Riwayat Browser Sebagai Harga Belanjamu; Data Untuk Papan Iklan

Ingin lari dari cerita sosial media, mengulang kegagalan memang sahnya untuk membangun bisnis, tapi di jurnal hari ini aku hanya melihat masa depan, entah itu kepentingan kebaikan, kepentingan berperang. Tapi ada essay panjang yang harus kamu baca dari The New Yorker mengenai sosial media dan ini sebuah pandangan dari filsafat penggali.


Riwayat Browser-mu juga Penentu Kebutuhan Belanjamu

Dari The Guardian,

Yang kaya diberi daftar harga sesuai kekayaan-nya, yang merasa emosional dengan harga tinggi diberi daftar harga sesuai pengendali emosi-nya. Ini tergantung dengan telusuran internetmu dulu, apa kamu lebih tertarik untuk hotel mahal untuk liburan sekali setahun atau kebiasaan cari hotel murah untuk liburan setiap dua bulan, pemikian ini bisa menarik perhatian cookies website booking yang kamu buka, membaca dari riwayat browser-mu dan menyesuaikan situasi-mu. Istilah mereka ‘personalised pricing’

Benar atau tidak di kolumn ini, ada diskriminasi harga di sini, ini salah satu cara memanfaatkan penyebaran data. Mengambil contoh dari industri penerbangan,

Aku sendiri pun tidak mengerti bagaimana dinamika harga penerbangan bisa berubah setiap saat, hingga hitungan detik, tapi yang jelas kita tahu kalau ada hari liburan bersama akan datang, harga pasti mahal. Penulis mencoba perbandingan ketika menghapus riwayat Browser-nya, untuk tiket British Airways, harganya lebih murah.

Mungkin ini satu – satunya jalan untuk dinamika tersebut, di regulasi Amerika sudah melegalkan penerbangan komersial dan agensi travel untuk mengoleksi data pribadi, riwayat bookingmu, status sosial-mu juga alamat rumahmu. ‘jadi jika penerbangan tahu kalau kamu tinggal di rumah besar dan sering terbang business class, penerbangan akan menawarkan harga tinggi daripada orang yang sensitif dengan harga mahal’. Salah satu contoh bagaimana mempermainkan data, dan ini adalah kesempatan tinggi untuk setiap bisnis generasi ke depan.

Lupakan Facebook dan Sosial Media lainnya meraup data kita sebagai uang periklanan mereka, jika bisnis – bisnis online lainnya juga melakukan hal sama untuk mengerti kebiasaan kebutuhan belanja kita, sebenarnya perlu tidak kita mempermasalahkan atas privasi data ini?, terasa tidak bisa terhindari lagi bukan, aku menunggu siapa yang bisa memberontak dan menikmati keserhanaan kebebasannya.


Billboard *Papan Iklan akan Pintar Mengerti Kebutuhan Belanjamu

Dari Recode, Bahkan Google berinvestasi untuk iklan outdoor displays, Netflix dan Alibaba juga demikian untuk orang – orang yang melakukan kesehariannya, menuju destinasinya, untuk kepentingan dirinya dan orang lain, hingga menempelkan iklan di tengah – tengah jalan termasuk suatu komersial di mana orang – orang sana, memang merasa tak ketinggalan di kehidupan kota.

Iklan Outdoor lumayan spesifik pasar iklannya, angka 7% ini naik persentase-nya menggantikan posisi industri ‘non-internet media’ di 6 tahun terakhir ini, mungkin saja orang sadar ada kenangan terindah di sini buat konsumen, bisa jadi kenangan visual ketika menunggu lampu merah di sebrang jalan, itulah kenapa Facebook, Apple juga Netflix termasuk pemakainya, menurut Outdoor Advertising Association of America.

Pembahasan ini pun menuju data, ‘Banyak data berarti banyak iklan di kehidupan nyata’, dengan mengerti kemana orang itu pergi, apa keseharian mereka, titik temu aktivitas mereka berlangsung, jenis aplikasi yang sering mereka gunakan, ‘kita bisa mengidentifikasi pemikiran mereka dan menyeimbangkan tipe konsumen apa yang seharusnya mudah ditemukan di suatu tempat’

Iya kan, daripada orang yang menggelembung di tempat tidur, melihat iklan – iklan tak jelas berbayang – banyang, efektifnya hanya konsumsi iklan Internet jauh lebih tinggi, Billboard di peringkat kedua dan TV menyusul ketiga.

