Search and Hit Enter

Potensi Pemalsuan Barang di Ecommerce Triliunan Dollar Hingga 2020

Melanjutkan catatan Ecommerce kemarin, pembahasan baru bahwa antara menyikapi senang sebagai ladang baru untuk Ecommerce, atau berita buruk karena perusahaan teknologi menghadapi krisis sebagai pasar jaringan barang palsu. Pembahasan kedua juga sekilas industri musik di YouTube dan mental kewalahan YouTubers.

Antara Retail dan Ecommerce, kamu ingin berada di toko di antara toko yang pengusaha berjiwa muda, kreatif, sebagai perkumpulan komunitas. Atau ingin di antara Ecommerce menjual produk sama, seperti ibu – ibu berjualan sayuran yang terus memanggil namamu, dengan modal biaya murah sudah tersedia.


Potensi Pemalsuan Barang di Ecommerce Bernilai Triliunan Dollar di 2020

Ketika sosial media sedang menangkal penyebaran berita palsu, Ecommerce hampir punya tantangan sama, bagaimana mereka penjual dari pihak ketiga terus dibiarkan menjual barang palsu di Ecommerce?

Laporan Global Brand Counterfeiting Report 2018-2020, potensi triliunan US Dollar ini akan tumbuh secara global, brand global terkenal apalagi fashion akan mengorbankan namanya, tertumpah di pasar pemalsuan barang ini.

Dari liputan Axios, Amazon saja sejak dua tahun lamanya ini dan retail – retail online mereka tumbuh berjualan barang – barang palsu dan kepastiannya mereka tidak bisa mengendalikannya. Pelanggan Amazon melapor terdapat 5,101 barang palsu dari riset Gartner L2, Alibaba lebih terbuka dan berpengalaman dari industri China yang biasa memalsukan butik seperti Tiffany dan Blueberry.

Pertanyaannya, transformasi retail juga menghadapi kepastian kualitas brand?, apalagi Ecommerce yang menyediakan gudang dan layanan toko, bagaimana mereka menegaskan kejutan pasar ini?

Brand mewah terpaksa mengalah, penjualan barang palsu dari kesimpulan laporan Associated Press, untuk media transaksi online sudah meraih 30.3 milliar US Dollar, akhir kalimatnya, penjualan barang palsu tumbuh cepat akan disrupt dan menghancurkan reputasi sebagian bisnis retail.

Siapa sangka juga kalau Ecommerce membiarkan menjual barang – barang palsu, dengan angka global tumbuh ini sangat tinggi, tidak masalah transaksi mereka juga bergerak, asalkan pembeli puas dengan barangnya, hingga barang tersebut habis dipakai. Namun untuk menunjukkan kelemahannya?, penjual online dengan segala produktivitasnya membuka toko serta produknya, terasa menyakitkan jika Amazon sebagai Ecommerce raksasa nomor satu, dicap menjual brand terkenal kualitas kw super, sebuah krisis kepercayaan terhadap perusahaan teknologi.

Baca juga

Tumbuh eksis merintis konsumen Startups tanpa investasi Venture Capital – Recode

Aku berharap kalian tidak tahu apa itu Venture Capital, jika memang tidak tahu, lupakan artikel ini dan lanjutkan bisnis kalian secara disiplin. Yang merasa tahu dan membutuhkan Venture Capital?, lihat dirimu dulu, Venture Capital termasuk investasi bertanggung jawab besar, hingga bisnismu kehilangan prinsipmu, karena harus berdasarkan cerita ekspetasimu menyebabkan VC berharap banyak timbal baliknya nanti. Artikel ini benar menginspirasi, mereka klasik, tumbuh perusahaan dari contoh Native dan MVMT, tetap bermain kecil.


2018, Industri Musik Mulai Cerah di Youtube

YouTube adalah angka positif terbang tinggi untuk industri musik, terutama generasi Gen Z dan Millenials pemenangnya, secara konsumsi pun umur 16 hingga 44 tahun, mencari musik lewat Youtube.

Laporan State of the YouTube Music Economy 2.0, Sebagai kategori populer YouTube musik video yang mengambil Views 32%, namun berdampak sedikit dengan revenue berkisar lebih kecil 21%. Dari sekian kategori, Musik masih pemimpin revenue dibanding kategori lainnya, Gaming.

YouTube bisa menjadi kesempatan platform termurah di era streaming dari apa yang kompetitor tawarkan, asalkan YouTube punya nama besar hak seperti asosiasi Vevo sejak 2016 eksis.

Harapan besar YouTube menaikkan angka industri musik bukan lagi misi selanjutnya, ini sudah naluri dari mereka, pelajaran dari sini adalah, YouTube menguasai musik atas hubungan partnernya bersama Vevo, tak hanya kredibilitas musisi, akan tetapi tantangan pemilik hak cipta ini, YouTube harus menyamai angka tersebut dengan realitas pemasukan, jangan sampai mengecewakan produser.

Baca juga

Youtubers sadar Mereka tidak bisa istirahat menjadi Youtubers – The Guardian

Terasa seperti ada kompetisi di sini, ketika ledakan Creators berdatangan tahun – tahun terakhir ini, meninggalkan pekerjaan karirmu dan merasa kehidupan enak menjadi Youtuber akan dibayar seperti Youtubers lainnya dan mereka sadar Youtuber bukanlah pekerjaan professional dan karir mereka berakhir tidak ada yang membayarnya, yang ujungnya hanyalah membuat video.

Kecuali, jika kamu memproduksi konten setiap hari, lebih lama lebih bagus, mau tidak mau harus bersaing berdasarkan algoritma. Mungkin tulisanku selanjutnya, ‘Apakah kreativitas ini harus tergantung Algoritma?’.

Tulisan The Guardian ini, Youtubers harus kerja keras demi konten, prioritas kuantitas daripada kualitas mengambil resiko, yang membuat mereka kehilangan bahagia juga diri sendiri, jika tidak mereka kehilangan perhatian, angka akan turun.


Silakan suggesti, kritik, pertanyaan atau perkenalan -> firasraf@kicikku.com

%d blogger menyukai ini: