Monocle dan Sisi Tradisionalnya

Publikasi ini, publikasi yang merendahkan dari budidaya digital mengejar peringatan – peringatan demi angka – angka keuntungan. Tapi, Monocle memilih lambat, konvensional dan tradisional

Hubungan majalah Monocle dengan fansnya, cara mengenalnya seperti dari mulut ke mulut, majalah yang hanya terletak di toko buku impor, toko buku yang tahu membudidayakan budaya kreatif, sebarannya besar di internasional.

Soal cerita retail, cerita pengusaha menjadi gagal, interview orang balik layer, ini jagoannya Monocle, jadi pengusaha, tidak ada masalah, kecil besarnya menarik atau tidaknya bisnis di pasar – pasar, penulis kontributor di sana hanya ingin tahu kenapa pemegang sukses ini tak peduli dunia bicara apa, Monocle berhasil membangun komunitas.

Justru media digital sekarang yang menjadikan kita empuk sebagai sasaran zona nyaman, tradisional adalah resiko sebagai perbedaan di tanah orang – orang terpilih.

Tyler Brule, Sebagai editor perintis dari Canada, tak pernah tinggal dengan Jurnalisme, oh iya dan dia ga punya sosial media, sebagai pengusaha di Inggris dan pemilik Monocle, sejak tahun 2007, bahkan dia mengakui London sedikit mengecewakannya untuk masa depan Media, kutipannya dengan London Evening Standard, favoritnya Jerman Der Spiegel.


Monocle Sebagai Bukan Sekedar Majalah

Hebatnya Monocle tidak memiliki akun Instagram?, sebagai perwakilan fondasi dari Inggris, justru tidak mengambil kesempatan dalam konten. Lagi – lagi konten?, konten akan merusak prinsip Monocle.

Editor Monocle menganggap konten sebagai kelas bawah, dan majalah sendiri adalah kelas atas, meremehkan raksasa sosial media, biarkan sosial media mempromosikan dirinya, 80 acara pernah diadakan selama setahun, itulah strategi sosial media untuk meliputnya, kutipan dari persembahannya di DLDConference.

Melihat seni – seninya Instagram, sebenarnya apa yang dibalik foto – foto mereka, objek, dan orang senang melihat majalah, publikasi menjadi astetik foto. Monocle mengambil sekian persen sebagai bahasa promosinya, bukan begitu?, dan orang tahu kedudukan tinggi majalah lebih tinggi

Tegas kreasi editorialnya, Monocle salah satu perintis awal Paywall, sama – sama mengambil keuntungan antara pembaca dan media, ditambah aksesoris tas langganan 10 majalah bulanan dikirim gratis. Calon pembaca sudah tahu ‘apa produknya’ ini loyalitas.

Dari keliling dunia, berpusat di London, dengan staf dari seluruh dunia 135, sekarang mengekspansi bisnisnya menjadi sebagai kebutuhan sehari – hari, buka toko kecil di Tokyo, Hong Kong, Singapore, mengambil distrik di kota – kita besar, perwakilan asia, juga Kiosk Cafe untuk memulai hari pilihan kota Inggris dengan kopi, hidangan sarapan ringan, tak lupa untuk singgah memilih buku majalah teman produktif.


Desain, Emosi Serapan Bisnis

save-the-okura-hotel-2
Save Orako Hotel – Monocle

Jika Monocle tidak agresif dengan dunia desain, publikasi mana lagi yang bisa menceritakan seluruh aspek untuk hidup kembali berseni lagi.

Ada tiga kategori memecahkan desain di Monocle,

Pertama Arsitektur, arsitek juga berlaku dengan tata kota, firma yang merintis untuk memecahkan masalah konsep di budaya nya, ulasan bangunan unik serta merta apa fungsinya dengan penduduk sana.

Fashion, Monocle pandai menyambungkannya antara komersial dan desain, dan kolumn mereka tentang Fashion, lebih ke generasi penjahit – penjahit lokal, dan desainer muda yang mampu bersaing di pasar internasional, favoritku butik dari Paris, De Bonne Facture.

Bisnis, Monocle fokus terhadap toko – toko grosir, retail di jalanan, yang ceritanya bisa dipetik dengan pandangan desain. Terlalu kelebihan jika mengutarakan teknologi sebagai bahan utama, teknologi menurut Tyler hanya permainan puzzle nya.


Setelah Sukses Sebagai Bisnis Panduan Entrepreneur

Perjalanan yang tak akan berhenti – berhenti menjadi kebutuhan sehari – hari, Monocle berburu segala sisi sebagai kualitas hidup, lingkunganmu dan komunitasmu. Kabar terkininya, Monocle menawarkan apartemen khusus konsep mewah, sudah ada janji materialis dengan pemimpin properti Thailand.

Yang ku pelajari dari Monocle, aku ingin pandai menulis kritik essay tentang perhotelan juga budaya destinasi hiburan, inilah persembahan literasinya.


Baca juga beberapa ulasan tentang Monocle, dan petualangan tentang Monocle bisa saja berlanjut,
Langganan Pertama Majalah Monocle: Edisi September 2017 – KICIKKU

The Monocle Guide to Drinking and Dining – KICIKKU

The Monocle Guide to Good Business – KICIKKU