Selain Visual, Desainer adalah Pendengar

Tweet salah satu desainer Uber, lewat tulisan John Maeda.

Lanjut John Maeda, desainer autentik yang ku kenal di Internet, dia menyadari selama ini terlalu lama asyik di depan layar, sedangkan di luar sana banyak orang mencari inovator sana untuk menanyakan sesuatu.

‘Designing at your desk is designing in a bubble’. Aku langsung penasaran dengan pandangan Sri Jalasutram, Desainer Uber. Karena dampak desainer sekarang, individualisme hasil karya mereka kadang tidak satu suara yang membutuhkan komunikasi visual itu sendiri.

Selain visual, desainer adalah pendengar baik, siap memasang telinga, untuk mendengar cerita seseorang, desainer mampu meluapkan cerita yang belum pernah didengar sebelumnya. Desainer di dorong pergi ke lapangan, bertanya orang – orang di suatu budaya, menyempatkan diri untuk berempati, bukan menyibukkan diri bubble di depan layar

Cerita lain dari Michael Bierut untuk Quartz, desainer New York ini bersama firma desain terkenalnya, Pentagram, punya prinsip penting mengenai kepercayaan mencari desainer.

I’m very suspicious about hiring graphic designers who don’t seem to be enthusiastic about reading.

Michael Bierut

Desainer bangga dengan gaya visualnya, namun mereka kaku dengan kata – kata. Itu penyakit desainer yang jarang baca buku, kadang fondasi inspirasi nya dari digital platform tergantung dengan popularitas, mengutamakan objek layar Illustrator dan lagu produktif daripada mengikat tali emosi satu sama lain. Hingga tenggelam tanpa pelampung empati menggapai tangan yang membutuhkan

There’s nothing wrong with cool stuff, but the most cool looking stuff is not only great visually but informed by the culture.

Michael Bierut

WordPress punya bagian tim desain aneh, budaya mereka bekerja jarak jauh dari seluruh dunia, rata – rata mereka mengakui bekerja terisolasi, hebatnya mereka saling bisa berkontribusi dan kolaborasi inovatif tanpa bertemu fisik.

When I first joined Automattic, an entirely remote company, I worried that I would double down on that isolation. I was equally thrilled and terrified to be surrounded by so many Insanely Talented Real Designers. The knowledge! The skill! The-most-definite-chance-of-being-found-out!

ASHLEYVONCLAUSBURG, WordPress’s Automattic Designer

Perusahaan Automattic, pemilik WordPress, sensitif dengan cerita para desainer, mengungkapkannya di berbagai blog, keterbukaan perusahaan mereka. Cerita lain oleh Rick Banister, salah satunya, pengalaman belajar sebagai pendengar baik bersama desainer lainnya.

With all of the conversations happening at a company gathering I quickly realized that I could be a better listener. Sometimes when I get excited I interrupt people to share a spontaneous idea. Sometimes I feel too shy to reach out to someone new and learn about their experience.

Rick Banister, WordPress’s Automattic Designer

Perasaan Pelanggan di dalam lubuk hati

Desainer di pengembangan Startup, istilah terkenalnya Sprint, wajib untuk Desainer memiliki kemampuan ber-narasi. Karena mereka meletakkan pelanggan di tengah sistem desainnya, desainer mendengar cerita dari berbagai kalangan orang, mereka seperti pihak netral, mereka jembatan untuk menghubungi pemilik masalah dan pendeklarasi inovasi. Saling memasang lubuk hati.

Tidak yakin ataupun tidak yakin potensi ide tersebut, desainer pendengar baik meluapkan emosi tersebut menjadi visual dari pihak entrepreneur komitmen. Ga merasa senang, ya sudah tinggalkan aja.

Di atas kertas dan sketsa, siap untuk men-disrupt pemain terdahulu. Tanpa memikirkan aset untuk ke depan, desainer pendengar sudah punya cerita jelas untuk Startup tersebut. [Rasanya ingin membahas Sprint lebih banyak di blog ini].


Aku bertanya untuk diriku sendiri lagi,

  1. Selama aku menggambar itulah kenapa aku sering jenuh dan seringnya pesimis tidak akan melanjutkannya kembali, aku terlalu fokus dengan ideku, hingga melupakan momen sekitar. Bagaimana bisa aku melupakan realitas?
  2. Terlalu cepat mengambil keputusan, ingin menyenangkan jangka pendek semata, sehingga menyebabkan aku tidak konsisten, Kenapa kebiasaan seperti ini sering terjadi?, padahal desain adalah pembelajaranku mengenai arti sosial.
  3. Menerima kritik tidak gampang, apalagi jika diriku menganggapnya emosional, belajar menjadi pendengar baik, bagaimana mengembangkan pikiran ini lebih terbuka lagi?, tidak menganggu kesempatan cerita orang lain.