Search and Hit Enter

Konspirasi Algoritma Youtube

Hal yang tidak akan terbebani untuk perusahaan raksasa online Youtube, di mana aku akan membahas permainan manipulatif oleh Youtube.

Apa yang harus kamu perhatikan di sini?, Seringkali Kreator disamakan dengan profesi baru sebagai industri kreatif baru, Youtube berhasil memutlakkan hal itu. Di sini aku ingin meninggalkan di tulisan ini, Youtube bekerja sesuai dengan kebiasaan mu sebagai penonton, ..

Kenapa ini demikian, artikel The Guardian membahasnya bersama mantan pekerja Youtube, Youtube berhasil mempengaruhi realitas-kita, antara Subscriber dan Creator. Anehnya di pembahasan ini, sistem algoritma Youtube banyak mengarah ke hal – hal yang memicu konflik dan fake news.

YouTube told me that its recommendation system had evolved since Chaslot worked at the company and now “goes beyond optimising for watchtime”. The company said that in 2016 it started taking into account user “satisfaction”, by using surveys, for example, or looking at how many “likes” a video received, to “ensure people were satisfied with what they were viewing”.

Selagi kamu sedang menonton tanpa disadari apa yang sedang dikerjakan hitungan algoritma Youtube, kebiasaan kamu dari apa yang kamu klik, cari konten, itu akan memberikan timbal balik, dengan halaman rekomendasi video, prediksi bahwa kamu harus dapat konten lebih dari video sebelumnya.

Lama kelamaan, Youtube mengerti kepuasaan-mu, begitulah bagaimana Youtube memanfaatkan perhatian kamu menjadi keuntungan mereka. Intinya dari kompleksitas tersebut, algoritma yang mereka desain di tahap panjang, mereka hanya bertujuan agar kamu lama – lama setia di Youtube.

Aku rasa pun pembahasan di sini, Youtube juga tidak ada sama sekali menyesuaikan konten setiap pengguna, bahkan ini prinsip mereka sendiri, tidak terlihat di pandang mata, atau ditangkap. Mereka ingin memuaskan satu sisi dengan-mu.  Baca apa yang Chaslot jelaskan dengan The Guardian,

Di sini mantan orang dalam Youtube, Guillaume Chaslot,  pernah memegang pengembangan teknik data Youtube, dari website buatannya ,dia pernah melakukan eksperimen antara kedua belah pihak antara Trump dan Hillary Clinton di musim pemilu Amerika kemarin, Youtube diam – diam punya efek samping besar memilah antara kedua kubu politik ini, hebatnya algoritma Youtube justru lebih berpihak ke Trump dari Clinton. Ini penjelasan Chaslot,

As he observed in a short, largely unnoticed blogpost published after Donald Trump was elected, the impact of YouTube’s recommendation algorithm was not neutral during the presidential race: it was pushing videos that were, in the main, helpful to Trump and damaging to Hillary Clinton. “It was strange,” he explains to me. “Wherever you started, whether it was from a Trump search or a Clinton search, the recommendation algorithm was much more likely to push you in a pro-Trump direction.”

Chaslot memberikan The Guardian, 8000 video kasus sebagai bahan risetnya, dari bulan Agustus hingga September 2016 kemarin, semua berdasarkan referensi rekomendasi Algoritma.

Chaslot dan The Guardian memulai memahami adanya manipulasi algoritma di sini, berasal dari momen politik 2016 Amerika kemarin,

I spent weeks watching, sorting and categorising the trove of videos with Erin McCormick, an investigative reporter and expert in database analysis. From the start, we were stunned by how many extreme and conspiratorial videos had been recommended, and the fact that almost all of them appeared to be directed against Clinton.

Walaupun referensi tersebut menunjukkan video – video momen dari setiap pasangan di beberapa acara, pidato dan kampanye, anehnya dominan nya menunjukkan hal – hal keras kepala dan konspirasi dengan konten Anti-Clinton, cenderung lebih banyak memperlihatkan di sugestikan di bagian samping pilihan video berikutnya.

Seandainya saja kamu orang pertama yang belum pernah memegang Internet, dan tidak pernah memegang Youtube, menggunakan komputer baru, dan kamu ingin mencari sesuatu dengan passion kamu.  Jelas buat orang yang berwawasan luas bisa membedakan antara kualitas baik dan buruk bagi dirinya, bagaimana dengan orang awam yang hanya tahu menggunakan internet. Tulisan bisa lebih tajam dari tetesan darah.

algo-transparency
AlgoTransparency, Terbaca di tanggal 1 February 2018

Aku coba mencari tahu tentang AlgoTransparency, di situ ada pilihan ‘search term’ yang dicoba nya, ‘global warning’, ‘alien’, ‘nasa’, ‘Is the earth flat or round’. Aku coba dengan ‘global warning’, jelas ‘Top 100 videos’ yang diperlihatkan situ, sedikit sekali konten yang mendukung ‘global warning’, angka views, likes dan dislikes juga tidak main – main buat mereka.

