Kreativitas Tergantung Kapitalisme, Facebook dan 50 Juta Pengguna

Satu minggu ini berbagai pandangan opini dari kalangan jurnalis tentang bocor keamanan Facebook, aku tak heran ini terpaksa berlanjut di jurnal ini, padahal edisi kemarin berusaha untuk menghindari topik sosial media, dan kontribusi kecil ku terhadap Decentralised itu termasuk bangga, disiplin satu jurnal membahas spesialnya.

Sayang, ini kepentingan masyarakat karena mengenal Internet hanya lewat sosial media, bukan Internet di atas Web sendiri. Kenapa waktu habis hanya untuk mereka?


Pembahasan Utama

1. Kreativitas di atas kekuasaan Kapitalisme

Essay dari Real Life Magazine penulis David A. Banks berjudul ’Same Difference’, Aku sadar kreativitas mestinya berkolaborasi, saling membantu, tidak mementingkan diri sendiri membangun kekuatan sendiri dan pembahasan ini mengkhawatirkan keberagaman kita dalam mudahnya akses informasi, ke depan sesuatu akan memakan yang lainnya.

Menyangkut juga dengan sistem kapitalisme, individualisme hanya melakukan sesuatu demi kepentingan uang. Jadi kreativitas sekarang hanya diakui oleh ketergantungan kapitalisme. Seniman akan dilema masalah komoditas, kualitas yang mereka berikan harus dibeli dengan uang.

Proses kreativitas ketika mencoretkan pensil kamu hingga menghasilkan karya ilustrator, itu masih bisa dikatakan ’non-capalist’, ternyata dia punya jiwa berbisnis, karyanya di jual ke sosial media dengan harga terjangkau, karya tersebut dicetak sesuai kualitas percetakan komersial, menggambarnya hanya sekali, sekali terjual bisa 100 transaksi per bulan. Inilah maksud kreativitas ini untuk pertumbuhan ekonomi, menyebabkan tak terhindar menjadi momen-mu kapitalisme.

Ujung – ujungnya komersial, bahkan menulis jurnal ini tidak mau tersebar, hanya untuk bacaan yang mau bayar langganan, berarti apa diriku termasuk kapitalisme? Menuju pertanyaan dari penulis, ‘bagaimana agar kerjaan kita selamat?’, suggestinya ’sedangkan kapitalisme konstan menyelamatkan individualisme mengerjakan sesuatu mengharapkan uang’.

Membayangkan saja ‘desain, kepedulian atas seni dan emosi’ itu jauh dari cerita komoditas industri kreatif, tapi jika bicara soal uang, tidak akan bisa terhindari selain mengkomersialkannya, menyebabkan kita tertuju ke suatu pusat kekuatan. Apakah kita tidak bisa menghindari skenario kreativitas ini lagi?, atau memang orang – orang anti kapitalisme sudah mulai tenggelam justru menyalahgunakan pengaruhnya?

Kondisinya bisa mengatakan iya ‘Jika kamu merasa ada perubahan berasal dari diri awal mulamu bukan dari hubungan dengan orang lain, berarti kamu sedang bekerja dalam mode kapitalisme.’

Aku jadi ingat dengan seorang matematikawan Paul Erdos, keliling dunia tidak mengharapkan apapun, hanya membantu matematikawan lainnya menyelesaikan ide-nya dan menerbitkan artikel, dia sudah merilis riset dengan teman – temannya hingga 1000 lebih. Bukti cinta dengan angka, menghasilkan kreativitas non-komersial.

Pembahasan Oli Mould di Jacobin Mag menilai, ‘kondisi kreativitas ini yang membuat kapitalisme semakin kuat di politik dan media dengan yakin atas kontribusinya mengatakan, tidak ada jalan lain’. Tapi ada jalannya, ‘kreativitas seharusnya mencari orang – orang, aktivitas yang menolak struktur korporasi ciptaan kapitalisme’

Kesimpulan

Bagaimana pun juga kolumn ini tidak mempengaruhi diriku dan kamu, karena yang ku perhatikan, bicara soal seni dan kreativitas, apalagi Internet cepat membolak – balik emosi kita, tergantung analisa data views dan likes, sedikit sekali orang untuk menghasilkan uang dari karya sendiri, kecuali kamu perusahaan besar berprinsip desain menghasilkan furnitur dengan produk fashion, untuk kebutuhan mereka, jelas kapitalisme ini untuk kebutuhan konsumsi mereka, karena ku akui aku tidak tahu pengenalan tentang kapitalisme.

Jangan membuat diriku takut menjadi wiraswasta

Terasa dingin, tanpa memerhatikan justru kesempatan kreativitas semakin sempit, pilihan untuk menjualnya, mengapresiasinya saja minim, keluarkan dompet dari kantong saja susah, ujungnya karya menang hanya yang pandai menguasai sensasi.


2. Kini Facebook Berhadapan Tanggung Jawab Kebobolan Siber

Surat kabar NYTimes Dealbook lewat Wall Street Journal, maklum masih belum mampu langganan berbayar jurnalisme, menyatakan Facebook privasi data bocor 50 juta pengguna bisa menghabiskan 1.63 milliar US Dollar, cerita panjangnya dari Wired.

Facebook memulai investigasinya tanggal 16 September kemarin, ada aktivitas tidak biasa oleh pengguna saat mengakses. 25 September mulai terjadi, ketika tim enginner mereka menemukan hackers sedang mengeksploitasi bugs untuk fitur Facebook ‘View As’ yang mensimulasikan privasi seolah apa yang sedang dilihat temanmu di profil kamu.

Dua bug bekerja secara terpisah

‘Bug ini bekerja ketika mengalihkan Facebook Video Upload Tool sengajakan halaman “View As” masuk. Bug kedua menyebabkan uploader untuk mengonfirmasi akses yang biasanya login Facebook-mu sudah otomatis masuk dalam device. Jadi ketika, Uploader Video masuk halaman mode “View as”, ini mengaktifkan akses kode untuk siapa saja Hacker ingin mencari siapa saja.’

Padahal Facebook memprioritaskan sistem keamanan Platform luar dalam, tapi Hacker pandai memainkan variasi tingkat di sini. Masalah berdatangan di tahun ini ternyata tidak di lingkaran ‘prioritas’nya, berita hoaks dan penyebaran informasi untuk kemasyarakatan termasuk masalah tak bisa terhindari, apalagi negara berkembang seperti Myanmar memanfaatkan Facebook untuk mengusir orang – orang Rohingya,

Facebook sangat tidak bisa mengendalikannya. Dan kasus ini kembali memprioritaskan dampak Hacking sebenarnya, sekarang orang luar tanpa sepihak apapun hanya ikatan pengguna biasa menunjukkan ilmu kebobolannya, siapa kira istana raksasa ini ternyata ditemukan juga lunaknya.


Terkait Facebook

Laki – laki Berharapan Meninggalkan Facebook – NYTimes

Jika aku menilai kepribadian antara Mark Zuckerberg dan Kevin Systrom, Kevin masih merefleksikan diri masalah tantangan sosial media yang dihadapinya dan kerusakan yang telah terjadi, dari opini Kara Swisher. Penulis juga berani mengkritik apa yang terjadi tentang Instagram, ‘Walaupun cantik, tapi membuat orang kelihatan buruk, ini museum dan bukan tempat orang bersosial dan terlalu banyak mengambil ide dari Snapchat’. Bahkan dia mendeklarasi menyerah dengan Instagram.

Tinder, Pinterest dan Lain Bicara Dampak Facebook Breach Terhadap Penggunanya – CNN Money

Generasi Digital, Startup memanfaatkan login Facebook Single Sign-On untuk menyingkat waktu akses masuk. CNN menanyakan kabar sejak berita ini terhadap sebagian perusahaan yang menawarkan login Facebook, tidak ada indikasi apa yang terekspos ketika log in Facebook. Tinder salah satunya ‘melakukan forensik investigasi’.  Pinterest juga ‘sedang mengerjakan apa pengguna-nya ikut terdampak’. CNN sedikit kecewa, tidak ada perusahaan yang ingin menjelaskan proses secara teknik menghadapi situasi ini.


Jangan sampai keegoisan menggigit diri sendiri.

Cerita Cofounder WhatsApp Brian Actor tentang #DeleteFacebook – Forbes

Kubu WhatsApp juga merasakan hal sama, meninggalkan nilai karyanya $850 juta, setelah tahun 2012 terjual ke Mark, cerita ini merasakan pengalaman Acton ‘Move Fast and Break Things’, WhatsApp dari dulu merasa ingin suci, tidak mengharapkan iklan sebagai sistem monetize-nya dan Mark menganggapnya ‘produk’ pelengkap data pengguna iklan Facebook. Akhirnya dia mengalah memilih keluar, September 2017, sekarang dia termasuk kontribusi aplikasi Chat Signal, mengutamakan privasi pengguna.


Apa Twitter itu NBA?

Apa Adiksi Sosial Media di NBA sudah Kelewatan – Bleacher Report

Ya aku sering melihat adik-ku nonton pertandingan NBA, dan salah satu pemasok kontennya adalah Instagram, JJ Redick pemain Philadephia 76ers berkata ‘Ini tempat gelap, tidak realitas, bukan tempat baik untuk melampiaskan egois, It’s scary, man’. Sekarang sosial media adalah magnet pemain NBA 2018 demi fans-nya, ‘Menuju NBA locker room sebelum tanding dan kamu akan melihat 12 atau pemain muda menggema di handphonenya. Setelah game, mereka langsung membuka Instagram untuk mengetahui respon orang dari permainannya.’


Terima kasih telah mengikuti jurnal ini, mungkin ada sedikit hambatan untuk jurnal selanjutnya, karena ada prioritas proyek dan sedikit perubahan KICIKKU, silakan kritik, suggesti, perkenalan, tanya jawab -> firasraf@kicikku.com