Aku masih meyakinkan Indonesia, surat kabar KICIKKU adalah petualangan jurnal bisnis dalam cover internasional, langganan berbayar mendorongku untuk menulis disiplin, tak terkecuali ‘berjangka panjang’,

ini lama kelamaan sudah masuk bahasa jurnalistik. Terima kasih kembali sebagai pengingat motivasi.

 

Sebagai pembuka aku penasaran apa sehatnya menjadi Investor Facebook, ketika kamu tahu bahwa privasi orang ditusuk diam – diam untuk menjadikan produk mereka, tanpa rasa kita sudah terpengaruh dengan narasi Mark Zuckerberg, kenapa mereka masih mempertahankannya?, ketika suara terendah tidak terima dengan permainan privasi sebagai arsitektur mereka, sedangkan Google sendiri justru tak terhindar istana-nya.

Tak habis mencari inspirasi, terkesan dengan POPEYE Magazine, termasuk Instagram-nya, salah satu wishlist ku untuk mendapatkan buku ini, nyesal kemarin ga ambil satu waktu di Singapore, Books Kinokuniya.

Nilai Supplier Turun, Apple iPhone Ikutan Pesimis

Maksudnya Wall Street yang pesimis, ketika Supplier tidak melewati prediksi Wall Street, dengan demikian Partner bisnis sekitar Apple lainnya juga terpengaruh dengan nilai turun tersebut. Apple sendiri belum melapor performa Q2-nya, akan terbit tanggal 1 Mei.

Taiwan Semiconductor Manufacturing, dari revenue kuartal ini dari $7.8 Billion hingga $7.9 Billion rata – rata, estimasi Wall Street $8.8 Billion. Pengaruh tersebut, Apple sedikit menerjunkan sahamnya hingga kehilangan $63.9 Billion, sejak hari senin kemarin.

Morgan Stanley sendiri sudah menurunkan batas pencapaian Supplier iPhone, dari 40.5 Million ke 34 Million. Istilah Wall Street tidak lembut menghadapi penurunan ini, ‘Full Panic Mode’, apa karena Apple sasaran empuk nilai beli ternyata juga bisa mengejutkan untuk jangka panjang?

Pasar Konvensional Apple

Jika memang, Apple tidak mesti lagi menyampaikan produk utamanya dalam iPhone, sebab jatuhnya  nilai ketertarikan Smartphone. Konsistensi Apple masih menggunakan konvensional model, berlaku mengembangkan produk canggih, dan menjualnya sebanding dengan kualitas, akan mengedepankan lagi di mana letak teknologi di kehidupan sehari – sehari?. Isunya Smartphone, membuat orang banyak sadar, juga kebutuhan yang tidak perlu diperbaharui ketika Apple mengeluarkan iPhone setiap tahun.

Berawal dari Tanda – tanda ketika iPhone X sendiri tidak menemukan performa bagus, selain iPhone 8 dan 8 Plus justru banyak mengambil keuntungan dari China (Quartz). Tim Cook menklaim iPhone X selalu naik penjualannya tiap minggu se-dunia sejak rilis November (CNET).

Sumber: CNBC

Apple Perlu Pikirkan Menangkal Adiksi

Essay Wired UK, berbau sugesti desain, menyalahkan ‘adiksi Facebook’ di awal memang terlalu egois, menyalahkan satu sama lain juga salah, semua berasal dari kepentingan sendiri. Di akhir artikel penulis mempercayai Apple, serta bagaimana Steve Jobs sudah merealisasikan mimpinya ‘computer for the rest of us’, realitas sekarang bercerita beda, jika Apple mengubah cara pandang iPhone untuk ke depan, yang lain juga akan mengikuti.

Hasil Prediksi Wall Street

Minggu – minggu ini, Wall Street menilai realitas Q1 2018

Twitter ternyata kuat profit di Jepang dan China, Q1 2018 menghasilkan $665 Million, dengan jarak antara estimasi $61 Million, Saham justru bernilai negatif. – Twitter Investor Relations

Facebook tidak terpengaruh dampak oleh Skandal, Q1 2018 melebihi prediksi performa  $11.97 Billion, estimasi penjualan $11.41 Billion, positif akan semakin besar, masalah privasi tidak akan terima, pemegang saham menerima sebagai berita bahagia, pengguna Q1 juga terus naik, kutipan Analyst RBC Capital Markets ‘Marketers tetap berinvestasi di platform ini, kami percaya eksekusi ini akan memimpin dari sebuah kata – kata’. – Bloomberg Technology


Google Masih Penasaran Sukses di Platform Chatting

Waymo, Youtube, Google dan Alphabet dari mengatur multi korporasi mereka, masih penasaran juga dengan kondisi platform messenger terbarunya, Allo, kini prioritasnya menuju Google Chat, panggil saja ‘Chat’. Google punya sejarah panjang gonta – ganti platform chatting.

