JD.com dan Google, Disney as a Service, Terlaku Kenyang ‘Strategi’, Airbnb dan Jepang

Strategi, kata ini sudah menyadari kita, berlebihan dalam Strategi pun membuat kita takut menghadapi realitas.

Artikel dari LinkedIn ini ‘Semakin kamu menulis ‘strategi’, semakin tidak akan kamu memilikinya’, menunjukkan telur harus dipecahkan sekarang daripada menggoyangkannya dulu atau ketuk – ketuk kecil, tak pernah pasti, tak pernah terlihat berhasil, tak pernah terlihat gagal, cukup strategi sebagai prediksi tak terpengaruh, begitu jalan barulah rasanya merasakan strategi.

Strategi bisa saja termasuk menyalahi satu sama lain, rasanya ingin selalu selamat, jauh dari konflik integritas, anak beranak dari finansial, produksi, tim marketing, semua melempar argumen, demi satu keputusan di satu produk, ‘Strategi’.

‘Progress, berada di skala yang bermanfaat, tidak seperti ‘Strategi’ belum tertantang menhadapi situasinya’.

Tidak pernah menggapai apa rasanya berada di kalangan kreatif internal ini, jelasnya begitu mereka keseringan membawa ‘strategi’ untuk ekspetasi selanjutnya, aku rasa perusahaan itu memang kepintaran.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 H, bagi pembaca yang merayakannya. Selama Lebaran aku pun harus memikirkan apa prioritas dan konsistensiku, tulisan pendek Seth Godin memotivasiku, ‘kalau kamu merasa tertinggal dan memilih keluar, itu sama saja termakan jebakan sendiri’. Berarti hingga sekarang, apakah aku harus tetap menulis?


Disney as a Service, Masa Depan Disney langganan konten Streaming – REDEF

Begitu banyak pertanyaan dari keputusan Disney menjadi bagian distribusi konten?, tulisan inilah penjelasanya. Akhir kolumn Disney selalu menjadi platform storytelling di pertaruhkan di sini, walaupun nama besar di dunia konten Marvel dan Star Wars sudah menunjukkan jangka panjang. Cerita langganan Disney di sini, mereka tidak hanya melayani tontonan, buku, komik bahkan mainan, juga termasuk keluarga.

Mengenai soal bisnis media, di kalangan Internet, mereka menganggap ini senjata ampuh. Menarik perhatian konsumen, melibatkan kreativitas talenta, sekali hidup api, apapun terbakar.


Google Mempercayai JD.com investasi bernilai 550 Juta dollar Amerika – Reuters

JD.com memanfaatkan kekuatan Google, JD.com pun harus membuktikan uangnya, Google tinggal menikmatinya. Partisipasi Google di Asia jadi bahan kompetisi dengan para Monster lainnya, Alibaba juga Walmart di China.

Bikinan Mobile OS Sendiri, eelo – The Register

Bedanya dengan Open Source Google Android, eelo meluruskan bahwa ‘data adalah data-mu, sekian’. Google hanya setengah – tengah masalah terbuka, ujung – ujungnya kesenangan data pengguna terus terang harus di tangan mereka, berkat kekuatan gratis. eelo adalah sisi kemanusiaan ini, masih modifikasi Android, bedanya tidak ada layanan Google.

Kesenangan sendiri atau demi followers Instagram, Ujungnya Hotel punya bisnis – The Atlantic

Seenak – enaknya Influencer minta nginap gratis hingga diskon, mendingan melayani penginap yang minta tambahan tempat tidur gratis daripada pengharap jutaan Followers. Artikel ini, aku lebih ke sisi mengkritik Influencer. Pertanyaannya, apakah benar Blogger dan Influencer bisa menjadi pemain bisnis untuk meramaikan inap hotel?, pandai – pandai bermain.

Jurnal Travel Albert Einstein – The Guardian

Albert Einstein memiliki pengalaman tertulis selama pergi ke berbagai belahan dunia, cara dia menjelaskan setiap kebiasaan budaya negara sana, terutama tidak sebanding di matanya. Penerbit Princeton sudah membukukan diari ini.

Bicara soal Xenophobia,

Jepang menetapkan hukum Home Sharing, Airbnb Terasa Berat – The Daily Beast

Pemerintah Jepang tidak bisa sembarangan memberikan kenyamanan orang asing, apalagi untuk daerah sekitar orang lokal, demi kedisiplinan mereka. Mulai sekarang, penyewa harus mensyaratkan idenditas nomor lisensi inap sebagai terdaftar Hosts Airbnb Japan mulai 15 Juni. Sejak tanggal itu hingga 19 Juni, tamu Airbnb terpaksa membatalkan reservasinya.

Pekerjaan Omong Kosong?, Apa Tantanganmu? – Hacker Noon

Seterusnya ini membingungkan, susah menjelaskan karena essay ini, kuncinya penasaran. Pekerjaan omong kosong, yang setiap hari begitu – gitu saja, bersyukur memiliki gaji bulanan, tidak pandai mengambil resiko, keadaan selalu kalah di depan penguasa. Kecuali, pekerjaan kreatif dan insting ambisius.


Fashion

Misi Nike mengubah masa depan planet ini – Deezen Digital

Perusahaan Fashion Nike menyatukan kompetisi menyelesaikan masalah dampak lingkungan global, setelah apa yang Fashion lakukan selama merusaknya. Wawancara bersama Chief Environmental Officer Nike, Hannah Jones, Nike peduli berkelanjutan ramah lingkungan produknya, walaupun sebagian konsumennya belum tahu konsekuensinya.

Zara Mencari Teknologi Untuk Sebanding dengan Platform Fashion Lainnya – Business of Fashion

‘Tidak ada resep rahasia untuk bisnis baju’, semuanya melakukan hal sama, membangun platform, online / offline retail, share ke sosmed, banyakin konten. ‘Tapi soal mempersingkat waktu, tidak ada cara lain selain produksi lokal’. Kasus Zara di sini memfondasikan teknologi untuk bersaing.


Desain

Energi Desain Untuk Masa Depan Sekolah – Architect Magazine

Ku akui, aku tidak mengerti dengan pembahasan ini, rekomendasi inspirasi pionner pendidikan. AltSchool boleh sistem yang bisa dipelajari, mereka mengangkat – angkat sumber daya teknologi dari kalangan Silicon Valley. Dari gaya tulisannya menjelaskan konsep ruangan pengaruh murid berinteraksi.

Bauhaus Dessau, Desainer Erik Spiekermann dan Adobe Mengembalikan Sejarah Grafis Jerman – Hidden Tresaures of Creativity

Bauhaus Dessau sendiri adalah studio industri kreatif dari tahun 1919, sebagai sekolah desain juga di sana. Jejak Typography masing – masing dimanfaatkan oleh Adobe memperbaharui menjadi format TypeKit mereka selagi sambil mengenangnya.


Cerita, suggesti, kritik, kenalan? -> firasraf@kicikku.com