Therapi Untuk AI, Instagram di Hati Facebook, Reservasi Google Duplex

Selalu hampa, tak pernah ada belas kasihan, tak pernah ada imbalan, selalu kalah oleh perhatian – perhatian massa. Ini pertanda, egois sudah ingin memusuhi?, kesabaran sudah hilang?. Tidak ada yang peduli apa yang kamu lakukan?.

Obatnya hanyalah, lupakan obsesi cinta, mulai pikirkan diri sendiri. Satu – satunya harapan palsu seperti ini membuatku bergairah ingin ‘lanjut’.


Kriteria Keselamatan AI

Kecerdasan buatan bisa saja melakukan kesalahan, kesalahan dari kebiasaan lalu, atau jejak cacat yang terulang lagi di buat olehnya. Jurnal riset ini adalah perkenalan untuk mengambil langkah ini dengan terapi, juga dari mengambil topik Psychopatology, di definisikan sebagai penjelasan tentang Mental Disorder, kecenderungan penyebab dan obatnya apa.

Ada tiga proses riset untuk mengetahui kecenderungan kebiasaan AI normal atau tidak

1. Modelling And Verification Tools

Selama AI sedang dalam membangun dirinya di antara desain data – datanya, mereka butuh mentor, mentor berstatus sebagai keselamatan AI yang tahu membedakan bahwa ada kecendurungan kelainan selama melakukan eksperimen, di sinilah verifikasi psikologi mulai

2. Diagnosis and Classification Orders

Tahap kedua, mengambil langkah dari hasil verifikasi AI, di sini proses mesin belajar *Machine Learning membedakan indikator cacat di antara gabungan kebiasaannya dalam bermain data. Indikator bisa terjadi dari pengalaman simulasi atau pengalaman skenario buruk yang terjadi di realitas.

3. Treatment

Tahap ketiga, pengobatan, ini bukan masalah AI harus belajar ulang dari kecacatannya, dari bahasa sederhananya, kita bisa menyuntik ‘kebiasaan baru’ dengan melatihnya apa yang harus dikoreksi, kedua berikan aturan luar.

Bahkan kompleksnya ini, tidak bisa sembarangan untuk mendekati pekerjaan AI, ada sebuah adaptasi halus, layaknya ingin sedang akrab.

Apa kaitannya dengan perilaku manusia, fatalnya AI bisakah berdampak seperti keegoisan manusia, adiktif, stress. Riset ini menyamai kekacauan AI dengan perilaku tersebut, akan merusak lingkungan di suatu inovasi kategori, rusaknya mementingkan diri sendiri dan tidak bertanggung jawab konsekuensinya ketika AI belajar dari kesesatan. Dari kolumn perkenalannya, ini efektif di bidang sains biologis juga budaya bersosial.

Baca detail, jurnalnya oleh Vahid Behzadan, Arslan Munir dan Roman V. Yampolskiy


Kabar sosial media

Instagram Stories sekarang terpasang fitur tambah Soundtracks, Tech Crunch – Selain Facebook bekerja sama dengan beberapa label industri musik, pertanyaannya bagaimana Loyalitas Facebook membayar konen untuk para musisi?, lainnya Facebook juga memberi kesempatan Creator Video memasang lagu sebelum persiapan upload.

Pelajaran dari Vogue oleh Digiday, Facebook lagi ga mood menambah traffic untuk konten Vogue, perhatian tersebut turun hingga 30% dari tahun sebelumnya. Justru langganan email naik hingga 32%.

Bintang Influencer terhadap Brand, bukan manusia asli pun menjual – CNN Money

Justru Brand ingin menyatu dalam dunia mereka, hingga produk sebagai refleksi komersial di CGI, kartun atau kesempatan kreatif media Influencer ini. Tapi tidak ada salah mencoba hal ini, terutama dunia Fashion, netizen pun tidak menganggap negatif.

Sebuah Paten Facebook Membaca Bagaimana Kamu Menonton Iklan – Ars Technica

Facebook dimanja kesuksesan Instagram

Dari surat kabar Dylan Byers CNN, ‘Semua orang pengguna Instagram yang merasa ‘tidak menggunakan Facebook’ sebenarnya pengguna Facebook.

Pengguna Facebook justru turun dan pengguna Instagram dapat hikmahnya, sekarang  siapa yang harusnya berterima kasih Mark Zuckerberg atau Kevin Systrom?, Instagram kini seharga 100 Miliar dollar Amerika.

Kenapa Instagram menguasai Sosial Media – The Week

Sekarang kondisinya sudah beda, kamu bisa membeli produk langsung di Instagram, identitas kartu kreditmu bisa melekat di sana.

Hasil copas Snapchat untuk Stories sudah bikin platform ini berkah konten untuk selipkan iklan, karena pengguna setiap hari berada di situ untuk hal balik layar di Snapgram, lebih banyak dari konsumsi TV, tambah waktu konsumsi TV dengan IGTV, inilah prinsip bisnisnya Facebook.

Kalau tidak ada Facebook pun, Instagram hanya sekedar bagi – bagi foto dengan filter – filter gaya Vintagenya tanpa mikirkan komersialnya bagaimana,

‘Dari melihat wanita cantik dengan kehidupan terbaiknya, hingga inspirasi desain grafis juga kumpulan momen liburan itu, apapun itu passionmu berada, Instagram berhasil mencocokannya’.

Batasan visual Instagram, ceritanya ingin menghubungkan antara komersial, ide, juga sebaran suaramu.


Pengalaman Google Duplex

Ini adalah kegagalan sempurna, Google berani percaya diri melompat untuk menjadikan percakapan AI dengan manusia, layaknya budaya bersosial bicara, terutama kehidupan bisnis sehari – hari.

Berbicara dengan Duplex, suara manusia buatan mengerikan dari Google – Fast Co. Design

Sejak terakhir Google I/O 2018 mempamerkan inovasi terbaru Google Duplex, fokus terhadap reservasi. Penulis merealisasikan masa depan Google di pengalamannya dan hal anehnya kalau penerima telfon atau karyawan mendapat sapa ‘Ini dari otomatis telfon Duplex, ingin memesan meja ini di waktu sekian’, opini ini mengingatkan kembali, Bagaimana Google menanggapi tidak hanya dari peran dalamGoogle saja, maukah publik spontan menerima telfon dari robot?

Berbicara dengan Duplex, Terasa Menuju Sesuatu yang besar – Recode

Beda dengan atas, penulis memberikan harapan di akhir cerita, Google pun merasa ini bukan menyamai dengan perilaku manusia biasa secara etika, tetap ada minimalisir, setelah pengalamannya bersama media.


Kritik dan suggesti, ada kesalahan mengambil kesimpulan? -> firasraf@kicikku.com