Search and Hit Enter

Arab Saudi untuk SoftBank Vision Fund dan NEOM Mega-City; AI Tanpa Instropeksi Diri

Arab Saudi tidak ingin kehilangan bisnis di depan dunia dan kenapa merasa aman memilih dengan SoftBank?

Sang pangeran merasa dekat hubungan harmonis pemain besar teknologi ini, dan mendedikasi hubungan tersebut untuk pembangunan proyek mega-city Arab Saudi — Neom bernilai $500 Milliar US Dollar. Proyek ini memiliki jajaran nama kebanyakan dari kubu barat sebagai penasehat tinggi, mantan CEO Uber, Travis Kalanick — Presiden Y Combinator — CEO desain firma IDEO — penemu Boston Dynamics, CEO Softbank, Mayashi Son,

Apa ini terlalu berlebihan?, Arab Saudi berprasangka baik terhadap ambisi teknologi, terlalu mengambil resiko untuk fondasinya, sedangkan si pangeran ini setelah sejak mengatur kedudukannya, tak main prioritasnya hanya mengambil seluruh universal teknologi apa yang telah terjadi di Silicon Valley menjadi kertas baru copy-paste di tanah Arab Saudi.

Bagaimana menafsirkan infrastruktur teknologi untuk Arab Saudi?, negara kaya di antara timur tengah lainnya tidak seheboh apa yang sang pangeran Salman lakukan, terlalu banyak pertanyaan selain melihat secara spesifik visi dan misi ini. Dan Arab Saudi dengan mudahnya memanfaatkan globalisasi ini untuk keterbukaan budaya. Lainnya, pemilik tanah suci muslim ini sedikit khawatir untuk mengganti generasi bisnis minyak mentah dan mereka percaya aset produktivitasnya berasal dari kolonial teknologi?

Terus sumber daya manusia-nya siap?, ini terasa tidak seimbang, seperti memindahkan aset dari kota maju langsung tumpukkan di tanah padang pasir kosong, merasa ingin tiba – tiba sudah ada, merasa belum ada pembelajaran kedisiplinan cara Arab Saudi menafsirkan masa depan teknologi untuk negaranya, hingga tidak ada gerakan batasan selain keserakahan.

Sang pangeran tidak lambat mengambil tindakan, beliau sudah banyak mengambil hati para pebisnis wilayah barat di antara raksasa lainnya, mengambil keputusan drastis di SoftBank apa tingkat kematangan pemerintah Saudi mengambil langkah ini?, mengenai bisnis SoftBank mereka punya puluhan aset performa bisnis tekno dari seluruh dunia dan itu termasuk kunci penting menambahkan lagi aset sebesar $45 Milliar US Dollar, untuk kedua kalinya.

Sayangnya Arab Saudi juga sedang berusaha menetralisir, atas kejadian tragedi jurnalis Jamal Khasoggi.

Menjelang Investment Forum ‘Davos in the Dessert’ tahun kedua di tanggal 23 – 25 Oktober 2018 nanti, pemain utama bisnis dunia kehilangan kepercayaan atas kasus Jamal, kecuali salah satunya teman akrab CEO SoftBank sendiri, soal SoftBank pun juga terpaksa kena pengaruh berita ini, saham jatuh hingga 8% dan kehilangan 22 miliar US Dollar.

Berarti mulai sekarang apa yang terjadi di Arab Saudi buruk atau baik di hadapan hubungan internasional, ini juga melekat dengan SoftBank dari konglomerat Jepang. Jawaban pertanyaan di atas mungkin ada di NYTimes.


Kita beralih ke artikel Henry A. Kissinger The Atlantic tentang Artifical Intelligence

Jika Infrastruktur kota merasa dinamis dengan Artificial Intelligence contohnya ambisi Arab Saudi NEOM Mega-City, kita pelajari teori kolumn ini

Penulis mengingatkan sifat digital sendiri, ‘selalu merasa cepat tapi tak pernah menginstropeksi diri’, ‘tidak punya pengalaman keseimbangan antara budaya dan politik, dari apa yang monumen diraihnya harus mengambil resiko tanpa batasan.’

Lanjut ke tahap kecerdasan buatan, ini sudah melewati batas ide – ide automation, ‘Artificial Intelligence sangat tidak stabil’. Secara garis luas, mungkin kamu harus mengerti dulu siapa penulis ini, berhenti sejenak yang AI tidak bisa lakukan, merelaksasikan diri, AI hanya menggangap apa yang mereka kerjakan harus berakhir kemenangan dan jika manusia terpaksa hilang jati dirinya saat masa depan seperti ini, kita akan tambah malas berpikir dan membuat AI mengembangkan industrinya sendiri jauh dari peradaban kita.

Tujuannya di mana letak konsistensi ini akan terjadi?, menguasai seluruh informasi apa yang ada di dunia ini?, ketergantungan kebiasaan kita untuk data per individual sebagai bahan analisis mereka untuk mengambil keputusan?, satu per satu sudah mewabah untuk generasi industri selanjutnya, karena tidak bisa dihindari, penulis mengkhawatirkan lupa atas sisi kemanusiaan kita untuk menjeda, etika dan rasa empati akan hilang, cakupan ini sangat luas, beliau berharap negara lain jangan terlalu mengambil langkah utama untuk ambisi AI, termasuk rumahnya sendiri, Amerika


Setiap tulisan akan ku kemas membahas dua atau tiga topik agar pembaca bisa fokus untuk Letters of Idea, silakan kritik, suggesti atau perkenalan dengan ngopi -> firasraf@kicikku.com

%d blogger menyukai ini: