Search and Hit Enter

China Retail ‘O2O’, Sejarah Venture Capital, Karya Jaron Lanier, Mental Sosial Media, Sejuta Cerita Brand

Melanjutkan cerita China bersama Online Retail, bedakan antara Ecommerce dengan Online Retail, berarti China mengerti di mana jangka panjang seni berbelanja untuk generasi bisnis berikutnya?

Dari The Economist, China dan monster Alibaba menerapkan strategi O2O ‘online-to-offline’, pengalaman digital channel bertransaksi untuk bisnis konvensional, selain Alibaba, Tencent pemilik Wechat tidak boleh kalah berperang ketika Alibaba bersama 50 juta toko Hema Stores terpasang Alipay, Tencent berusaha mengadilinya bersama Wechat Pay.

Akhirnya penulis juga khawatir, dua monster ini tidak bisa dihimpit lagi oleh pemain bisnis kecil di China, kalau sudah permainan teknologi.

Keduanya sejak tahun 2016 sudah menghabiskan 10 milliar dollar Amerika untuk retail konvensional. China sudah bermain duluan dari Amerika dan Eropa, mengubah kembali pasar yang terjadi menjadi generasi baru, berarti tidak ada yang mati untuk retail, hanya pengalaman saja. Ingat juga, Amazon tidak laku untuk negara maju Singapore, karena penduduknya suka menikmati jalan – jalan untuk berbelanja.


Essay panjang

Panduan fungsi Venture Capital dalam budaya Startup Teknologi – Logic Magazine

Venture Capital (VC) adalah penggerak balik layar finansial untuk ambisius Startup, VC tidak hanya meletakkan investasi untuk realisasi dan kembalian, mereka ingin lipatan angka.

Kolumn ini mengundang sejarah awal mula industri Venture Capital, berawal dari pemegang Nobel fisikawan William Shockley dengan perusahaan semikonduktor bernama Shockley, bermasalah SDM enginner keluar kesal. Ingin menekspansi lagi?, seorang Analyst Arthur Rock mencarikan dana modal yang akhirnya ketemu kontrak bersama founder perusahaan kontraktor kamera udara, Fairchild.

Sejak itu Shockley menjadi perusahaan sukses pertama Silicon Valley dengan sumber dana Venture Capital, beralih masa depan, lahir raksasa VC ternama Kleiner Perkins dan Sequoia Capital.

Permainannya, di mana VC di sisi lain masih gagal di portfolio startup kecil mereka, harus menyeimbangkan Startup sukses besar untuk menutupi kegagalan tersebut. Keuntungan VC, publik tidak tahu berapa timbal balik yang mereka kumpulkan, sedangkan mereka lebih banyak mengatakan ‘tidak’ dari ‘iya’, yang mereka jadikan bisnis rata – rata kategori ‘aneh’ hingga bisnis ide biasa.

Masa depan Venture Capital?, generasi ICO (Initial Coin Offering) membebaskan transaksi untuk industri kreatif potensi, tidak terhindarkan juga untuk industri VC masih persembahan jangka panjang sana bagi narasi pengusaha teknologi, hingga ke langit.


Tidak seru lagi, tidak tahu menghabiskan waktu di Internet lagi – NYMag

Tulisan ini merindukan budaya blog yang dulu seru membacanya, tidak peduli ‘sempurna’, blogger menulis tidak penting di blognya, tak punya tujuan, suka – suka saja demi hiburan, sudah mati oleh jagat raya sosial media, generasi ini bisa menikmati nostalgia internet seperti ini lagi, tidak efekfif, bukan serba komersial, semua hanya diperuntukkan menghabiskan waktu, bukan menyelesaikan pekerjaan.

Tuangkan ide tulisanmu sekarang

txt-fyi

TXT.FYI, ‘dumbest publishing platform on the web’, lebih berarti daripada mengeluh status sosial media, nikmati, sadari, tentukan sendiri. Kembali ke apresiasi diri sendiri.


Deretan Buku

Jaron Lanier, Who Owns The Future, ini sebelumnya pernah kubaca. Sekarang rilisan terbarunya memerintah terang – menerang, sudah saatnya keluar dari sosial media, Ten Arguments For Deleting Your Social Media Accounts Right Now.

Dari dulu filsuf teknologi sudah memprediksi ini tidak akan berakhir baik untuk kemanusiaan, tulisan lamanya sudah memprediksi sekian privasi data. Buku rekomendasi bulan ini, bahkan aku belum membca.

jaron-lanier-tenarguments

Giliran Cookbook, inspirasi restoran ayam grill terkenal Hongkong, Yardbird, merilis bersama Phaidon. Suasananya selalu mengantri, proses potongan ayam hingga ke meja makanan, resep rahasia menu Yardbird, anatomi Yakatori *istilah Jepangnya Sate, bedanya lebih kaya rasa dagingnya, disinilah cerita konsistennya. Chicken and Charcoal: Yakitori, Yardbird, Hong Kong.

@yardbirdhk

Bonus, 10 buku rekomendasi dari The Guardian untuk mengerti kebahagiaan dan buku posisi pertama adalah cerita komedi sejarah perang deklarasi inggris terhadap Jerman, Adolf Hitler: My Part in his Downfall, oleh Spike Milligan. Aku rasa rekomendasi ini tidak ada kaitannya dengan kebahagiaan, sebagai inspirasi penulis menyinggung arti bahagia.

Bukan sejuta brand artikel

Proses Pembuatan Brand – Collaborative Fund

Dari sekian ratusan artikel mengajarkan brand, ini rekomendasi aku yang tidak akan menyesatkan pembaca, apa yang ku dapat di sini, komitmen, disiplin diri, biarkan orang melihatmu ‘kamu mengulanginya sekian sekali’, di sinilah keunikannya.

Yang ku petik,

Sederhana, kita menyadari bahwa memperlambat diri fokus terhadap kualitas dan konsistensi adalah cara baru memenangkan konsumen. Salah paham sekarang, kita justru mengorbankan konsistensi untuk menguasai kompetisi, senjata tumbuh pesat.

Contoh, Coca – Cola menguji resep minuman sodanya 200,000 kali hingga mengerti lidah konsumen maunya apa, tak puas dengan resep inisial

Pesan pendeknya, Marketing dan Desain memang berarti di sini, sekedar sebagai pesan, ujung ceritanya konsumen selalu menikmatinya dan apa yang diharapkan untuk besok, dan itu butuh kekuatan kerja keras untuk bertahan.


Cara Kerja Instagram Algoritma – TechCrunch

Tiga kunci komponen lapisan konten Instagram, Interest, memprediksi apa yang kamu pedulikan selama melihat feed atau stories, Recency,  jangka bagaimana konten dibagikan memprioritaskan urutan berdasarkan waktu, Relationship, seberapa dekat kamu bersama pengguna lain, interaksi komentar, likes, selagi mengurutkan rangking di dalam komunitas sendiri.

Instagram bermain seimbang, akun bisnis atau pribadi, fitur spesial, tidak membantu perlakuan khusus untuk perhatian konten.

Setelah Instagram, Facebook Juga mengembangkan platform tontonan berita sendiri, dari Wall Street Journal, kabarnya konten juga dari CNN.

Setelah Facebook menghapus fitur kolumn ‘trending’ topik, mereka terarah untuk menerapkan ‘breaking news’ dan fokus apa yang disampaikan dari masing – masing media lokal. Facebook tak kunjung usai menceritakan visinya dalam inovasi jurnalisme dan media, bertahap dan lambat via China Daily.

Dilema Sosial Media berlanjut

Kebiasaan pengguna Sosial Media Pengaruh Penyakit Mental – The Economist

Hampir 63% pengguna Instagram tidak merasa nyaman di platform, tidak bahagia secara mental. Sosial media berangsur – angsur menyerap aktivitas sehari – hari, dari data Royal Society Public Health, waktu tidur, takut kehilangan perhatian ‘fear of missing out’, mengekspresikan diri, rata – rata berada di dampak negatif.

Kalangan Remaja Hilang Selera di Facebook – Pew Research Center

Untungnya Mark Zuckerberg memiliki Instagram, senjata antik untuk generasi muda dan berikutnya, 85% remaja Amerika mayoritas berada di Youtube dan sering menggunakannya 32%. Sedangkan Facebook mengambil 52%, sering menggunakannya hanya kisaran 10%. Snapchat mengejutkan rata – rata angka sebesar 69%, masih di atas Facebook.

Jual Beli Obat – obatan, Sosial Media Kehilangan Arah – BuzzFeed News 

Setiap artikel yang ku baca di BuzzFeed News, mereka punya bukti berada dalam skenario, walaupun itu kritik untuk internet. Jane Lytvynenko Reporter membedakan kasusnya di setiap platform, termasuk jangkit di LinkedIn, Instagram, juga Pinterest, kebebasan pengguna menyebarkan tawaran obat illegal termasuk kontak penjual, pasar ini memicu pertanyaan apa arti kebebasan di sosial media?


Berikan saran?, kenalan hingga secangkir kopi?, kencan buta? -> firasraf@kicikku.com

%d blogger menyukai ini: