Search and Hit Enter

Berusaha Keluar dari Pajak Langganan Apple dan Google

Pokok pembahasan hari ini, perusahaan digital kelas kakap tidak mau terus – menerus meninggalkan keuntungannya untuk Apple dan Google, lagi berusaha. Juga bagaimana Facebook gagal untuk orang – orang Rohingya, Instagram perlu ada rasa disiplin untuk IGTV dan bagaimana surat kabar email bisa mengangkat derajat penyebaran berita.

Catatan sekejap untuk Ecommerce, apa lagi yang mereka bisa lakukan selain memberikan harga potong, lebih murah dari kompetitor lainnya lebih bagus, promosi besar – besaran di hadapan sosial media, hanya untuk mencari perhatian kamu. Dan ini bukan diriku banget, ya mereka hanya berpikir semakin besar akan semakin bagus, Ecommerce hanya berlari terus berlari, satu hari istirahat kelihatannya yang ketinggalan takut mengejar, yang mengejar juga mengejar dengan ide sama, dan mereka sama – sama melakukan hal yang sama.

Sekali lagi ini bisnis tidak ada seninya, tidak ada proses berkesimpulan, tidak ada obsesi ‘kenapa tidak tergila – gila dengan suatu kecil?, daripada frustasi di pasar besar yang sudah saling melempar mukanya sendiri’. Disayangkan produktivitas ini hanya beralih ke permainan distribusi, daripada beranjak mempertajam talenta kita, tetap kecil dan biasanya nampak di depan mata. Inilah pelajaran Ecommerce yang tidak diajarkan oleh mereka.

Membatasi satu kategori untuk puluhan produk, Website Ecommerce bukan berarti menjual banyak terus keuntungan banyak, bisnis ini perlu memandangmu sebagai Ecommerce yang tidak bisa diikuti oleh orang lain, itulah kenapa antara kontribusi dan brandmu akan menguatkan prinsip ini, bisnis ini jangan bergantung dengan membuka toko di Ecommerce raksasa, berikan investasi untuk desainer berbakat sana, inovasi daya tarik sendiri, inilah seni Ecommerce.


‘Mereka tidak mau bayar Apple dan Google terus menerus’

Bayangkan per bulan, miliaran Dollar terbagi ke mereka

Berusaha keluar dari pasar Apple Google, Netflix dan Epic Games Fortnite tidak mau membiarkan keuntungannya terbuang begitu saja. Memilih untuk independen dan tetap berada di hawa ekosistem Smartphone yang biasa?, bagaimana cara mereka memikirkannya?

Pajak dari Apple dan Google memang membawa halangan untuk para Startup yang merasa ambisinya sudah besar menyaingi mereka, tidak mungkin harus tergantung dengan mereka lagi, tatkala bisnis tersebut memang distribusi bersosial, mengambil keuntungan 30%.

Dari surat kabar Ina Fried Axios Login, memilih tindakan sendiri untuk sistem langganan yang berada di ruangan mobile, perlu diketahui tanggung jawab atas layanan kartu kredit sebagai pasar konten termasuk biaya mahal, ada alasan Apple dan Google mengambil masukan ini.

Cerita antara Spotify dan Apple Music, Spotify terpaksa harus mengalah untuk para pelanggan yang mengaktivasi lewat App Store, keuntungan Spotify dalam platform App, mereka bisa menghindari pemblokir iklan web, jadi yang memutuskan keputusan bisnis ini, Spotify memilih tidak ada transaksi lewat Apple.

Netflix juga berpihak sama, mereka berani bertahun – tahun mengeluarkan produksi serial film sendiri, resikonya, keuntungan tersebut tidak bisa terbang ke App Store saja, Netflix mulai mematikan sistem In-App Subscription dari iOS, dengan pendaftaran langganan berbasis web.


Perhatian Facebook terhadap Kondisi Myanmar

Facebook harus membayar atas konsekuensi kejadian terpuruk yang dialami oleh umat minoritas Muslim termasuk Rohingya

Dari surat kabar Brian Stelter: Pertama kalinya Facebook memblokir halaman pemerintah negara, dari akun pejabat militer Myanmar, menghapus 18 akun dan 52 halaman termasuk memblokir 20 profil pribadi dan organisasi, yang sering diakses oleh 12 juta pengguna.