Jika kombinasi ini berhasil antara data pribadim-mu mempengaruhi papan iklan, mungkin ketika kamu sedang jatuh cinta melihat foto kenangan indahmu di Smartphone, begitu keluar rumah untuk membeli sesuatu, ada papan iklan besar di hadapanmu, tiba – tiba papan iklannya menunjukkan ‘acara kontak jodoh besok malam, download app-nya sekarang, registrasi sekarang’, jenis ekonomi apa lagi, yang membuatmu langsung bayar ke pilihan spontan tersebut.

Tergantung manusia-nya, bisa tidak dia mengendalikan nafsu iklan di mana – mana.


Mading Kolumn

IBM memanfaatkan BlockChain solusi retail grosir – Axios

Misalnya dari jaringan pemilik kebun langsung, kondisi sayur tersebut sudah terhubung dengan keranjang online pembeli, tanpa pihak ketiga berada, karena ini Blockchain. Perlahan – lahan ini juga terlampiaskan ke industri lain. ‘Makanan juga termasuk cepat berubah kondisinya, dari ‘segar’ hingga membusuk’, ini termasuk cara kreatif Blockchain untuk menambah kepercayaan sebagai industri terdepan, akan menghubungkan apa kondisi sayuran ini, berhak tidak untuk membelinya, langsung diputuskan dari laporan keranjang pembeli.

Kabar Teknologi Axios lainnya,

Kenapa Akademis menerima Deepfakes – Axios

Deepfakes sebelumnya adalah tool AI untuk menggenerasi audio, video dan gambar, bahasa enaknya memalsukan momen tanpa momen realitas. ‘Ini yang menjadi ancaman demokrasi untuk penegak hukum’. Tapi akademis sini memanfaatkannya sebagai bidang kreativitas baru untuk teknologi lainnya dengan istilah ’synthetic content generation’, ‘seperti proses pembuatan film, dubbing atau melatih ’self-driving cars’.

‘Jika ada kedisiplinan, mengerti bahwa tindakan ini bisa mengambil kesempatan kreasi konten, tidak masalah kita percaya untuk memisahkannya dari fake’ MIT graduate, Caroline Chan.


Dua cerita dari New Yorker

The Deliberate Awfulnewss of Social Media – The New Yorker

*Keburukan Sosial Media yang disengaja

Penulis menerima pengaruh dari dua buku yang dibacanya, Jaron Lanier ’Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts Right Now” dan James Bridle ’New Dark Age: Technology and the End of the Future’. Mengalami dari keseluruhan garis besar, tentang keberagaman sosial media internet meraup budaya sosial kita, penulis mengulas pandangannya, Brexit dan Cambridge Analytica, kontribusi kemenangan Trump untuk Amerika.

Internet merasa sudah salah di masa depannya, kata – kata tingginya mencari pengaruh lainnya, ’seperti buku hanya tak bergerak di samping panci saus, mainan anak – anak hanya televisi, kesempurnaannya merasionalkan kecerdasan mesin yang mengaturnya’. Menyalahkan penyebaran informasi juga algoritma, yang membuat kebiasaan global ini membuat dilema untuk menghapus akun sosial media, mau tidak mau, dunia sudah terjadi begini dan kita perlu belajar mengalaminya.

Jangan! – The New Yorker

Ini riset psikolog menarik yang perlu kamu terapkan di keseharianmu, ini kelihatannya sudah terkenal, menyuruh seorang anak tidak memakan apa yang didepannya setelah itu meninggalkannya sendirian, ‘apa yang terjadi?’, jika dia tidak memakan sesuai kata – katamu, berarti anak tersebut punya mental bagus untuk kedisiplinannya, potensi lebih sukses. ‘IQ sangat penting, tapi tidak sepenting mengendalikan diri untuk menahan demi sesuatu’.


Mailchimp Mengubah Dirinya Sebagai Perusahaan Anti-Tech – Fast Company

Mailchimp
Mailchimp

MailChimp menutupi umur kesuksesannya sebagai tool email marketing, mengalihkannya sebagai anak TK yang tak tahu apa – apa untuk berkata, hanya pandak mengekspresikan gambarnya. MailChimp bekerja dengan Illustrator dari seluruh dunia untuk membuat gambar abstrak seperti ini. Tantangannya ‘Membuat bahasa dan sistem brand sekarang, yang susah adalah, sesuatu yang sebelumnya orang tidak pernah melihatnya’.


Silakan kritik, suggesti dan perkenalan dari modal secangkir kopi -> firasraf@kicikku.com