Search and Hit Enter

Fashion Boy Wakil Jepang, POPEYE Magazine

Bisa ga mengatakan suatu majalah lokal menyangkut kualitas penduduknya, cara penduduk menerima informasi?

Jepang, penduduk lokal yang telah terbiasa dengan bidang kreatif, bisa saja karena mereka sudah mendapat panduannya. POPEYE Magazine, adalah salah satunya, masuk kategori fashion. Sudah eksis sejak tahun 90an hingga berumur 40 tahun, mengoleksi old-school untuk sehari – hari anak muda sana, mengkategorikan setiap profesi dan interview orang – orang sekitar. Tidak ada yang istimewa, mereka hanya tetap sederhana dan konsisten, hingga orang tahu termasuk aku majalah POPEYE adalah panduan fashion yang paling penasaran

Untuk di toko buku, aku kemarin menemukannya di Singapore dan Kuala Lumpur, sayang lupa ku beli, padahal ini majalah juga termasuk cepat sold-out, sayangnya di Jakarta pun aku tidak menemukannya. Dari sekian pandangan Editor-In-Chief POPEYE Takahiro Kinoshita, ‘Fashion itu berulang – ulang, kembali ke 90an, 80an, 70an, bahkan 1920an punya inspirasi segar untuk sekarang’.

Dalam eksplorasinya POPEYE, berusaha mempengaruhi dengan seni mereka dan pertemuannya bertemu orang – orang hebat sana, menjadikannya sebagai inspirasi tidak langsung untuk pembaca,

jika trend sudah terjadi,

POPEYE membuka halaman baru. POPEYE tidak identik dengan professionalisme, POPEYE berburu di mana ada orang berpengaruh di budaya sekitarnya, mereka mengambil pandangan gaya hidupnya, fashion, intimasi visual proses kerja dan rasa bergairah ingin jadi kreatif datang.

popeye848-01
Popeye No. 848

Karena tingkat bisnis Fashion Jepang selalu bertambah, POPEYE mungkin tidak merasa kesepian mengumpulkan koleksi sebagai katalognya.

popeye850-01

Dan mengekspos ruangan seorang seniman, orang kreatif sana, apa yang mereka miliki, hal apa yang bikin mereka obsesi, POPEYE mencairkan suasana dari luar negeri demi editorialnya, ini yang membuat pembaca suka, ini yang membuat POPEYE ingin pembaca memiliki hobi yang tidak bisa diperikirakan, entah itu terkenal di publik atau kebanyakan orang di balik layar hanya pioneer bertetangga.Pandai membuat budaya sendiri, inilah kolumnya.

popeye854-01
Popeye No. 854
popeye854-02
Popeye No. 854

Hebatnya desain publikasi sendiri konvensional, tidak ada peraturan bermain, bebas menggerakan pensil ini membentuk ilustrasi, menyusun – susun foto dengan hasil narasi yang didapat, ingin menjadi menakjubkan, ingin kertas itu bisa diraba, ingin setiap halaman berikutnya mengejutkan, berakhir dengan memulainya lagi.

Aku sangat iri jika bisa berbisnis seperti ini, seni yang tidak akan habisnya, menjadikan sejarah bahwa desain memang menyenangkan untuk menginspirasi orang lain.

Semoga inspirasi publikasi majalah dan editorial berlanjut di KICIKKU, selain perwakilan Jepang, Popeye si Fashion Boy. Dan aku tidak berhak mencatat pendekkan tentang mereka seperti ini, penasaran lagi bagaimana mereka berjuang demi menghibur industri kreatif Jepang, mereka sudah merintis sejak 1976.

Magazine World JP – POPEYE

Instagram – POPEYE

 

%d blogger menyukai ini: