Bahas B Magazine atau WeWork?

Merasa menjadi pihak ketiga, B Magazine ini menyembunyikan dirinya dan menempatkan dirinya menjadi WeWork, terlalu enakkan jadinya buat brand ini.

Memang sengaja biar independen ini majalah WeWork atau publikasi ‘B’ sendiri?. ‘Brand. Balance’, artinya, Brand bukan sekedar brand, Brand memahami dampak nilai brand sendiri, iya kan?

Karena B Magazine berhasil sembunyi dari isinya, membahas WeWork secara keseluruhan di sini, seperti sudah mengerti atonomi teori mereka. Tujuan pertama ku adalah produk, kalau Brand tidak tahu isi pesan produk yang di jual, apalagi masyarakat.

WeWork membedakan ‘Digital Product’ dan ‘Physical Product’. Digital, berkontribusi melayani pelanggan WeWork dari seluruh dunia dengan ketersediaan fiturnya dan ‘Physical Product’, pelanggan WeWork merasakan inovasi utamanya, berada di Coworking Space juga sosial berproduktif. B Magazine, mengekspos satu – satu. 

Tidak Mungkin Brand tersebut berhasil, tanpa angkat suara dari pelanggan. Karena WeWork terbagi dua, ‘Private Space’ dan ‘Hot Desk’, B Magazine mewawancarai dari anak – anak Brand pengusaha mengontrak di WeWork.

Cerita anggota Seoul mewakilkan cabang Asia.

Jiju Oak, WeWork Gangnam Station Seoul, Oriental Brewery Company: ‘Di kantor utama, susah berinteraksi dengan departemen lain, bandingkan di WeWork, suasananya lebih konduktif berinteraksi dengan anggota lain.’

Stephanie Studer, Seoul Bureau Chief, <The Economist> – WeWork Gangnam Station Seoul: Dulu bekerja di rumah tiga tahun, dan itu bagus, bisa melakukan aktivitas secara fleksible. Tapi dari segi professional, sedikit terisolasi. Aku bukan berasal dari dunia Startup, tapi aku suka berkenalan dengan orang baru dan budaya Sharing. Jadi di WeWork, aku hanya bawa laptop, sisanya fasilitas dari sini. Dan aku bisa memilih ruangan atas mood-ku atau interview seseorang.

B Magazine menciptakan kasus bisnis memang nyaman karena obsesi, tidak perlu masuk pasar besar, teringat nasehat bisnis Seth Godin, ambil pinggiran pasar orang menerima inovasimu secara obsesi. 

Membaca pembicaraan bersama petinggi, B Magazine tidak sengaja WeWork kasih resep kasar.

Dolores O’Conner, VP Operasional Properti WeWork: ‘Semuanya berasal dari properti dan seluruh departemen ikut berpartisipasi, apalagi masalah desain, arsitektur, dan pengalaman space, pilihan properti akan berbeda – beda sistem desainnya’

Contoh atas kenapa Majalah Seoul ini mengatakan B Magazine untuk orang – orang Marketer yang sedang mengembangkan Brand, inspirasi pengusaha menjadi panduannya. Kala itu mereka juga fokus terhadap Jepang, terkenal ‘obsesi’-nya, desain dan komersial, hingga kota Kyoto sendiri jurnalnya. 

Aku mengincar B Magazine isu Tsutaya Bookstore dan catatan Editor menyinggung:

‘Menelusuri kota baru, jalan – jalan mengunjungi toko menjual produk spesifik dan retail langka, dibandingkan belanja online, kita hanya mencari harga termurah, menimbang fitur kualitas dengan lain. Kalau istimewanya belanja konvensional, produk terasa diberi kasih sayang. Inilah penyebab ekonomi sekarang dari kepemilikan *ownership pindah ke ‘Experience’, dorongan tersebut bukan berasal dari modal, tapi opini gaya hidup. 

‘Tsutaya mengambil kesempatan apa seharusnya toko buku offline diambang belanja online selalu haus pengiriman gratis, Tsutaya berorientasi Toko buku Enterprise, proaktif terhadap data konsumsennya untuk jajaran budayanya.’

Majalah B meninggalkan jejak kondisi perilaku berbisnis sekarang, visi mereka sebagai ‘Balance’ jelas yang disampaikan. Karena pemikiran jangka panjang ini, ada bukti siap mengkritik dari ‘inovasi’ atau ‘generasi baru’ bisnis online, sekali lagi sejarah akan terulang lagi di Commerce, siap – siap menyadari.

'Brand Balance.' - B Magazine

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.