Kisah Penulis Kritik Jazz dalam Keterbatasan

Sore hari, suasana ramai toko elektronik di pusat kota kecil, radio masih mewah di waktu itu, membuat seorang ini bersama kerumunan wajah kenal dan salah satu pendengar kelihatan terinspirasi membelinya, kebetulan dia punya usaha Cafe untuk properti menarik pelanggan.

Besoknya Cafe pembeli ini ramai, kumpulan anak muda bergaya rapi meluangkan waktunya menikmati kopi, selagi acara radio favorit belum mulai, walaupun sudah mulai playlist acak sudah diputar dengan pelengkap speaker booth besar sambil mengontrol suaranya, pelanggan menikmati pembicaraan, yang sebelumnya pemilik ini tidak pernah senang seperti ini sejak radio ini terbeli, tak semuanya tahu tentang Cafe ini, toko barang elektronik jauh dari seberang jalan masih ramai, karena masih di pusat kota.

Tiba – tiba penyiar radio berseru ‘Hari ini kami kedatangan lagu baru dari artis rekomendasi baru untuk pendengar semuanya, kalian akan menyukainya’, lagu ini menyentuhnya apa yang anak muda ini lakukan berkumpul di jajaran di dinding sambil menari tak sengaja, tidak ada salahnya Cafe ini merasakan momen kegembiraan dari orang – orang lokal sebelumnya belum kenal, sekarang laki perempuan saling memandang mata ‘Jika kamu yakin aku bisa berdansa, ayo maju!’, siapa yang mengajarkan insting seperti ini. Musik Jazz menggema, merasa ada yang ingin memberanikan diri, yang berhasil lah menjadi pusat perhatian di antara anak muda masih yang ingin menunggu giliran, mungkin waktu hanya menunjukkan sore.

Dan di antara keramaian ini , seorang penulis kritik Jazz sambil menikmati Espresso dan menulis beberapa lembar dengan ekspresi berpikir, ya gayanya sedikit tua, menggunakan kemeja polos dan celana kain, menutup ekspresi sebenarnya menginginkan tulisan berikutnya, tak semua seniman baru menjadi perhatiannya, jika mayoritas anak muda ini berhasil mengambil karya musisi ini, “kenapa tidak ikut menyuarakan?”

Berakhir menjelang malam, Siaran musik sudah melewati jam batasnya, penulis ini keluar dari Cafe sendiri langsung kembali ke rumah, langsung menelpon ke phone booth, memasukkan berapa koin, ‘Ya mungkin aku dapat tulisan selanjutnya, artis baru Jazz ini baru menggetarkan hati Cafe langgananku, malam ini akan ku tulis nuansa lagunya, besok aku akan mencari tahu musisi ini, gimana?’ ‘Oke, cari tahu bagaimana gaya musisi ini dan buat tulisan terdengar lagunya’ kawan editor menyetujuinya.

Setelah kembali ke rumah, penulis Jazz ini hanya memanfaatkan apa adanya selain terlalu berharap alat pemutar piring hitam, flat apartemen sempit dipenuhi dengan buku dan lembaran kertas menumpuk serta bagian rapinya, koleksi piring hitam di jajaran raknya pemberian dari editor dan Label. Menyempatkan duku ke dapur untuk memanggang ikan Makarel, hampa ruangan bersisa suara teriakan orang entah darimana, suara kumpulan anak muda saling menyalahkan.

Keterbatasan dia hanya fokus dengan ambiens pertama kali mendengar musisi perdana ini, alangkah indahnya jika mendengarnya lagi, alangkah indahnya jika kenangan sekali dalam sehari ini bisa menuliskan harmoni untuk kritiknya, alangkah indahnya kesepian yang dianutnya terbiasa untuk menulis. Jadi perlahan – lahan dia mempekerjakan tulisannya lewat suara mesin tik yang ditekannya, sambil menunggu rasa penasaran artis ini dengan musik berulangnya kembali besok, tak lupa minuman soda.

