Digital Geneva Convention, Slack Menyenggol Email, Kondisi Retail Vetements

Minggu yang padat untuk menyelesaikan surat kabar ini, semoga tetap produktif untuk menulis juga mengikuti kondisi bisnis sekarang. Ini adalah pekerjaan sempurna yang mencerminkan diriku sebagai pemain industri Internet, menulis, tapi generasi semakin terbaru, apakah masih ada apresiasi untuk membaca, plus fokus.

Seharusnya dijadwalkan hari Rabu untuk surat kabar mingguan, tetap saja belum disiplin, jadwal hadir di Singapore hingga hari Rabu kemarin.


Perjanjian Digital Geneva Convention

Sumber: The Guardian

Cyber Attack, konsekuensi yang telah meninggalkan sejarah buruk sepanjang budaya internet. Presiden Microsoft, Brad Smith telah mendorong inisiatif ini, ‘Digital Geneva Convention’. Termasuk Microsoft mengikat janji, perusahaan keamanan Siber TrendMicro juga mendeklarasikan, Facebook juga ikut. Sayangnya perwakilan kerajaan Silicon Valley tidak mengikuti, Google Apple dan Amazon.

Isunya negara Inggris sangat agresif untuk mencegah tindakan Cyberattack dari Russia, termasuk pelajaran Amerika tahun 2016.

Program ini sebagai perjanjian untuk tidak menggunakan Cyber Attack sebagai penyerangan Masyarakat awam untuk kepentingan sendiri, politik dan bisnis. Juga tidak membantu pemerintahan tanpa memikirkan kondisi lain. Perusahaan dalam sektor teknologi sangat dianggap tidak kemanusiaan untuk membongkar privasi orang atau kompetitor, dalam bermain fair.

Tidak berlaku program nasional, Organisasi kemanusiaan UNHCR sudah memberikan suaranya untuk ‘Digital Geneva Convention’. Cyber Attack adalah zona peperangan baru, yang dampaknya sudah tersentuh di kalangan biasa. Individual dengan kemampuan sendiri, atau suatu perusahaan pribadi ingin menyerang Siber dengan merekrut seorang ahli, jahat halus untuk menaklukan lawan.


Slack ingin Menyenggol Email

Tidak biasa membahas ulasan produk

Membaca beberapa artikel terbaru tentang produk Slack, lama – kelamaan mereka ingin menggantikan apa yang diatur dalam Email untuk berbisnis, apalagi pembahasannya cenderung mengubah komunikasi bisnis ke pihak luar, seperti Freelancer,

Aku bukan pelanggan Slack, belum tahu bagaimana cara masuk organisasi Slack?

Menariknya, salah satu diskusinya fitur ‘Shared Channels’, mungkin hubungan antara organisasi besar dan agensi, bisa memilah Channel di mana proyek berkaitan dan mengajak Freelancer masuk dalam, tanpa menggangu korporasi internal dalam Channel lainnya.

Slack berharap ‘Shared Channels’ adalah keterkaitan suatu kolaborasi yang fokus antara pihak ketiga dan dalam, tanpa terganggu prioritas lain, bisa jadi ini pemanfaatan mereka terhadap kelemahan email di sini, manajemen.

Interaktif Aplikasi Slack

email-embedded-on-slack
Slack beserta Integrasi-nya – Slack

Selain menyenggol Email dalam prioritas komunikasi, Slack punya jangka panjang untuk mengajak pengembang aplikasi, terutama kebutuhan data dan konten. Contohnya Key Performances Indicator dalam performa Marketing.

Luasnya basis potensi ini, respon terhadap suatu keputusan, permintaan dan perjanjian eksekusi selanjutnya, apalagi permintaan data sekarang tertumpah, tidak ada yang boleh terlewatkan, sayangnya prinsip ku itu tetap hanya penunjuk nilai daripada penunjuk emosi, sebanding dengan membayar tagihan bulanannya, satu media percakapan berubah menjadi interaktif data dalam waktu tercepat.


Benarkah Vetements Lemah dalam Penjualan?

