PORTER, 24 Sèvres, Farfetch: Perlukah Agresif?

Tiga pahlawan retail mewah ini tidak langsung menyelamatkan brand – brand ternama yang katanya terancam disruption, Ecommerce dimana – mana mencari nilai murah, jual banyak dan konsumen tinggi. Dengan skala pasar dunia, tiga retail ini fokus konsisten kepada orang – orang loyal dengan fashion.

Business of Fashion dan konsultan McKinsey memprediksi 2018 tentang masa depan Fashion, mereka memprioritaskan Platform dan tinggi nilai value di mobile, bisa juga prediksi data.

Cara Suatu Ecommerce mempertahankan kemewahan brand fashion,

Platform digital, mau tidak mau niatnya disrupt, perusahaan konglomerat pemegang brand ternama Fashion dari Perancis, LVMH, baru satu tahun lebih, sudah merintis di bisnis Ecommerce khusus menjual koleksi perempuan, bernama 24Sevres.

Pemain kompetisi satunya MR PORTER, memanfaatkan momen konsep Kingsmen, menginspirasi para lelaki dengan koleksi pakaian formal, juga elegan, tidak lupa dengan kategori perempuan, NET-A-PORTER. Dengan memainkan edisi jurnal konten, PORTER ingin memilah untuk konsumen memilih.

Fokus ready-to-wear skala besar dan streetwear berkelas, selera ini berasal dari Farfetch, aku pernah menambah wish-list sepatu Balenciaga di situ, aku harap suatu saat ada yang mencairkan pesananku nanti.

Sekarang, pertanyaannya mereka punya channel berbeda – beda, mereka punya kelebihan dan kekurangan platform berbeda. Tapi mereka punya satu tujuan pasar, dimana wakil internet pembeli dan penikmat barang – barang mewah kami?

Harga bukan permainan terang – terangan, lihat saja halaman utama website mereka, digital punya pengalaman berkesan, belanja di Farfetch, berita terkini gabung bersama JD.com, kamu akan mendapatkan kemasan kotak istimewa, sama halnya 24Sevres, dari kamu menerimanya hingga menyentuh pakaian tersebut, PORTER juga memiliki kebiasaan sama.

Di NET-A-PORTER dan MR PORTER berinvestasi berat di konten majalah mereka, ‘best dressed’, inspirasi, ‘what you should learn from NYFW’, halnya dikategorikan sebagai katalog mereka, agar pengguna terarah untuk membeli sesuatu.

Menjadikan online dari nilai kemewahan fashion, mestinya tidak agresif, koleksi ternama sangat langka untuk konsumen untuk mengonsumsinya, layaknya barang – barang kolektor, hanya nilai lebih yang tidak perlu ditunjukkan kepada umum. Ketika ketiga platform ini berhasil meliput luxury fashion di internet, berarti setiap kompetitor sudah menangkap pasar di keranjangnya sendiri.

NYTimes punya cukup data untuk memuaskan hal tersebut, melompat 24 persen di tahun 2017, hanya memungkinkan konsultan firm Bain & Co, memprediksi menambah 1 persen saja di tahun 2025.

Data sekedar menggambarkan, barang konsumtif ini selalu menjadi topik utama, bahkan baju Supreme kolaborasi LV bernilai 1000 dollar, diburu – buru Hype.

Little wonder that during the past year barely a month went by without Yoox Net-a-Porter or Farfetch unveiling a snazzy new strategy or service in a thinly veiled bid to outmaneuver the other.

NYTimes

L2inc punya kesimpulan analisa ecommerce koleksi mewah untuk ke depan, ini adalah bisnis ecommerce yang masih lambat berkembangnya dari presentasi, konsumen masih senang dimanjain di toko retail fisik.

Farfetch tidak bisa malas, mereka menerapkan Omnichannel, menggabungkan pengalaman antara online dan realitas. Farfetch’s Store of the Future, inilah bukti alasan Farfetch mengakusisi Browns tahun 2015, Browns punya ilmu di retail fisik, tidak dengan harga tinggi.

Physical retail accounts for 93 per cent of sales today, and even with online growing at fast speed, it will account for 80 per cent by 2025.

VOGUE UK

Farfetch’s Store of the Future, berbasis augmented reality, setiap pelanggan yang masuk yang datanya sudah dicerna oleh Retail dengan online, akan dibalas budi dalam kesan berbeda di fisiknya retail Farfetch.

Berarti ini solusi Farfetch untuk menaikkan presentasi dirinya, ketika angka Ecommerce untuk brand fashion mewah rendah, pasarnya masih menunjukkan interaksi pasar fisik. Minimal ini lebih kreatif, dari bermain konten.

24Sevres dari Francis, prioritas nilai visual berbeda dan beresiko.

Cenderung berbahaya untuk memperlihatkan apa yang tidak pernah Fashion mutlakkan di permainan ini, walaupun mereka masih punya kekuatan toko fisik, Le Bon Marché. Setidaknya 24Sevres meringankan strategi mereka, hanya menarik perhatian konsumen basis perempuan ingin bernilai mewah.

Aku tidak tahu nilai banding harga konsumen barang Fashion, namun jika aku memilih koleksi Prada, harga nya kisaran 15 juta lebih, ready-to-wear, bukan Haute Couture, ya cek dulu maksimal transaksi kartu kredit-mu. Digital hanya sebatas layar, 24Sevres mengambil segala arah, salah satunya konsultasi video dengan Fashion Expert. Mewah berarti loyal, obsesi brand mencari fantasi untuk mengintimasi, harus diterapkan

Apa yang harus kita pelajari dari konsistensi?

Tidak ada yang tidak mungkin. Koleksi brand mewah bernilai 10 juta lebih berhasil melakukan transaksi.

Potensi antara Ecommerce dan nilai Fashion selalu memiliki nilai indah setiap tahunnya, kadang itu membuat popularitas kita tergiur untuk membangun satu platform, dari pemain bisnis berbagai arah. Retail sangat sulit untuk ditangkap, ‘Apa ide langkah selanjutnya?, berbeda daripada yang lain.’. Dominannya, kita selalu ingin berada ‘menjadi termurah’.

Tergabung dengan obsesi, terikat dengan manfaat brand, bahkan berlebihan, menunjuk Influencers dan Model. Itu sudah rumusan Internet untuk membangun bisnis seperti ini, PORTER beserta isi Instagram-nya, berhasil menginspirasi followers, ‘aku juga bisa hidup produktif dan mewah seperti ini.

Sedang membayangkan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.