Mengisahkan diri paginya, menuju Cafe langganannya kembali dengan koran harian sepasang secangkir kopi, kesepian dirinya juga mengefek kesepian Cafe ini, bukan suatu saat untuk memberontak sebuah ide, tapi pandangannya merasa musisi ini sudah cukup memuaskan komunitas muda di sini, apakah kritik harus mencari sensasi ketertarikan, atau inilah suasana literasi mendengar lagunya, ‘namun Jazz tidak istimewa di lingkaran siaran radio, hanya sesi khusus untuk orang – orang malam menikmati kegairahannya’, anggap saja dia demikian berpikir seperti ini.

Bisakah orang seni lebih suka menyusahkan suasananya daripada menerima inovasi untuk memperpendek waktu, semua orang suka serba instan, bagaimana jika penulis Jazz ini lebih suka terdengar kompleks untuk tulisannya daripada tergantung dengan orang lain?, kebebasan berseni tidak berpihak kemanapun, apalagi ketergantungan kita dengan ‘popularitas dan viral’ adalah hal tak terhindari di masa modern sekarang, seolah ide ambisi semakin tumpul dan sempit kesempatannya.

Sehingga yakin, penulis akhirnya menyerahkan tulisan ke editornya, editor ini percaya setiap gaya masing – masing penulis, ruangan emosi sang kreator. Hari sudah sore, penulis Jazz mengulas kembali memasang telinganya di waktu musik Radio terdengar, lagu ini pun terulang, kali ini komunitas anak muda tidak agresif dibandingkan dengan kemarin, penulis ini berkesimpulan

“Bukankah permintaan mereka ingin mengulang, ternyata serapan mereka penasaran di antara antara calon musik monumental lain yang sedang menunggu, jika tulisan ini pun berasal dari kegairahan sehari, ujung – ujungnya berakhir menjadi daun di antara daun terlupakan.”

Besoknya artikel sang penulis terbit di media koran harian kerjaannya, tanpa harus mengetahui sang musisi, tidak ada ledakan reaksi di mana – mana, bacaan tersebut hanya narasi halus untuk menghibur diri penulis juga pandangan kritik untuk musisi, tidak mengharapkan banyak, selain kritik tersebut hanya untuk menulis.

Mencukupi apa yang sudah terjadi, durasi lagu berakhir, berakhirlah situ ceritanya. Jeda sehari, seminggu atau sebulan, terlalu sering mengambil langkah akan memicu keserakahan. ‘Cari – cari perhatian’ ketika egois menjadi musuh.

Apa seni atau produksi, komersial manapun mengerti sebuah keterbatasan?, seandainya Twitter tidak memiliki komentar dan Retweet, apa kita perlu pengakuan dari orang lain, sedangkan penulis Jazz ini hanya ingin menulis, hanya pengawasan dari Editornya, tidak ada yang membahasnya di bagian kantornya, tidak ada yang mengunjungi meja kerjanya, bahkan tak terpikir apa suatu saat mungkin ada orang luar sana tak diketahui menyukai tulisannya, tapi penulis lebih memilih cukup untuk fokus dengan eksplorasi musik berikutnya.

Batasan apa Jazz sepiring melodi piano bolak balik dan suara drum disiplin merendahkan posisinya tanpa henti hingga piano, sang pemimpin hanya menggairahkan kebebasannya. Tidak melihat di mana letak ‘sukses’ dan ‘gagal’, sang penulis mengerti ini jalannya, biarkan orang yang tertarik mengikutinya, Jazz bukan mencari apa yang orang butuhkan, yang ingin pemirsa dengarkan apa.

Daripada berprasangka atau iri, lebih percaya diri sendiri main sederhana.

Seandainya saja di rumah penulis kritik Jazz ini sudah ada pemutar musik, mungkin dia tidak percaya dengan apa yang ditulisnya, tidak akan sesuai gaya tulisannya sendiri, karena lagunya akan diputar terus sampai tak memiliki kenangan terlama, dia akan lebih egois tanpa berinteraksi kawanan di toko elektronik atau langganan pinjaman dan Cafe tempat dia nongkrong sebagai observasi. Mengerti keterbatasan adalah hal istimewa untuk menemukan alternatif tak terduga, bahkan tak tersadari.