A post shared by VETEMENTS (@vetements_official) on

Kondisi terkininya VETEMENTS akan percaya untuk maju terus, ‘Fashion adalah Pakaian, Fashion bukanlah Hype., tidak mendukung jurnalisme berdasarkan kebohongan’

Investigasi HIGHSNOBIETY, Vetements perlu memperhatikan realitas fashion-nya. Paragraf terakhir oleh Alec Leach ‘Ujung – ujungnya pasar konsumen tidak bodoh’.

Vetements terlalu menikmati hadiahnya setelah mengejutkan generasi internet, kesan sosial media, diskusi tidak henti desain baju kuning DHL, se-harga $200.

Demna Gvaslia, sekaligus kreatif direktur Balenciaga, tidak ada yang mengira justru pasar retail-nya lebih berpihak ke koleksi Balenciaga, daripada tanggung jawabnya bersama Vetements. HIGHSNOBIETY mengumpulkan cerita dari orang – orang balik layar, retail toko juga beberapa pembeli dari Asia, Mereka melihat Vetements tidak sebanding dengan kesuksesannya di fashion-nya Internet.

Harga tinggi demi kualitas, padahal CEO nya, saudara Demna, Gurma Gvaslia, meluruskan membatasi kuantitas-nya demi nilai sukses brand ini sendiri. Sayangnya, realitas menjawab Ketika brand mendiskonkan besar – besaran berarti masih banyak koleksi bersisa dari apa yang di jual.

The Fashion Law, tertuju Vetements tidak mendaftarkan ‘jangka panjangnya’ di strategi mereka, lebih nyaman menarik perhatian Millenials juga pusat perhatian Internet, dampaknya, tingkatan Hype yang berbahaya untuk diikuti.

Apa alur konsep, tetap terjaga rasa misteriusnya di hadapan pasar termasuk Hype, prinsip brand ini, bisa membalikkan keadaan kompetisi dari lawan sendiri?


Aspirasi Minggu Ini

Grup Hospitality Marriot meluncurkan Moments merketplace, Platform berbasis Web menjual pengalaman hiburan – Bloomberg Pursuits

Sebagai salah satu fitur keanggotaan Marriot Rewards, memperkuat hubungan loyalitas. Marriot mengambil potensi wisata – wisata dunia, juga kemewahan privasi tawaran khusus. Bisnis hiburan yang selalu dipandang nilai mahal, tidak bisa sekedar mempermuda layanan hotel. Dedikasi Marriot di pengalaman wisata, sadar kebiasaan Travelers cepat berganti, layaknya Airbnb menguasai pengalamannya sendiri.


Apple berencana sistem langganan berbayar (Subscriptions) untuk Apple News – Bloomberg Technology

Apple mudah diprediksi jika bisnisnya mementingkan keselamatan finansial berseni di Internet, terlebih Media. Apple News, diam – diam naik pesat di negara pilihannya, tak dipungkiri Apple memilih jalan ini daripada fitur iklan.


Pasca Facebook, Instagram mengubah struktur API dalam privasi, Influencer merasa pengaruh – Business of Fashion

Kreatifnya Influencer di Instagram, mereka masih memerlukan metriks data. Terutama perusahaan pihak ketiga analisa data yang mengumpulkan Graph API Instagram terhadap konsumen Influencer. Artikel ini, membandingkan kondisi perusahaan pemegang data, terutama Marketing.


Sejak Tim Cook ber-argumen dengan Facebook, Silicon Valley telah terbagi menjadi dua – Barron’s

Essay ini mengembangkan prediksi ketika Apple menjadi perusahaan terbesar di dunia dengan cara berjualan lama, dibandingkan Facebook yang mengutamakan ‘gratis’ sebagai kunci inovasi-nya. Perbedaan antara lawan ‘langsung ke konsumen’ (direct-to-consumer) dan ‘dorongan sistem iklan’ (ad-driven business).


National Geographic mendesain wajah baru layout publikasi majalahnya – It’s Nice That

Mulai isu bulan Mei, National Geographic mengganti elemen desainnya dari warna, typography hingga cerita visual. Terkenal dengan pesan Fotografi-nya, juga Typography dari beberapa inspirasi dari petualang juga ilmuwan, Sylvia Earle.


Selamat menikmati akhir minggu..

Merasa Vetements masih eksis?, apa aku kurang jadi Great Linker?, di mana salah kata – kataku?, Cerita ya -> firasraf@kicikku.com