Belum tentu kamu ingin mempelajari sesuatu di YouTube, tapi ternyata Youtube punya sistem popularitas yang mungkin berkaitan dengan rasa penasaran-mu, yang bisa merusak prinsip serta pandangan-mu, tidak mencerminkan realitas dan ‘pain in the ass’. Potensi lebih buruk dari zaman anak – anak asyik menonton TV, kesadaran-mu yang memegang alih.

Kesimpulan pribadi dari Chaslot,

If the belief that “the earth is flat” makes users spend more time on YouTube than “the earth is round”, the recommendation A.I. will be more likely to suggest videos that advocate the former theory than the latter.

Pengguna lebih tertarik mengonsumsi video ‘bumi yang datar’ dari ‘bumi ini bulat’, ini hanya pelajaran, melawan fakta atau mengisi waktu konyol,

Searching from “is the earth flat or round?” and following recommendations five times, we find that more than 90% of recommended videos state that the earth is flat.

Antara kritik dan bisnis sosial media sekarang adalah membetulkan kemanusiaan di sosialita teknologi sekarang, Youtube belum terlalu menjadi perhatian kita saat ini, bisnis yang berjalan layaknya sedang mengonsumsi TV setiap hari. Perhatian ini pun di ikuti oleh Zeynep Tufekci, salah satu pengkritik society tech di TED,

Tidak bersifat intelektual, atau kemanusiaan, Youtube didominasi dengan konten konsumtif dan kepuasaan berjangka pendek, kreator kecil yang berdampak baik justru banyak mengalami gangguan, buruknya ‘memperlihatkan informasi sesat’.

Di balik perusahaan ini, pengembang data Youtube harus di dorong mencari formula baru, menurut pengalaman Chaslot, di situ cara mendorong pendapatan periklanan, formula tersebut bertujuan untuk menambah durasi menonton setiap pengguna, Youtube ingin kamu berada di depan layar sekarang juga.

Formula yang tidak akan diketahui oleh orang awam, rekomendasi atau suggesti di samping tampilan video Youtube,  di situlah Youtube harus membangun interaksi keuntungan tersebut, konten – konten di samping harus menarik perhatian. Ini juga akan memicu pemirsa agar tidak meninggalkan Youtube, jangka waktu nonton adalah investasi mereka, hasilnya advertising revenues.

Persamaan antara clickbait dan kualitas Youtube, bukanlah masalah Youtube, bisnis perhatian pastinya selalu memperhatikan dirinya sendiri, sebagai pengguna bukan serius lagi kalau bisa membedakan antara yang ‘menipu’, ‘bodoh’ dan autentik.

Youtube tidak tinggal diam dengan respon ini, Jika Youtube berdampak dengan hal tersebut, mereka benar – benar tidak tinggal diam, mereka menambahkan moderator manusia dan mengambil langkah memblokir, menolak channel yang mencerminkan konten sensitif. Youtube terlalu universal untuk ditebak, mereka perusahaan akan berargumen ini demi kebaikan inovasi streaming untuk masa depan. Anak perusahaan Google ini

Sini aku berpesan melihat dari sejarah Youtube bagaimana efek samping algoritma yang mereka terapkan, juga mengingatkan generasi baru kita ini harus menghargai ketidaksempurnaan salah satu platform kreativitas merajalela, ya walaupun kamu senang mendiskusikan sesuatu di depan kamera dan aktivitas sehari – hari, aku harap itu suatu konten yang bisa memberikan inspirasi banyak orang dan menghindari Algoritma jahat yang niatnya tidak mempertemukan kamu dengan pengguna yang justru membutuhkan.

Idealisnya, Youtube bisa berharap saja konten yang tidak mengomsumsi banyak waktu, itu tidak menguntungkan mereka, Algoritma harus menjauhi hal tersebut, dan konten dengan penuh obsesi harus di-prioritaskan oleh algoritma tersebut. Hasilnya, ini demi kebaikan bisnis.

Sekarang pertanyaan nya, apakah Algoritma sudah meremehkan perilaku kemanusiaan kita, atau kemanusiaan sekarang mudah menjadi korban dari hubungan ini, tanpa kesadaran, etika dan transparensi di sini.

Referensi:

‘Fiction is outperforming reality’: How Youtube’s algorithm distorts the truth. – The Guardian

YouTube’s A.I. was divisive in the US presidential election – Medium, Guillaume Chaslot

%d blogger menyukai ini: