Search and Hit Enter

SSENSE Menantang Fashion, dengan Keberagaman Fashion

Aku salah, kolumn perdana ‘Suite’ sebelumnya banyak mengumpulkan platform dengan typography – typography mewahnya. Dan SSense berada di posisi terbalik, mereka menantang dengan merendahkan diri sebuah desain, desain hanya susunan elemen dan konten pemimpinnya.


Ini termasuk favoritku, terkesan pertama kali mengunjung, ku kira website ini hanyalah publikasi fashion biasa, ternyata fondasi bisnis mereka Ecommerce.

Mereka menunjukkan narasi menulis Fashion, riset pasar dan laporan trending adalah tulisan komplikasi yang wajib orang fashion ku ketahui.

Pertanyaan ku selanjutnya?, sebagai pemuka Ecommerce fashion, mereka memilih tidak memiliki platform mobile app, walaupun sudah di bisnis ini sejak tahun 2007, kaca pembesar jenis apa untuk menjadi identitas Fashion sendiri?,  platform keberagaman dari Kanada.

Kalau dari Kanada, berarti SSENSE berhasil menyampaikan pesan industri ini, sebagai jembatan untuk berkolaborasi dan menyinari suara – suara terkecil, walaupun mereka menjual koleksi brand mewah, bedanya ini cara mereka memanjakan.

Kalau Fashion bukan untuk mendefinisikan seksi, cantik atau charm, apa yang fashion kontribusikan?, di tambah dengan teknologi terbiasa mindset ‘sempurna’, cepat dan instan. SSENSE lebih suka turun ke jalan, mencari hal bersifat kontemporari, gaetkan ke koleksinya, sekiranya tahu ini akan lambat untuk menjadi ‘terpercaya’ brand, dan kunci mereka antara kolaborasi juga sharing sebagai konsistensi mereka.

Lebih enaknya dari mulut ke mulut.

Menghidupkan Menulis Jurnal Fashion

Apakah jurnalisme dan seni menulis Fashion terancam?, pertanyaan yang salah untuk orang di bidang ini, bahkan aku harus menjauhkan benar – benar kata ‘Fashion’, sebelum mengerti apa realitas industri ini. SSENSE menapresiasi menulis jurnal Fashion dari proses seorang desainer, pengaruh seni lainnya dan juga inspirasi konsep tak terduga.

Daripada merekomendasi, SSENSE justru merendahkan, berada satu suara sama desainer, jika desainer memberanikan di zona resiko, SSENSE menadaptasikannya, daripada pembaca berada di konsep sama. Kontroversial, menjijikkan, hingga di luar pemikiran bahasa halusnya.

Belanja lebih berat, hanya seni meringankan, menapresiasi mendengar cerita, seperti riset pasar dari pengalaman orang – orang terpilih. Jika kamu penasaran cara mereka membangun literasi tentang pakaian, baca mulai dari tulisan Research Market.

Kebetulan Editor-In-Chief nya SSENSE juga pemilik majalah Fashion 032C, Joerg Korch. Bukan kejutan kalau tanggung jawabnya dari dia, jelas gaya editorialnya penuh pengecualian.


Kami ingin persembahan dengan sistem Typography yang membosankan tak enak dilihat awalnya, hingga kamu lihat betul, sesuatu memunculkan dirinya sendiri. – Eric Hu, MantanKreatif Direktur SSENSE

Apa Hubungan SSENSE sebagai desain teknologi?

Melanjutkan mention Typography ku di awal paragraf, SSENSE salah satu Typography hanya rendahan di atas prioritas konten, sebagai tujuan visual komunikasi, biarkan konsumen menikmati cerita daripada teralur dengan kesan desain, tapi secara tidak sengaja SSENSE mengajak ini alur komponen baru. Belajar dari Eric Hu, yang sebelumnya punya studio desain internet fokus di platform Fashion Nothing in Common, dan sejak aku menulis hingga paragraf ini, sekarang dia menjadi desain direktur Nike.

Eric Hu, termasuk petikan Typography bisa dari sedernana, tidak aset mahal, yang biasanya diremehkan dan mendorongnya sebagai adaptasi baru.

Homepage

Adidas Wang

Website – SSENSE

%d blogger menyukai ini: