suggesti data dan popularitas. Konsumen pun mengikuti alur sesuai skenario desainer User Experience mereka, proses statistik, akhir cerita-nya transaksi lancar dan barang sudah di tangan pembeli.

Cenderung mana -> emosional dan berseni, atau pengalaman statis diatas layar petak?

Konvensional karena sepi pembeli-nya, Ecommerce-nya bikin masyarakat malas untuk bergerak dan berburu hal seru baru di luar, budaya teknologi bikin orang tinggal menggapai hal baru lewat input sosial media aja, dan mengenyangkan pula. Kontak sosial seperti apa nantinya untuk masa depan?, kondisi budaya smartphone aja udah ngubah banyak hal.

Jika konvensional penuh fantasi persembahan dan memikirkan kesan pertama, bahwa Brand mereka akan meledak di pikiran pelanggan. Minggu lalu pergi ke Bandung, Fashion Distrik, 23 Pascal, di situ pertama kalinya aku mengunjungi retail PULL & BEAR , brand ini memang ber-konsep illustrasi Pop Culture, konsep Retail-nya seperti markas anak muda jalanan komunitas seni.

Siapa lagi yang bisa meninggalkan kenangan cerita berbelanja kecuali toko retail dengan suasana hangat dan rasa penasaran tinggi, ‘di mana aku harus memulainya?’. Datang pertama kali pun, belum tersentuh hawa – hawa-nya.

Dari komunikasi, tangan mata dan hidung bisa merasakan produk sebenarnya, Pertama mata melihat sekitar, ketika otak dorong mata untuk tertuju selama 5 detik, berarti kamu tertarik. Jika hal itu berhak dipegang, tangan reflek terbiasa ingin mencoba hal baru. Belum lagi elemen antar sosial antara konsumen dan pelayanan, komunikasi adalah kunci efektif untuk melakukan transaksi, pelayanan berada di titik tantangan untuk mengajak konsumen membeli produknya.

Penjual Parfum memberikan sampel wangian nya menyesuaikan pembeli, brand Рbrand  Fashion ternama rela mengeluarkan uang untuk membuat seni, illustrasi depan retail-nya agar mencari orang yang memiliki kegairahan sama dan mengajak masuk ke dunia imajinasi-nya.

Perusahaan Apple, salah satu industri teknologi kreatif dunia, juga mengembangkan Retail sendiri-nya, sebagai pusat komunitas para seniman saling berbagi ilmu. Kewajiban mereka, untuk mengundang orang – orang bahwa produk Apple sebagai mesin berkarya.

Apakah aku harus kembali menjelaskan bagaimana interaksi antara konsumen dan retail hanya karena Ecomerce berusaha transisi kebiasaan budaya ini.

Menurut ku, Ecommerce hanyalah salah satu inovasi media berbelanja, bukan menggantikan.

Kalau kamu mencoret strategi Retail konvensional dan di atasnya menulis Ecommerce, itu salah. Seharusnya kamu menambahkannya, ‘Retail Konvensional’ + ‘Ecommerce’.

Retail – retail yang sudah tutup, mereka terlalu awal mengambil keputusan, belum berpikir dua kali, ide lebih prioritas ke Storefront Experience harusnya, berpengalaman belanja, Inovasi sih terlalu diarahkan ke Data dan Internet, Inovasi adalah pencapaian di atas rata – rata kompetisi.

Pengembangan bisnis Ecommerce, seperti baca resep, kembangkan website bersama, buat konten bagus, promosi ke sosial media, cari pembeli first order. Proses statistik Ecommerce, bukan termasuk inovasi di atas rata – rata. Karena semua Startup bisnis ini melakukan hal sama, tantangan permainannya hanya main harga dan konten, bahkan *clickbait.

Startup Ecommerce mesti rela membayar berapa pun demi konten berkualitas, agar pengunjung percaya dengannya. Ecommerce MR PORTER punya Instagram inspiratif, mereka tidak sembarangan upload konten, tentu ada investasi sendiri, MR PORTER hanya menghubungkan konsumen-nya berbasis online.

Pengembangan konvensional retail menceritakan berbagai momen, pemilik retail mendispilinkan karyawan, kebiasaan kontak mata dan keakraban, desainer Interior retail mencurahkan idenya bersama tim-nya, katalog produk, bagaimana pelanggan dibuat betah di toko.

Langkah kaki pertama serta respon konsumen pertama pun diperhatikan. Mengambil keputusan relatif tidak pasti dan tidak memiliki referensi kebutuhan masyarakat, konvensional yakin dengan ide nya bisa tercapai di realitas.

No Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: