Airbnb dan Booking Holdings, Desainer Pakai ‘Drops’, Konsumen Startup Mati?, Selalu Setia Cerita Facebook

Musibah tertimpa lagi untuk Mark Zuckerberg dan Facebook, kehilangan 123 Milliar dollar Amerika, turun saham hampir 20%, sekejap performa ini turun dan pemilik saham sudah capek mendengar kontroversial – kontroversial mereka menghadapi berita – berita tak terduga, Facebook selalu membuat diskusi panjang dan sejarah terus memotar balik dunia harus melihat apa dari raksasa sosial media ini?

Terpaksa Facebook Membentur Kepalanya Sendiri

Tunggu dulu, karena performa Facebook lambat di kuarter terakhir ini, Instagram dan Whatsapp masih bersinar setelah akusisinya dan setiap generasi tahu cara menikmatinya, sebagai bapak ibu sudah menggandeng anaknya ikhlas untuk melepaskan kepala keluarganya, selagi kepala keluarga itu lagi banyak masalah, saatnya anak – anak itu berbalas budi untuk membalas mereka.


Bloomberg Opinion: Investor terlalu yakin dengan idenya bahwa Facebook akan terbang tinggi selamanya dan minggu ini terpaksa jatuh dulu. Masih samar juga, Facebook masih menampung pertumbuhan hingga 500 Milliar dollar Amerika.

Dylan Byers CNN: Populasi aktif Facebook sekitar 2.5 Milliar pengguna, dan itu masih bisa memutar keadaan untuk mengatasi masalah ini sambil meyakinkan pertumbuhan. Facebook masih dalam perjalanan cara menkomersialkan Instagram Stories.

Wired: Facebook merasa percaya Facebook Messengers dan WhatsApp akan menjadi platform baru untuk periklanan. COO Sheryl Sandberg melihatnya tidak akan berkontribusi efektif melihat keadaan perusahaan sekarang. Facebook juga tekankan Investor bisnis utama periklanannya masih sehat.


Sebagai raksasa sosial media ini, tidak berhak untuk menghancurkan sendiri dirinya karena lemparan – lemparan dampak negatifnya. Dari sebab akibat kasus di Myanmar di India, luka lama Cambridge Analytica, bahkan dampak buruk Instagram tentang travellers mengalami kecelakaan demi momen sempurna.

Ini adalah masalah bersama, apakah Facebook sebagai istana internet memikirkan dirinya sendiri atau lebih baik tunduk kepada dunia mengakui kesalahannya totalitas?


Forbes, Apa Facebook alat istimewa pengawasan Sistem pemerintahan?

Pengusaha sekaligus kontributor kolumn ini, Kalev Leetaru, selama Facebook berusaha menyatukan dunia, jalan tersebut berkebalikan mengoyak suara kita. Tak terkecuali bagaimana sistem pemerintahan di mana pun akan tertarik pengguna data pribadi Facebook, kemungkinan bisnis saling setuju, tanggung jawab kemanusiaan pun dikorbankan.


Konsumen Startup Sudah Mati, Umur Panjang Untuk Konsumen Startup

Jika sudah mati, siapa yang ingin berbisnis?, solusinya jauhi kompetisi.

Bayangkan dari berjuta – juta pengguna Smartphone, mereka hanya menggunakan aplikasi setiap hari tiga atau empat dari puluhan aplikasi yang sama, jasa sama dan tempat hiburan sama.

Kalau sudah berperang terjadi, Ecommerce saling membanding – bandingkan harga, Sosial media hanya berdiam dengan panggilan besar fiturnya, pemilik konten berusaha menarik perhatianmu, jangan berbisnis konsumen Startup hingga masuk ke lingkaran mereka.

Consumer Rebellion: Tingkat Konsumen Startup yang barusan sudah lulus sebagai sehari – hari konsumen, berada di tingkat menengah, contohnya: Pinterest, Uber, WhatsApp, Instagram, Xiaomi. Mungkin mereka masih tergantung dengan The Empire. Mereka ada mayoritas sejak generasi App Store lahir.

Penulis memprediksi Consumer Rebeliion sudah mulai jatuh, sejak Golden Age tumbuh dari tahun 2009 hingga 2013, setelah itu pasar terlalu banyak memberi pilihan, ujung – ujungnya pengguna kembali yang sudah tua senior merintis.

Rata – rata Startup yang masuk Consumer Rebellion, perlu merintis 3 sampai 4 tahun bersinar, hingga masuk ke kategori The Empire.

The Empire: Pemegang dan penguasa jabatan perusahaan teknologi di bidang masing – masing, itu pun masih saling serang, yaitu FAAANG, Facebook, Apple, Amazon, Netflix dan Google. Mereka sudah punya benteng tinggi, bersejarah.

Konsistensi dan kecepatan The Empire, membuat Consumer Rebellion semakin sempit mengambil peluang dari data penulis 2013 hingga sekarang. Berita bahagianya, perilaku pengguna tak bisa ditebak, mereka belum tentu fokus ke satu layanan produk, mengadopsi berbagai macam brand untuk hariannya.

Kesimpulan kolumn ini, Yang sudahlah terjadi, biarkanlah terjadi, konsumsi Startup harus membuatmu obsesi hingga orang lain tidak bisa mengikuti balapanmu, tak terprediksi, tidak terpengaruh pasar rumit dan besar, bikinlah pasar sendiri, hingga pasar tersebut mengakui ide orisinalnya.

Ambil Contohnya

Konvensional Club Monaco Mencuri Trik Startups – Fast Company

Club Monaco, pemain retail Fashion lama dari Kanada, ancaman dari transformasi Startups cuma angin lewat – lewat saja. Dan trik tersebut mengikuti aliran anginnya, dari sedang meloyalkan pelanggan dari Ecommerce menuju pengalaman retail, bikin kejutan mengambil ruangan di keramaian bisnis *pop-up strategy atau retail dijadikan taman bermain?


Lawan Airbnb yang tidak pernah kamu dengar sebelumnya – Wired

Bisnis Agensi Travel dan kategori Startup lainnya selalu mencoba untuk menguasai pasar ini dan kebanyakan modal mereka sebagai konsumsi iklan digital terbesar, sebab itu tidak stabil perluasan di bisnis lokal, apalagi nasional hingga internasional.

Airbnb terkenal sebagai raksasa travel tak memiliki tandingan. Kolumn ini membuktikannya, perwakilan dari grup bisnis travel Bookings Holdings, antara senior konsisten layanan hotel dan terbang, dan junior menawarkan apartemenmu untuk menghasilkan uang baru dan akhirnya Airbnb ikut – ikutan tawaran bekerja sama dengan industri hotel, merasa komisinya lebih beruntung dari agensi travelnya, lewat surat terbukanya.


Tidak ada yang peduli sama logomu – Fast Company

Logo hanya visual identitas, tidak mencerminkan bahwa logo adalah identitas kualitas perusahaan, tidak mencerminkan nilai lebih untuk pelanggan. Logo hanyalah gambar penunjuk perusahaan, sebelum perusahaan itu menguatkan pesan, tujuan, budaya di atas logo tersebut, hingga pelanggan merasa lekat dengan bisnismu lewat logo.

‘Hapus logo mu sekarang di produkmu, iklanmu, websitemu dan pelanggan masih tahu kalau itu diri kamu, jangan terlalu fokus ke brand, jadikan pelangganmu loyal terhadap bisnismu.’


Buku selanjutnya -> Secret and lies in a silicon valley startup: Bad Blood, teknologi jurnalis WSJ mengekspos cerita kontroversial perusahaan Theranos dan Elizabeth Holmes, Startup Bioteknologi ambisi blood testing efektif dan cepat, berusaha menutupi fatal.


Desain dan Fashion

Sekali lagi, aku sensitif dengan kabar desain dan fashion, sehingga desain bukan maksud untuk saling menjatuhkan, menggembirakan desain sebagai hasil kerja keras para lebah mengumpulkan madunya dan semua berkumpul menikmatinya susah gampang.

Barusan aku langganan surat kabar Fashion NYTimes Open Threadnya Vannessa Friedman, perkenalan kata – katanya menakjubkan, mengambil segala aspek pengaruh orang – orang kuat dengan fashionnya, tatkala bertanya jawab dengan pembaca tukar ide?, ini bahan personal untuk membangun komunitas penasaran tinggi.

Desainer Berharap ‘Drops’ Bikin Kamu Belanja – WSJ

Lihat sekarang, beli sekarang, besok tidak akan ada lagi’ atau ‘Siapa cepat, dia yang dapat’. Brand besar Alexander Wang sekali musim koleksi baru, mereka mensebarkan tiap koleksinya dalam setiap bulan berbeda, pembeli diberikan sedikit pilihan dan rasa milik tinggi, spesifik sebagai panduan gaya untuk waktu berkala dengan mood berbeda.


Sneaker Retro Puma Kehilangan Konsumen, Perhatian ke Runway – Bloomberg

Puma Retro meredup, apa respon peran Streetwear tentang pasar ini?, karena pengaruh desainer di atas Runway yang juga bermain istilah di Streetwear Sneaker tanpa kehilangan rasa mewah. Penjualan Puma tetap kuat, dari kutipan ini, tapi aset tak perlu lah banyak – banyak di marketing.


Pencarianku Sneaker $900 selama 8 bulan – NYTimes

Emosi penulis ini tergambar selama pencariannya 8 bulan, Balenciaga Triple S. Dari layanan Balenciaga, mengetahui sedikit titik mula kepalsuan dari China, hingga rasa irinya dengan Pusha T punya Triple S edisi Dover Street Market.

Yang bisa ku petik dari ini, di mana pun pasti ada orang obsesi demi mendapatkan obsesinya?, gaya tulisan seperti ini menceritakan pengalaman tentang membeli produk fashion, cara literasi baru melakukan riset penikmat industri ini.


Selipkan ilmu Brand

Mereka Tidak Membeli Produk, Mereka Membeli Versi Terbaik Untuk Mereka Sendiri – Medium, Jonathan Santlofer

Mengambil sejarah Cola dan Pepsi hingga Apple dan Samsung, pembeli tidak peduli apa yang kamu punya di produk inovasimu sampai mereka dapat panduan di setiap gambaran orang bahwa ini memang kebutuhannya. Sederhana saja, biarkan orang terkenang untuk dapatkannya. Atau, kalah dengan Cola, musim panas sekarang bikin kamu ketagihan ingin minumnya terus.


KICIKKU sudah benar – benar gratis termasuk Letters of Idea, demi kebaikan untuk orang yang memang penasaran, jika kalian tidak baca benar, jangan membuat motivasiku berhenti menulis. Silakan kritik dan suggesti, atau ingin menjadi temanku -> firasraf@kicikku.com