Minggu yang berat kemarin, hingga tidak bisa menulis surat kabar dan blog selanjutnya. Sangat disayangkan meninggalkan cerita – cerita besar di pertengahan Maret ini.

Seharusnya, kemarin menulis tentang Givenchy dibawah naungan Clare, Adidas dan Deerupt, juga inisiatif Google untuk standarisasi jurnalisme, pertama kalinya aku merasakan bahwa menulis blog itu pahit. Banyak prioritas, semakin hilang arah komitmen-ku. Tanda aku masih terhalangi untuk disiplin lagi.


Skandal Cambridge Analytica dan Facebook

Tim Cook menyinggung Facebook,

‘Kemampuan siapapun untuk mengetahui apa yang kamu browsing selama setahun ini, siapa yang kamu hubungi, apa yang kamu suka dan tidak suka dan bahkan detail kepribadian, dari pandangan ku seharusnya tidak boleh ada.’

Kata – kata CEO Apple ini aku dapatkan dari tautan email blogger advertising Adcontrarian. ketika Tim Cook berada di China Development Forum.

Skenario Drama

Begini ceritanya, Christopher Wylie, salah satu Founder Cambridge Analytica bercerita dengan NYTimes dalam artikelnya, juga The Guardian interview-nya, ‘Cambridge Analytica memang diharapkan menjadi senjata untuk mengubah budaya, terutama budaya politik’. Untuk mengubah budaya tersebut, kamu harus tahu isi konteksnya. Di sinilah Cambridge Analytica sekaligus konsultan data politik semasa Trump mencalonkan diri sebagai presiden Amerika, dinasehati strategi oleh Steve Bannon.

2014 selama merintis termasuk mendapatkan investasi dari Robert Mencer, Cambridge Analytica mengetahui perlu investasi yang mahal untuk membangun senjata pengubah budaya tersebut, ternyata mereka justru mendapatkan yang lebih murah, efektif dan awet.

Alexander Wix, selaku CEO Cambridge Analytica bertemu dengan ilmuan data Aleksandr Kogan dari Global Science Research, mengetahui dia membuat aplikasi yang sudah di-download ribuan orang dari US dan UK, menggunakan pihak ketiga data Facebook, sebagai bahan riset mereka. Cambridge Analytica membeli data mentah tersebut dengan harga terjangkau.

Dr Alexsandr Kogan membangun aplikasi ‘thisisyourdigitallife’ dengan mengambil akses data jaringan privasi pengguna, 270 ribu orang yang men-download, akses izin Facebook, riset tersebut juga bisa meluaskan antara teman – teman pengunggah ini menjadi jutaan ribuan pengguna FB yang berhubungan.

Di sinilah letak kelalaian Facebook, Jika Facebook sudah menerima ribuan pengembang dengan akses privasi data pengguna dari seluruh dunia, sebelum skandal ini terjadi, berarti Facebook benar – benar mengalami kecelakaan menumpahkan olinya di tengah samudra.

Walaupun di pernyataan tertulisnya tertuang di halaman iklan Wall Street Journal belakang, dengan pernyataan publiknya, ‘kami akan menghentikan aplikasi berpihak ketiga menyangkut menyerap banyak informasi’. Kata ‘informasi’ sini, penuh pertanyaan.

Cambridge Analytica itu sendiri adalah perusahaan data analisa Politik, perusahaan seperti ini sudah tidak asing di kategori digital. Rencana kotor Alexander Wix, tidak berangsur hanya bermain di depan layar, mengolah data.

Cara servis Cambrige Analytica berjalan, Ya mereka butuh propaganda yang tidak kelihatan, data butuh pengalihan jika ingin menjadi pusat perhatian, di mana ada kepercayaan sisi lain juga ada kebencia, di sinilah permainan Cambridge Analytica, setelah aku menonton video investigasi dari media Inggris Channel 4.

Komentar Platform Sosial Media

Lupakan apa yang teman dan keluarga bagikan konten, semua itu belum tentu ada prioritas di hubungan lingkungan keluarga dan masa depan kita, gara – gara konten pun kita mudah tersinggung dengan kebencian, ada yang lebih sukses dari kita, justru mentertawakan mereka yang diambang kegagalan.

cara pandang kemanusiaan dari ‘komunitas’ Facebook dan kita sendiri harus berprinsip berbeda, tidak berasal inovasi berdasar teknologi. Facebook menduakan pilihan kita untuk berhubungan dengan orang, kita dilanda instan cara meraih orang, di sini tidak ada lagi intimasi dan

Berita terkini

Artikel Ars Technica, pengguna Android!, Facebook ternyata mengambil rekaman log telfon-mu dan SMS, padahal Facebook sendiri mengakui mengambil izinnya,

Facebook butuh perhatian atas kesalahannya, Bahkan Facebook sendiri mengiklankan pernyataan maafnya di atas koran, The Verge

Opini NYTimes: Facebook terlalu besar untuk mengubah budayanya, dengan menghapus akun Facebook sama saja lari dari masalah, lakukan sesuatu untuk mengubahnya.


Louis Vuitton di Tangan Virgil Abloh

Desainer keturunan Afrika-Amerika pertama yang mengambil alih brand mewah Francis ini, Louis Vuitton. Virgil Abloh untuk ke depannya akan bertanggung jawab sebagai kreatif direksi untuk koleksi laki – laki. ‘Mata pemerhati Fashion akan melihat apresiasi karya LV bersama Virgil Abloh di bulan Juni mendatang’, kutipan dari Freelancer Fashion, Mario.

Mengambil Contoh dari LV x Supreme

Untuk masa depan LVMH dan LV sendiri,

Kesuksesan besar bersama Supreme adalah generasi baru telah menemukan jati diri untuk menikmati brand – brand ternama, perasaan ‘Hype’ ini sudah tertuang di brand ternama tersebut. Gelutan Virgil Abloh sendiri, Off-White telah mengambil perhatian sebagai ‘designer-of-the-year’ oleh CFDA 2018.

Off-White sendiri adalah perlawanan Virgil Abloh terhadap trending gaya sekarang, kebalikan dalam bermain konsep, kontemporari milik sendiri, itulah yang disukai para komunitas ‘Hype’ memiliki koleksi Off-White, brand di atas negara Italia ini.

Bagaimana mau tersanjung ketika Supreme x LV mengibaskan nama LV kembali, dan termotivasi mengambil kontrak bersama Virgil Abloh, sebagai karakter terinspirasi di dunia streetwear.

Kesan Pertama Virgil Abloh di LV

Tidak baru di hadapan sang konglomerat LVMH, sebelumnya Virgil Abloh pernah menjadi final kandidat LVMH Young Designers Prize di tahun 2015. Pengalamannya kolaborasi bersama IKEA, Nike, Kanye West bahkan Levi’s Strauss.

Louis Vuitton sendiri dominan dengan koleksi tas terkenalnya, motif logo LV dan warna cokelat, kebanyakan sejarahnya memperkenalkan hal tersebut.

Interview-nya lewat telfon, bersama NYTimes. Virgil Abloh memilki tahap untuk mendefinisikan kemewahan untuk Louis Vuitton, konsep baru, naluri menurutnya masih selalu apa yang orang pakai, dan dia tidak sabar memanfaatkan kemewahan LV tersebut menjadi versinya.

Tanpa meninggalkan daging darah Louis Vuitton, budaya mewah travelling, menggeluti Off-White sejak tahun 2013 ini, Virgil Abloh harapannya ‘Jika kreativitas bersama bisa mencairkan masalah dunia, aku percaya bisa membawa dunia tersebut bersama. Fashion di tingkatnya bisa membuka mata tersebut’.

Tonton ini: NYTimes mengunjungi Virgil Abloh dan Studio Off-White di Milan


Industri Mobile Gaming Apple

app-store-today

App Store dan Game

Kolumn TechCrunch membahas cara Apple memperlakukan khusus terhadap pasar Mobile Gaming, tanpa Apple melakukan sesuatu, tanpa Apple meracik suatu baru, Produk – produk Apple yang dirilis tahun 2017 kemarin, memang berdampak jangka panjang.

App Store sendiri, kategori Gaming adalah paling tinggi angka popularitasnya, jauh dari perbandingan lainnya.

Rilis iOS 11, App Store kini memiliki session cerita proses antara pengembang beserta kreasinya di ‘Today’ Tab. Dengan narasi seperti ini, App Store bisa meluapkan kepribadian Player, seperti apa nantinya sebelum berada di game, dengan ini pengembang kecil pun merasa ikut dalam komunitas dan mampu menyamai kesempatan seperti pengembang besar lainnya.

Cara Pandang Mobile Gaming Berubah

Studio game Snowman, menyebut buatan game-nya ‘Tailor-made’, Dia merasa Mobile Gaming yang digelutinya adalah perbincangan yang sudah menunjuk ke istilah ‘seni’.