Dari cerita eksklusif THE VERGE,

Produk terbaru, ‘Chat’ mesti keputusan konsisten. Cerita Theverge sendiri, Google harus beradu bagaimana orang menganggap platform tersebut menimpa layanan SMS, bahkan rencana-nya layanan ini hanya berlaku dari operator, perkembangannya sedang lobby lebih dari 50 operator, bukan hanya koneksi internet biasa, anggap saja registrasi Blackberry Messenger.

Keamanan pun, belum kepentingan Google, mereka meluruskan hal ini hanya kepada pasar konsumen, kesan pertama orang yang ditunjuk oleh CEO Sundar Pichai, Anil Sabharwal.

Memanfaatkan Posisi Android

Skala global Android memudahkan Google dan Sabharwal mengutarakan platform ‘Chat’. Theverge meluruskan ‘Ikuti saja iMessage tapi versi Android’, betul, Google berada di pandangan lain selain ingin mengakuinya. Chat tidak mau menjadi kompetitor menjadi aplikasi chatting lainnya, Chat-nya Google akan menjadi bawaan sistem komunikasi Android, bukan pihak ketiga seperti Google+ atau Allo, mensyaratkan registrasi paket data dari operator.

Jika penerima pesan tidak mendukung ‘Chat’ dendan Android itu sendiri, atau pengguna iPhone, otomatis akan berubah layanan SMS.


Bisnis Gmail dalam Enterprise

Reuters meliput pasar layanan bisnis Google ingin menjauhkan Microsoft dari konsumennya, G Suite mengakui membuktikan 8 kali keuntungan lebih tinggi sebagai paket bisnis ini.

Maksud terselubung pesan dari Google, jiwa muda desain Gmail terbaru menarik perhatian, sayangnya dibuat penasaran dulu, sembunyikan di bagian konfigurasi, biar ketawan siapa yang antusias, selagi aku menulis surat kabar ini lebih suka bersama Google Docs dari paket G Suite, daripada Microsoft Word bajakan.

Google konsisten terhadap internal layanan Email, tak terkecuali pasang ruangan iklan dan kelebihan prioritas untuk pengguna bisnis.

Fitur Gmail ‘Confidential’

Setelah Google menambah fitur AMP di Gmail, Google kembali agresif. ‘Confidential’ akses limit email dalam waktu yang ditetapkan juga verifikasi Passcode dengan Mobile untuk membacanya. Kutipan Reuters, Google akan memimpin 8% pengguna bisnis setiap minggunya atas fondasi penting ini.

Juga menunjukkan kecerdasan Email seperti sugesti balas dan mengingat email terlupakan, identifikasi Spam, berkat resep teknologi A.I. sendiri Google’s Tensor, Google menghabiskan investasi dari penjualan produk fisiknya untuk pengembangan ini.

Jujur, aku berkiblat dengan Google untuk layanan ini, mereka tidak perlu berpikir besar dan ribet sebagai pemicu inovasi, inisial Internet adalah permainan mereka dari menguasai Web, hal yang tidak terhindarkan, dan Gmail semua orang merasa wajib memilikinya, tidak ada yang lain, cukup Google saja.

Sumber: Reuters

Bicara soal bisnis Google dengan luar

Netflix sebagai partner lama Cloud dengan Amazon, sekarang lagi tes mic dengan Google Cloud – CloudTech

Netflix selagi terbuka, mereka butuh infrastruktur Cloud untuk proyek berkaitan, seperti kecelakaan recover juga kecerdasan buatan. Aku merasa ada emosi dari keputusan Netflix, di mana Google Cloud pun sendiri sedang berperang juga dengan AWS, yang sedang memimpin. Netflix merespon ‘tidak perlu membesarkan masalah ini’.


Disney vs. Netflix, Produser Film, tapi Bukan Produser

Disney memutuskan untuk mengembangkan platform sendiri, seiring tidak menarik konten Marvel dari Netflix, ekspetasinya tahun 2019 rilis, dengan serial Star Wars juga pertarungan selanjutnya Marvel.

Kontrak berkata lain

Disney terlambat dengan Netflix yang sudah maju duluan sebagai pembuat konten film terbesar di dunia, perang Streaming sudah bersifat jangka panjang, tidak ada yang bisa menjadikan hal tersebut.

Disney akan menarik konten filmnya termasuk Marvel, Pixar, LucasFilm dari Netflix hingga tahun 2019, kalau beberapa film Disney yang akan rilis tahun 2019, konten tersebut tidak lagi ada perjanjian dengan Netflix, beralih ke Streaming Disney sendiri. Mungkin Avengers: Infinity War tidak hadir di Netflix.

Jika memang prediksi Streaming akan menggantikan cara menikmati konten film, Streaming platform sebagai kebutuhan hiburan sehari – hari, membuat konsumsi ini saling proaktif untuk terus berkarya, ambil positif saja duduk dan nikmati sendiri. Disney memiliki konsumen segala umur dan Netflix lebih memilah variasi konsumen di setiap kategori, jelas Netflix merasa tersinggung jika Disney membuat Streaming sendiri, jelas juga Disney sebagai pemimpin bisnis hiburan memiliki keputusan ini.

TV Serial Disney sendiri, Star Wars: Resistance akan tayang di Disney Channel, terinspirasi dari penerbangan perang dunia 2, sekaligus koleksi Streaming Disney.

Sumber: Polygon


Budaya Desain Kehilangan Arah

Bukan Startup namanya jika tidak berujung uang yang bicara, mengingat essay pendek sebelumnya. Aku ingin tegaskan Startup berasal dari memulai bisnis, campur aduk teknologi, bukan berarti kita memikirkan inovasi kemanusiaan, tapi investasi inginnya konsisten dan jangka panjang, mendeklarasikan inovasi menghasilkan uang, bukan menyelesaikan masalah, tegas berbau tajam. Penyebab inilah desain merasa kehilangan arah, sebagai apa perannya?


Apa benar Dopamine yang bikin nempel ke teknologi, pemicu adiksi – The Guardian

Kalau cari artikel cinta di Internet, tidak ada habis – habisnya merasa kurang motivasi, hingga mereka membanggakanmu, terjun ke halaman lain, hingga membeli produk resep cinta. Tidak akan ada trik, jika belum menguntungkan. Teknologi bisa saja mensyaratkan ini, untuk realisasi efektifnya, pertanyaannya apa pilihanmu?


Sosial Media sebagai media kreativitas – The Creative Independent

Susah kalau menghiraukan sosial media, apalagi mendengar masalah buruk terhadap budaya manusia. Artikel ini mengambil positifnya saja. Fokus ke sosial media Twitter, beberapa penulis merasa Twitter, sebagai proses menulis kasar, memanfaatkan batas kata – kata, paling cepat meluapkan emosi, di sinilah balik layarnya.


Instagram Stories, salah satu sosial media penggerak traffic publikasi dan influencers – Digiday

Setelah ku ketahui, beberapa media menggunakan video durasi pendek ini untuk menaikkan Subscriber langganan publikasi, salah satunya National Geographics, di mana visual adalah pembelajaran penasaran untuk pengunjung. Seharusnya aku sedikit terbuka untuk ide ini, boleh saja ingin mencoba.


Silicon Valley, Penggerak komersial ‘Fasting’ – Bloomberg Businessweek

Istilah kita ‘berpuasa’ di Indonesia, Silicon Valley menggerakkannya sebagai inovasi alternatif diet dan pola makan, bahkan cair menjadi bisnis konsultasi kesehatan. Berbentuk aplikasi, memberikan arahan dalam langganan tahunan, tak terkira juga menjadi Google Trends ‘intermittent fasting’.


IKEA sedang merencanakan hotel, dari bangunan Arsitek Marcel Breuer – deezen

Sejarah menjadi perusahaan produk desainer terus tertulis oleh IKEA, kini menjadikan bangaunan. Belum ada kepastian tentang rencana apa yang terjadi dengan Pirelli Tire Building ini di Connecticut dan ku baru tahu nama kategori bangunan ini ‘Brutalism’. Berikan aku istilah tentang ini.


Spotify masih menegakkan pedangnya, mengajak dari gratis – TechCrunch

Desain terbaru untuk mobile, gratis dengar lagu tanpa iklan lanjutan di Playlists utama, menganggap sebagai Radio, sebagai celah berbasis iklan, kecuali dengar offiline. Spotify masih memprioritaskan layanan gratis, Musik tidak boleh tertekan oleh disruption ini, jangan sampai penyakitnya, data hanya mempermainkan konten tersebut, tanpa nilai balik seni. Juga ada harapan, ‘mengajak orang ke toko rekaman musik’. Tanda, piring hitam masih berjaya.


Google mendesain Korean Font juga ekspos interaktif garis struktur Typography – Google Fonts

Kutipan It’s Nice That, Google memang belum mencantumkan desain font Korea di perpustakaan Typography-nya, akhirnya menjadi dekorasi Google untuk persembahan Korea bersama desainer E Roon Kang dari New York, yang berpengalaman dalam budaya Hangul tersebut.

Mengenai proses pembuatannya, desainer harus mengerti istilah elemen mereka ‘jamo’, berarti juga untuk penulisan gaya huruf China dan Jepang, karya ini tergabung juga dengan keluarga font mewakili internasional dari Google, Noto Fonts.


Ada kesalahan?, mau kenalan?, ingin beropini sesuatu, hubungi aku, firasraf@kicikku.com

Posted by:Firasraf

Based on Indonesia, designer, iOS Developer, and Art Books Dealer