Instagram, Di mana Nasibku Berada?

Pernah dengar lagu terbaru Paramore, Fake Happy?

Oh please, don’t ask me how I’ve been
Don’t make me play pretend
Oh no, oh oh, what’s the use?
Oh please, I bet everybody here is fake happy too

Fake Happy, Paramore, Written by Taylor York & Hayley Williams

Hayley Williams, sang vokalis, tidak suka dengan istilah budaya ‘phoneness’, kebanyakan orang sekarang terlalu perhatian dengan Smartphone-nya, daripada sekitar sosial-nya sendiri, orang – orang begitu tidak akan menjadi dirinya sendiri, mereka kehilangan prinsip, mereka suka memalsukan diri. Fake Happy, salah satu suara Hayley untuk menyinggung budaya tersebut.

Kamu semua palsu, termasuk yang ada dirimu di Instagram. Katanya kamu lari pagi hingga 10miles caption di Instagram, ternyata dibuat – buat, nongol foto di tempat olahraga, sengaja di basah basahin, biar follower-nya lihat dia giat olahraga. Benarkah Instagram dipenuhi orang – orang yang memalsukan identitas dirinya?

Ini bukan masalah pribadi, tapi masalah bisnis. Generasi millenial memenuhi Instagram, Instagram sendiri konten-nya barang – barang konsumtif dan khayalan tingkat tinggi, sekarang pertanyaannya, apakah generasi millenial punya uang setelah melihat para Influencer menunjukkan barang mahalnya, apa millenial benar akan mengeluarkan uang setelah apa yang Influencer tunjukkan?,

Apa millenial kebiasaannya hanya nyaman di tempat tidur sambil lihat Instagram daripada kerjakan hal – hal bermanfaat?, jadilah berguna apa yang ada di hadapan-mu.

Influencer?, Budaya internet menganggap semua orang bisa menjadi Influencer, semakin Followers-nya banyak, semakin tinggi kedudukan Influencer tersebut. Aku tadi mention pemain besar Fashion besar tidak percaya dengan Influencer Instagram.

A girl with 3 million followers was getting paid $15,000 or $20,000 to do a post, and it was resulting in zero sales — I got that feedback so frequently, it was shocking.

‘Instagirls don’t change customer behavior’: The limits of influencers – GLOSSY

Resulting in zero sales ??

Di sini kasusnya, Rhiyen Sharp, digital strategy dari The Industry Model Mgmt, agensi model. Berhenti memutuskan untuk membayar mahal perempuan ber-followers banyak di Instagram, menurutnya mereka bukan seoarang Influencers, namun sekedar layanan iklan.

The smart girls — the Gigi Hadids, the Kendall Jenners, the Kaia Gerbers — they’re not posting bikini photos all the time. They’re making sure they have a female audience; if you want to be selling product to a woman, you have to appeal to a woman.

Angka followers tinggi tidak mencerminkan potensi bisnis-mu akan datang, cara baru mengiklankan produk ini, juga perlu memikirkan dua kali, apakah Influencer bisa menyikapi dengan Emosional, sehingga Follower terinspirasi untuk membelinya. Kalau tidak, rugi kamu membayar jutaan mereka demi sebuah konten, tapi tidak ada hasil balik.

Ini catatan buat sosial media Indonesia.

Jennifer Lawrence aja ga punya Instagram, siapa yang menyewa dia, puluhan brand mengantri, di mana dia harus mengekspresikan brand-nya, brand sendiri yang menyediakan tempat bagi-nya. VOGUE Magazine, Dior, realita Jennifer lebih berbalas budi.

So, who would you say is truly influential?
Right now, I’m working with [‘90s supermodel] Niki Taylor. During New York Fashion Week, I took her to a party, and she was wearing this dress by Trina Turk. The paparazzi took photos of her, and within 24 hours, the dress sold out in all 14 Trina Turk stores and online. She can sell product, and she only has 58,000 followers.

‘Instagirls don’t change customer behavior’: The limits of influencers – GLOSSY

Rhiyen Sharp mendefinisikan Influential sebenarnya, ketika berhasil bekerja dengan Supermodel senior Niki Taylor, bukan Niki Taylor mendeklarasikan dia terkenal, dia seorang Influencer. Paparazzi membuat dia tidak sengaja menjadi Influencer, media mendiskusi-kannya , berarti Model Fashion mempengaruhi orang dengan bermain visual dan emosi, tanpa komunikasi lain, seorang Model sudah otomatis membantu menjual produk sebuah brand.

If you’re just looking at numbers, then you shouldn’t be working in this industry, because that moment has passed. No one high up in adverting and none of the companies that matter care about the girl with 1.5 million followers anymore.

Ingat, bukan soal Followersnya, tapi lihat nilai yang menarik bagi Influencer-nya. Di situlah nasib mu berada.

Leave a Reply