Menangkal kebencian Mark Zuckerberg pernah berambisi, Artificial Intelligence dan Machine Learning akan menjadi bagian Facebook untuk menyelesaikan masalah ini. Kolumn BuzzFeed News memperhatikan masalah kecil terlebih dahulu, apa yang dilaporkan oleh pengguna tentang kebencian konten sangat lambat moderasinya, terlanjur konten tersebut sudah menyebar, argumen ini berbalikan dengan pandangan Facebook, mengakui lebih baik, mereka sedang perkembangan cepat atas peraturan regulasi ini, bekerja sama dengan otoritas, merasa lebih proaktif mencegah konten kekerasan daripada menunggu laporan pengguna.

Itulah kenapa keputusan Facebook menghapus halaman konstitusi pemerintahan Myanmar, termasuk terburuk di antara yang terburuk. ‘Kalau aktor jahat bisa agresif, kenapa kita tidak juga melakukan hal agresif melawannya’

Media telah mencap Facebook sebagai ‘kegagalan’ siapa yang bertanggung jawab atas kejadian Rohingya, BuzzFeed News merasa ‘Pertanyaan terus berdatangan bagaimana Facebook berkembang atas regulasi konten di mana sebuah negara menyebarkan kebencian termasuk umum di sosial media, tanpa mengganggu hak pengguna’.


Untuk IGTV, Instagram Perlu Lambat untuk Bertahan

Setelah kabar Instagram merilis IGTV, mungkin tidak ada masih kabar ‘wah’ untuk gerakan mereka sekarang, tapi selagi mereka lupakan kompetitor YouTube sebagai central Kreator dan sabar untuk belum saatnya mengajak sebagai teman periklanan, IGTV perlu sabar atas apa yang pengguna manfaatkan.

Ya hampir sama dengan merintis, walaupun brand mereka sudah berhasil melampaui bekas ide Snapchat. Dari opini TechCrunch, Instagram merasa ini mengambil potensi video durasi sekejap berhasil di depan mata mereka. Ternyata realitas berkata tidak, perlu rasa untuk membetulkan kebutuhan pengguna, ini adalah format vertical video untuk dukungan mobile penuh, jadi IGTV masih harus mengajarkan cara Creator memanfaatkannya tanpa terpikir traffic dan penghasilan dulu.


Surat Kabar Email bisa Membetulkan Masalah Penyebaran Berita

Pasang iklan di samping artikel, promosi ke sosial media, hasil karya tulisan kita di Internet tidak boleh bergantung dengan Algoritma, pembaca harus punya prinsip memilih apa yang ingin mereka baca, tidak ada pihak ketiga yang boleh ikut campur, apalagi memanipulasi.

Dari tulisan Wired, surat kabar lewat email, persembahan spesial untuk menyampaikan informasi dan perasaannya ada rasa mesra untuk pembaca.

Kebolehan surat kabar, menjadikan Startup Substack platform baru untuk penulis menghasilkan uang dari menulis surat kabar, semua sudah disediakan, dari pembayaran hingga tulisanmu sampai ke email, hanya mengambil potongan 10% dari transaksi  langganan.

Tantangannya, karena banyak media dan penulis memasang harga untuk tulisannya, pembaca terlalu banyak diberi pilihan, jadi pembaca pun punya ruangan untuk membatasi langganan surat kabar mereka. Daripada, ‘iklan online sekarang membuat media harus gegabah haus memasang artikel clickbait, kuantitas memikirkan diri sendiri, kebiasaan instan ini menginspirasi orang melakukan clickbait juga’ seruan dari CEO Substack.


Bacaan lainnya

‘Distracted’ lebih menjanjikan, terima kasih Internet – n+1

Cara kamu mengendalikan pikiranmu ini, terdapat dua pilihan, antara sensasi Internet dan jangka panjangmu. Tulisan ini dari pandangan penulis, sebagai kekhawatiran, gelombang informasi setiap hari menciptakan kebiasaan ‘distraction’, gangguan mengalihkan pikiran ini dan terpengaruh oleh mereka terus menerus, demi keuntungan bisnis mereka.

Membicarakan orang lain, viralitas, sensasi awet daripada kepentingan jangka panjang. Distracted juga berarti kebingungan, kehilangan teman yang biasanya kamu hubungi, kehilangan prinsip.


Fitur Youtube Mengawasi Tontonan Berapa Durasimu, ga penting – FastCompany

Karena YouTube sudah tahu ini tidak akan efektif, memasangnya secara sengaja pun agar pengguna tidak adiktif, tidak ada emosional untuk berhenti dari mental kita, bisnis utamanya, Youtube tidak mau penggunanya berhenti menonton.


Silakan beri suggesti dan kritik, atau pertanyaan juga kenalan -> firasraf@kicikku.com

%d blogger menyukai ini: