Berkenalan Decentralized Web; Silicon Valley ‘Free Market’; Generasi ‘Open Web’

Jurnal hari ini edisi spesial Decentralised Web, ada yang menganggapnya Generasi Web 3.0, di mana pengguna berada di jaringan internet tanpa pihak ketiga menusuk ikut campur, selain kamu dan dirinya satu sama lain.

Merasa tidak terima kekuasaan Facebook dan Google, telah ikut campur aktivitas internetmu. Inilah alternatifnya, perumpamaannya ada komunitas Internet sana bekerja secara underground, bebas, tidak memandang komersial berkuasa satu sama lain, berbagi ilmu, inilah suara generasi internet selanjutnya.

Mengenal Decentralised Web, kita mulai dari artikel the Guardians, Decentralised harus mengerti dulu bagaimana jaringan koneksinya, peer-to-peer, di mana komputer tidak hanya meminta layanan internet tapi juga menyediakannya. Link protokol peer-to-peer tidak berdasarkan lokasi yang biasa https dan http cerminkan, namun berdasarkan informasi di halaman konten.

Decentralised Web juga membawa konsekuensi buruk, kita tidak tahu kebebasan internet ini bisa membawa orang potensi niat jahat. Dan di akhir kolumn Primavera De Filippi, punya kesimpulan bagus ‘Percuma kalau sistem ini akan decentralised web, kalau orang belum mau membayarnya, dan bagaimana jangan sampai generasi baru ini akan kembali lagi menjadi centralised, sistem akan terulang lagi, suatu saat kapan perusahaan seperti ini menghasilkan uang?’


Sejarah Silicon Valley, Memanfaatkan Decentralised Sebagai ‘Free Market’

Adanya suara Decentralised Internet, berarti di mana titik mula masalah ini muncul?, kita bisa mulai dari Silicon Valley dan pasarnya sebagai ‘Free Market’. Dari jurnal Northwestern Undergraduate Research Journal, karya sejarah Will Kirkland

Silicon Valley berawal dari ‘‘Satu’ ide adalah ekonomi dominan, pasar yang memaksa perubahan sosial dan teknologi konsumen, ditempatkan di setiap tangan – tangan manusia di planet ini, sebagai jalan pencerahan dan perkembangannya.’

Ingat kembali, Decentralised bisa menjadi sebuah topeng.

‘Sistem ini beraksi seperti decentralised, struktur industri dan budaya Startupnya melahirkan kategori baru menjadi kapitaslime.’

Kita tidak tahu perusahaan teknologi, walaupun itu di sekitar kamu, merasa sedang berinovasi untuk sebuah masalah’. Ternyata memicu pasar baru tanpa regulasi, membuat kesempatan di mana – masa merasa tidak seimbang hanya demi mementingkan profit.

Silicon Valley mulai dari industri Semikonduktor, Investor VC masih merintis ragu – ragu untuk meletakkan uangnya di Startup PC, termasuk Apple Computer pertama, itu bermula tahun 1970an. Masuk ambisi ‘Free Market’ dan peran politik ikut campur, definisi ‘Free Market’ sebenarnya lepas tangan dari pemerintahan dan negara juga lepas dari pasarnya. Kalaupun mau regulasi perusahaan berbasis ‘Free Market’, enaknya regulasi sendiri.

Dari pandangan konsumen ‘Free Market’, dimana kamu menggunakan produk digital gratis, dengan syarat tak terduga atau kelihatan, kamu harus barter sesuatu seperti informasi privasi pribadi kamu.


Silicon Valley berhasil aksinya, bentuk kapitalisme-nya sudah terbentuk. Komunitas Decentralised ingin memudarkannya, berusaha membentuknya dengan kebutuhan canggih dan pengaruh Blockchain sekarang.

Serunya dari sistem Peer-to-peer, seperti ada cara baru menikmati belajar di Internet, aku ketemu tak habis website dari orang – orang rendah hati, ada unsur pendidikan sini, terutama seni dan desain, aku belajar sistem ini karena masih banyak orang kreativitas tak tertulis di mayoritas lebih berkontribusi.

Surat pendek dari tulisan Blogger tentang anti-kapitalisme, ‘Menyebarluaskan Anti-Kapitalisme Software’. Kesimpulan penerapan Decentralised Web

  1. ‘Hub, not monoliths’, sebuah sistem yang tidak dikerjakan menyendiri korporasi, tapi sebuah hubungan yang bisa dibentuk dari individual, grup atau komunitas, saling membantu, memberi dengan peraturan masing – masing.
  2. ‘Scale is a Trap’, Kalau ingin membuat software yang sesuai dengan manusia, seharusnya kita tetap rendah hati, kecil dan lebih sederhana. Karena semakin besar, disitulah ribetnya sistem tersebut.

Baca juga

Khawatir Dunia pendidikan terlalu mengambil beban dari kontrak komersial software, yang data muridnya tidak dimiliki sekolahnya sendiri’, opini dari Legend Blogger – Kottle


Memulai Menerapkan Open Web

Sumber – sumber riset ini, ku temukan dari telusuran Jon Kyle desainer LA  juga pengembang web Jon Gacnik dari Folder Studio.

Bereksperimen dengan tipe link peer-to-peer yang akan kamu dengar pertama kalinya, DAT:/, di sini kamu bisa membuat website seperti membuat majalah dan membagikannya langsung di antara teman kamu, dengan menggunakan Beaker Browser.

Kita tinggalkan dulu ilmu tekniknya dan pengaruhnya ke desain, pelajari dulu konsumsi internet kita sendiri. Tidak sadar, seperti mengganti dari mbah Google, beralih ke DuckDuckGo atau Yandex, minimal peduli pintar peduli dengan privasi, Google sendiri pun, kalau melihat kabar beritanya, terlalu mempermainkan proteksi privasi informasi ini, ingat jurnal The Intercept tentang proyek Google untuk China, sekarang karyawan sana rela meninggalkan pekerjaannya.

Google tidak bisa terhindari, bahkan aku menulis ini dengan Google Docs, misalkan di beberapa negara, pemerintah setempat bekerja sama dengan Google, untuk kebaikan masyarakat, sekarang saja kamu tidak bisa mencari porno di Google, unsur penegakkan ‘Censorship’. Berarti, pencari lainnya masih bebas berkeliaran, porno masih tersedia. Inilah masalah kedisiplinan sekarang, antara rasa ego juga nafsu, yang bisa menyakiti diri sendiri dengan memanfaatkan decentralised.

Karena arah Decentralised lebih banyak ke peer-to-peer, ini beberapa Tool perlu kamu ketahui

Dat Project, Fondasi tool ingin menjadikan internet terbuka untuk masa depan aplikasi web, ambisi agar data informasi kembali lagi ke pemiliknya, kontribusi ini dari komunitas non-profit membangun platform peer-to-peer.

Beaker Browser, Browser pertama berbasis peer-to-peer, menggunakan protokol Dat, bisa mambangun website dari inisial dat://, seperti men-publish tulisan blog, tinggal sebarkan link-nya.

Enoki, Eksperimental tool membangun website dengan Dat, hak konten-mu masih berada denganmu, tapi tetap terjangkau di seluruh dunia, WordPress versi peer-to-peer, dikembangkan oleh desainer LA Jon-Kyle Mohr.

Internet Archive sejak 2015, sudah menerapkan sistem Decentralised – Internet Archive Blogs

*Komunitas ini tidak suka menyebut proyeknya ‘platform’


Mading Kolumn

Kisah Cinta Mempertemukan di Era Decentralised Personal Computing – Operating Space

Kontak jodoh online mayoritas hanya punya satu rumusan untuk mencarikan pengguna pasangan. Jika Decentralised ingin berhasil menerapkan sebagai pencari cinta, tidak ada yang tidak mungkin untuk berpasangan dengan siapa pun, seperti di taman luas, bahkan dia bisa membikin taman sendiri, seorang single sedang bebas berjalan ingin berkenalan dengan siapa pun, tanpa ada batasan, atau menjodohkan orang dengan lain, memangnya karena dia perempuan populer, kita harus bayar agar dapat chatnya?


Kematian Open Web – NYTimes Magazine

Aku merasa internet memang dibeda – bedakan, ada ekslusif konten dari aplikasi web dengan pintu tertutup sebelum kamu membayarnya, ini orang – orang pilihan yang menikmati keajaiban mereka memanfaatkan budaya internet, ‘seperti disambut di toko mewah daripada pasar loak’. Ada internet itu – itu saja, tak bisa terhindari mereka, Google, Youtube, Facebook, Twitter, iklan dimana – mana, ‘kamu tidak dianggap spesial sini’, tapi mereka justru yang banyak menghasilkan lebih juga menerima konsekuensi lebih.


Instagram seharusnya membuat kita akrab, kenapa membuat orang tidak senang? – The Guardian

Jangan sampai Instagram membuat dirimu memikirkan ego sendiri daripada orang – orang sekitarmu ‘Isi Instagrammu hanya isi keluarga dan teman – temanku menikmati momennya, kenapa aku tidak bisa?’. Ini diskusi mental sosial media menyarankan kamu untuk berhenti ‘Scrolling’.

Berusaha-lah hindari Influencer – Influencer menskenariokan kehidupan mewahnya dengan bawaan komersial, terasa sempurna membuat pengguna kehilangan prinsip diri sendiri, masih mending cari inspirasi seni. Buktinya Blogger Lifestyle Scarlet Dixon dapat reaksi kritik di Twitter lebih banyak daripada kemewahan dirinya di zona sendiri.

Instagram kelihatan tenang, banyak nilai visual positif di sana. Ternyata ahli kesehatan mental mengatakan ‘Ini yang mendorong pengguna untuk merasa harus lebih baik di antara yang lain, sempurna, membuat orang lain melihatnya sakit’. Sambil memasang ekspresi palsu, juga saling mengapresiasi.


Pelajaran Decentralised Web ini masih bertahap, belum apa pengaruh jaringan transaksi dari Blockchain, tidak terduga ide apa lagi yang bisa diterapkan selain menyimpan dan berbagi informasi, tapi aku ingin menerapkan di mana suara desainer dan seniman untuk inisiatif inovasi ini.

KICIKKU sudah menutup sistem langganan menjadi gratis untuk kamu semua, aku minta sumbangan dari kalian pembaca agar jurnal ini tetap disiplin.

Silakan kritik, suggesti, cerita dan perkenalan salam -> firasraf@kicikku.com