Internet Membahas iPhone X, Aku Membahas Apa?

Essay ini sengaja tidak diberi gambar utama, belum punya iPhone X.

iphone-X-landscape-image-beauty
Hanya gambar ini iPhone X yang menarik untuk blog ku. src: apple.com

Karena semua media, blogger, vlogger, netizen sudah berlomba – lomba mengulas iPhone X, hal itu kelihatannya tidak bisa dihindarkan. Sedangkan aku sendiri punya instinct tinggi ketika Apple melakukan sesuatu ke depan, iPhone X masih memberi kesempatan bahwa Smartphone benar alat independensi yang bisa dibanggakan oleh orang banyak.

Kamu tahu teknologi apa yang paling efektif untuk dipamerkan, Smartphone?, tambah lagi kalau kamu punya iPhone terbaru, kelihatannya orang sibuk, dapat email dari mitra bisnis, keluarkan dari kantung celana, pake iPhone X, ternyata niatnya ingin menyombongkan diri, ketika dibuka hanya notifikasi bahwa kamu belum aktifkan Apple Account-mu. Smartwatch, beda lagi cerita.

Bicara soal budaya Smartphone, banyak manfaat dan juga kebiasaan baru. Kamu gunakan iPhone, berarti Instagram mu harus berfoto di depan cermin dengan logo Apple dibelakangnya. Kalau dia gunakan hape Android, jarang percaya diri selfie di depan cermin.

Hebatnya tahun ini, Apple tidak tanggung mengeluarkan Smartphone baru, dua sekaligus, dari iPhone 8 dan 8 Plus, juga iPhone X. Aku rasa ini produk untuk investasi panjang. Ku baca dari mention di Bloomberg TV, ‘Apple is so hard to deliver surprises for the future’. Bisa saja, Apple tidak akan merilis iPhone lagi tahun baru, dia sedang memikirkan ide di bidang lain, seperti Autonomous Cars, atau berusaha bekerja dibalik layar mengembangkan teknologi paten, seperti Ericsson atau Nokia.

iPhone X adalah perubahan besar, karena ini investasi panjang, kenapa tidak melepas home button nya, seperti Smartphone lain sudah duluan, pinggir nya sudah tidak dapat temppat. Tidak ada ide yang murni asli, tapi kita bisa apa adanya, ketika iPhone 8 masih menggunakan home button Touch ID, iPhone X sedang membiasakan baru dengan keamanan FaceID. Kalau kamu tonton Conference nya kemarin, apa yang mereka sampaikan menjawab setiap kondisi, hingga muka sama dengan foto tidak akan terdeteksi.

Idealisnya Apple ‘A revolution in recognition’

‘FaceID generally works’, Quartz menulis ulasan iPhone X, berarti itu positif. Lainnya dari Wall Street Jounal, columnist teknologi Joanna Stern, mencoba nya dalam 24 jam, beliau secara serius menulis kemungkinan cara kamu adaptasi dengan FaceID, bahkan dia menggunakan kumis palsu dan kacamata, ternyata baik – baik saja. Sesuai dengan janji Apple, FaceID secara garis besar tidak bisa dipalsukan. Bagaimana dengan anak – anak kembar, kepikiran sama Joanna Stern.

One thing I discovered during mask testing, your eyes need to be open for FaceID to work. Thus, we cut creepy eyes out of the mold.
My mission really was impossible: FaceID knew it was somebody’s face, but it wasn’t duped into thinking it was me.

Joanna Stern – The Wall Street Journal

Aku belum nonton Youtuber bagaimana mengulasnya, iPhone X adalah berita bahagia buat mereka saatnya untuk sekali lagi menaikkan standar. Kamera tambah canggih, ‘canggih’ sudah umum kata – kata nya. ‘Mengalahkan kamera konvensional’ udah pasti, coba lihat di isi dengan processor Biometrics, gimana mau jelaskannya, sedang pengguna sekarang inginnya serba instan.

Kalau orang IT bicara, semua berasal dari eksperimen Machine Learning. Walaupun itu, Internet banyak tertuju dengan FaceID, masalah keamanan teknologi, paling enak menjadi cerita hangat dengan kopi, kreativitas nya entah kenapa apa tujuan nya mencari kelemahan FaceID, merekomendasi ini potensi, demi kebaikan calon konsumen.

Seharusnya FaceID harus ditahan terlebih dahulu, karena Apple sedang bermasalah dengan akurasinya, membiarkan Supplier menurunkan standar tersebut demi produksi tercepat. Apakah itu akan berdampak setelah di tangan pengguna. Sekarang cerita ini belum berakhir, iPhone X akan bersinar di tanggal 3 November.

As Wall Street analysts and fan blogs watched for signs that the company would stumble, Apple came up with a solution: It quietly told suppliers they could reduce the accuracy of the face-recognition technology to make it easier to manufacture, according to people familiar with the situation.

Bloomberg Technology

Kemampuan Machine Learning, ketika Apple merilis karya ilmiah nya di website khusus Machine Learning, betapa bangga-nya bagaimana iPhone kamu bisa merespon setelah kamu menyapa ‘Hei, Siri!’. (Aku harap kamu tahu fitur ini!). Kalau mereka ahli menangkap speech-mu, berarti Apple antara software dan hardware iPhone harus saling menguasai, selengkap – lengkapnya. Itu yang bisa Apple petik dari kelemahan Android.

Dari berita kamera, begitu iPhone 8 dan X meluncur, fitur yang ku suka dari portrait-focused (Portrait Lightning), belum dengan cerita pengembang aplikasi foto terus menerus menjual mahal aplikasi, karena udah mampu menghilangkan kerutan muka selfie-mu.

iphone-x-animoji
Animoji – iPhone X

Lupa dengan Animoji, ku tinggalkan dengan kepandaian Apple membuat konten menjual, buka link gambar di atas.

Seharusnya aku tidak menceritakan banyak, iPhone bukan ulasan dengan spesifikasi, processor, graphic dan hal lain,bikin pembaca bosan. iPhone tetap iPhone, tapi masih dianggap satu keluarga dengan Smartphone. Membaca ulasan teknologi sangat membosankan, dibanding menggunakannya.

Barang teknologi konsumtif di atas tulisan, siapa yang masih menikmatinya?, syukur masih nikmatinya, lebih baik email ku sekarang, karena aku ingin mendengar pendapat terdalam mu mengenai iPhone X dan Apple.

Foto atas: Retail kenalanku mempromosikan jualan iPhone X-nya ke aku.

Referensi:

Hey Siri: An On-device DNN-powered Voice Trigger for Apple’s Personal Assistant – Apple

iPhone X Review: How We Tested (and Tricked) FaceID – The Wall Street Journal

The iPhone X reviews are in and people seem happy despite the price tag – QUARTZ

Inside Apple’s Struggle to Get the iPhone X to Market on Time – Bloomberg