Langganan Pertama Majalah Monocle: Edisi September 2017

Waktu mengulas Monocle Guide to Food and Monocle Guide to Business, aku merasa kurang jika belum menyimpan majalah regularnya,

Di sesi depan, kompetisi antara Adidas dan Nike disinggung oleh sebuah percakapaan antara pelari Amerika dan pelari Jepang,

Overheard near Tokyo’s Yoyogi Park as an American runner tried to make conversation

America runner “Last time I was here everyone was in Nike and now it’s all Adidas. What do you guys know that I don’t?”

Japanese runner: “Germany’s become much cooler these days.”

American runner left standing in the street, looking quizzical.

Kelihatan sudah, Adidas sekarang memimpin industri sepatu olahraga dan fashion trending sekarang, fakta-nya iya, internet pada mendikusikan-nya terus, Adidas pun memanfaatkan tersebut, aku sering dapat Email dari Hypebeast newsletter, dan itu rata – rata featured Adidas semua, hingga harga berlipat dengan penjual orang dalam, bisa langsung cek di Ebay.


Monocle Edisi September 2017 - KICIKKU

Arsitektur Indonesia di Monocle bulan ini jadi perhatian mereka, selain mendengar pandangan mereka, dengan arsitektur, elemen Indentik Indonesia akan lebih kuat pengaruhnya untuk pengembangan modernisasi komunitas kota.

Aku mendapatkan poin penting observasi budaya Jakarta sekarang, Danny Wicaksono dan ‘Studio Dasar’-nya.

“Clients are no longer just wealthy people who have been exposed to life abroad and want to replicate it here,” he says. “The demographics are changing; young people now want a better living space and a better looking Jakarta”.

Danny Wicaksono

Firma berikutnya, Carolina beserta teman – temannya sebagai Founders dari Bitte Studio, mengungkapkan arsitektur adalah sebuah pengalaman dalam satu ruangan, itu pesan elas sebagai orang yang melihatnya secara umum serta mengenai tujuan dibangunnya.

Lainnya, Tantangan Rafael Arsono dan Margareta berlanjut setelah melancong bekerja dan belajar di Milan dan akhirnya pindah ke Jakarta menjalankan studio sendiri RafaelMiranti,

“Jakarta is chaotic so our approach is always to introduce an element of calm, not to show off,” says Arsono

RafaelMiranti


Bukan terbang namanya kalau tidak ada sayap. Demikian yang dilakukan orang Jepang di halaman awal, virtual reality penerbangan komersial bernama ‘First Airlines’. Jika aku menjadi penumpang di sana, aku tidak akan bisa tidur, sampai simulasi itu benar – benar membuat ku geli saat pesawatnya menurunkan ketinggian-nya

“Being on an airplane is exciting. I wanted to recreate the way you feel at Disneyland.”.

Jepang lagi, Bukan Monocle namanya kalau belum bahas standing out bisnis Retail,

Inovasi apa lagi untuk mengembangkan Alat Tulis Kantor, selain berbagai bisnis digital telah memudarkan momen – momen kecilnya. Ini tentang obsesi pelaku bisnis Jepang, bersama alat tulis kantor, ‘Paper Tiger’ sebutan Monocle, ‘Think of Things’ nama toko-nya.

“You might fall into the trap of designing products to stand out in competitive retail spaces that are not yours rather than designing for the end user,” adds Aki Kanai, who is responsible for TOT’s art direction. “But if you have your own space you can showcase your products in your own environment.”

Think of Things

Think of Things, hanya buat orang yang suka penasaran, jauh dari peradaban data, cenderung memilih proses berkepanjangan, dan rapi. Ini mulainya dari sini, Monocle menuliskan judulnya ‘Paper Tiger’, berarti mereka dominan di bisnis ini, lengkap sudah, ada cafe-nya pula, pasti dua kali lipat rasa bangga memiliki produk alat tulis mereka.

Think of Things sama saja menjual karya seni, karya seni yang bisa menaikkan imej orang, alat tulis ber-aura beda, kalau satu meja kantor-mu alat tulis nya dari Think of Things, kemungkinan puluhan foto Instagram jadi.

Mungkin mereka melihatnya ya begitu standar mereka menjual alat tulis mereka, tapi bagi-ku, kualitas mereka membuat ku melihatnya berstandar tinggi.

Nasehat mereka untuk bangun bisnis Retail,

“First and foremost, what we sell is important,” says Kano. “But where and how we sell matter too.”


Berujung ke Perancis, De Bonne Facture, didirikan oleh Deborah Neuberg, Monocle menyebutnya Bookish sejak SMA kini membangun bisnis butik profit tinggimenyebar ke beberapa kota di seluruh dunia. Punya kebiasaan menangkap momen segi pakaian kakek nenek di jalanan untuk inspirasi favoritnya, menurutnya mereka tidak mengikuti trends.

“For me the important thing is ‘Made by’ not ‘Made in’. You get good and bad factories in France, in Italy, in China. I want to highlight the quality of our specific factories, I don’t want to just say ‘Made in France’.”

Deborah Neuberg

Selama ceritanya bersama Monocle, di sini lebih terbuka bagaimana suasana Neuberg menjelaskan perjalanan bisnisnya, aku pun bisa merasakan bahwa kegagalan selalu berada di ujung pisau untuk tetap menjatuhkanmu atau selalu berdiri untuk terus maju, bagaimana tidak, ambisi-nya Neuberg bahkan mulai dengan tabungan nya sendiri dan dana dari orang tua-nya,

“I called Marcel Lassance [the men’s buyer] about 50 times but couldn’t get through. So I made a package – a book about De Bonne Facture, a leather business card and a handwritten note – and went to his office and begged his assistant to deliver it.” One week later Lassance turned up at a gallery where Neuberg was showing her debut collection.

Melihat kondisi pasarnya bagaimana, Neuberg pergi ke beberapa negara, terutama Jepang, yang katanya selalu kehabisan stock. Untuk membuka hubungan bisnis berjangka panjang, Neuberg pasti mengerti selalu ada standar khusus dan improvement untuk butik-nya. Konsep old-school ternyata berlimpah di satu jalan.


Monocle Edisi September 2017 - KICIKKu

Rumah auksi Dorotheum, bekerja di luar kantor dari cerita beberapa profesi mungkin membuatmu tambah nyaman mencari suasana baru dan petualangan, dan essay panjang tentang panas politik Venezuela berujung mempengaruhi kondisi kemanusiaan sana.

Aku tidak akan bercerita panjang diskusi dari majalah ini, kamu bisa beli di toko buku impor, biasanya nongol di Bandara lokal. Edisi bulan Oktober saja sudah hadir, keburuan juga mau beli.

We’ve sought to become a source for smart stories about people doing it differently and also being proactive rather than waiting to see what happens.

Monocle Editor’s Letter
Monocle jelasnya, buat kamu ingin membaca perhatian budaya kreatif antara Fashion, Design, Business dan Culture dari seluruh dunia, ini Majalah recommended buat kamu.