Industri ini pun sudah bisa membedakan antara permainan sehari – hari ‘Casual’, dan menunjuk ke Gaming ‘Hardcore’. Pemasaran App Store sudah bisa menyetarakan, Developer dan Game Kreator kecil lebih terarah bersama Apple, Apple menunjukkan kesamaan standar kualitas juga terhadap penggunannya.

Walaupun yang ku benci dari Mobile Gaming, iklan – iklannya dimana – mana terutama Game – game online hampir semuanya memiliki kesamaan permainan. Justru Menurut Ryan Cash dari Snowman, ‘Pemain justru cenderung lebih ke iPhone untuk gaming-nya, budaya bermain seperti judul – judul terkenal seperti Fortnite, Industri bisa difokuskan terhadap aksesibilitas dan tingkat kualitas’.

Zach Gage, pengembang SpellTower, ‘Pengalaman dari PC, Console dan Gaming berbeda – beda, kami harus bisa membedakan industri tersebut serta dampak dari prosesnya’. Ini sebuah seni yang tidak bisa dikatakan bahwa semua orang bisa membuat game mobile. ‘Ketika pemain menonton streaming Twitch, mereka langsung mengeluarkan iPhone-nya, untuk mengunduh gamenya, bukan berarti ingin mengetahui ada versi mobile-nya, bisa saja tontonannya platform berbeda, tapi naluri pemain tahu game tersebut mendukung Mobile’. Ini kebiasaan yang harus dicerna lagi oleh pemegang Industri.

Integrasi Kuat antara Hardware dan Software Apple

Epic Games dan Fortnite untuk Mobile mengakui, iOS dan iPhone sudah ikatan keluarga kombinasi unik setiap fitur di antara keduanya, ditambah dengan loyalitas pengguna dari seluruh dunia, tidak pernah ketinggalan update terbaru iOS, sehingga Pengembang merasa termudah untuk menambahkan tindakan tersebut.


Acara Pendidikan Apple Pertama

Tidak baru berkecimpung di pendidikan, Tim Cook di awal presentasi mengingatkan sudah 40 Tahun Apple berinovasi di kegiatan sekolah.

Produk utama, Apple merilis iPad 9.7 terbaru dukungan dengan harga beralasan untuk pendidikan, kecepatannya sama dengan iPad Pro.

Selama acara edukasi ini berlangsung di Chicago, Apple menfantastiskan fitur – fitur adaptasi antara guru bersama muridnya. Kemarin malam sambil mengikuti live blog The Verge, presentasi Apple berkonsep kegiatan belajar.

Apple tidak sendiri, sebelumnya Google merilis Chrombook berbasis Tablet, walaupun segumpal fiturnya dikerjakan oleh web.

Apa yang baru

  • Merilis update terbaru Numbers, Pages dan Keynote, ditambah dukungan Apple Pencil
  • Aplikasi khusus guru bernama Classroom, mengawasi kegiatan iPad selama pembelajaran berlangsung.
  • Aplikasi khusus guru bernama Schoolwork, melihat perkembangan murid, memberi tugas atau proyek dengan basis media dukungan aplikasi pihak ketiga iOS, layaknya gampang saling mengirim email. Developer bisa menintegrasikan dukungan tersebut, lewat ClassKit.
  • Apple dan Logitech merilis Crayon Stylus, sebagai pengganti Apple Pencil.
  • Kategorikan AR di dunia pendidikan, visual grafis meluapkan imajinasi di tatanan gerakan kamera 2D atau 3D, AR Classroom menghadirkan Aplikasi menyenangkan demonstrasi Biologi atau Fisika, juga taman bermain untuk Anak TK. Juga Pembelajaran program bahasa Swift sudah ditemani AR. *AR -> Augmented Reality

Aspirasi Minggu Ini

Baca Interview Offscreen Magazine bersama Craig Mod, seorang penulis yang meninggalkan jejak di Silicon Valley sebagai Programmer dan Desainer, sekarang tinggal di Jepang.

Tidak ada kebiasaan selfie lagi di festival film Cannes, termasuk fans dan publik figur – Hollywood Reporter

Twitter memblokir iklan berkaitan Cryptocurrency – The Verge

Uber menjual aset Asia Tenggara-nya ke Grab, selagi rivalitas menuju final berhadapan Gojek – Axios

Startup Electric Scooter Sharing, Yugo, di jalanan Barcelona, terasa emosi vintage di tempat romantis – TechCrunch

Edisi Majalah Monocle April 2018, Interview bersama Presiden Republik Indonesia, Pak Jokowi. – Monocle.

Posted by:Firasraf

Based on Indonesia, designer, iOS Developer, and Art Books Dealer

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.