Search and Hit Enter

Pasar Seni Retail; Entrepreneur mengutamakan Konsep Brand

Aku ingin membawa kalian ke Korea Selatan dan Jepang, ada tiga retail menjadi pembahasan pokok isu hari ini, mereka kecil, spesial hanya menjual yang sering dilewatkan orang, sering diremehkan orang.

The Book Society, Seoul — Toko buku spesialis seni, kritik dan desain mungkin hanya sejagat komunitasnya tahu, mereka juga interest dengan grafis desain ditambah Typography-nya. Retail indie ini pun menjual buku dari penerbit seni internasional.

Kamu bisa melihat koleksi terbarunya di Online Store-nya, tapi tidak tahu juga apakah ini juga tersedia pengiriman Internasional.

Pelajaran dari sini adalah, mungkin bisnis ‘kecil’ tetaplah menjadi kecil di lingkarannya, karena mereka akan besar di kalangan obsesi pasarnya, sebuah minimum yang tak bisa diikuti oleh orang lain, bersembunyi di antara dominan, bisnis ‘kecil’ spesial karena orang – orang tertentu hanya mengikutinya, cukup dari mulut ke mulut mensukseskannya.

The Book Society
The Book Society

Satunya dari Jepang

Jazzy Sport — Bisnis retail yang memoderisasi budaya Jazz terutama di Jepang, kalangan muda menikmatinya. Aku sempat mencicipi koleksi musiknya di SoundCloud juga Blognya, aku iri dengan orang – orang yang menikmati musik Jazz, mereka kelihatan ber-kelas. Jazzy Sport juga membudidayakan dengan kategori musik sekarang, Hip-Hop dan Electronic. Ini terasa bisnis yang menghilangkan ‘stress’ dari kamusnya. Biasanya, ada jadwal kawanannya mengumpul DJ lokal meramaikannya.

Tak perlu hirau jika ingin berbisnis di industri kreatif, daripada mengejar menjadi nomor satu ke atas, memilihlah untuk menggali dalam ke bawah apa yang kita kerjakan daripada mengikuti gaya prinsip orang lain. Aku pernah mendengar motivasi Lebron James di mana ‘Aku lebih baik gagal menjadi diri sendiri daripada gagal menjadi orang lain’. Sesuai dengan sloganku ‘Hanya untuk jangka panjang’.


Brand Mengutamakan Dirinya, Inikah kemudahan Entrepeneur?

Ini kesempatan emas untuk desainer branding

Startup, generasi bisnis sekarang mengutamakan gaya imej brandnya terlebih dahulu, apalagi orang – orang online sekarang belum tahu apa soal merealisasikan kebutuhan bisnisnya, tapi jika komunikasi brand terlebih dahulu bermain, ada getaran motivasi eksekusi.

Agensi desain branding Red Antler membantu branding dari Casper dan Brandless, kedua perusahaan ini tidak memiliki originalitas untuk merintis, kompetisi melihatnya pemain istimewa ketika mereka punya aset istimewa branding untuk mengembangkan ide bisnisnya.

Satu brand untuk seluruh kategori kebutuhan sehari – hari, ada alasan kenapa grosir online ini namanya Brandless. Challenge Studio Red Antler hanya butuh satu kalimat untuk misi perusahaan klien-nya demi brand autentik, kelihatan palsu dan tidak berprinsip jika ada yang akan mengikutinya.

Desainer punya kesempatan mengutamakan imajinasi antara dua pihak untuk merealisasikan prosesnya. Sebuah atanomi di sini, antara kamu menyampaikan pesan dari platformnya, Brandless punya tiga empat anatomi, desain kemasan, desain web dan rumusan desain identitas. Jika desainer sukses menyusun anatomi tersebut, apakah sudah saatnya bisnis terealisasikan?, ketika realitas imej brand sudah di depan mata tidak ada yang tidak bisa terhindar lagi untuk bermain jangka panjang, masalah dan kebutuhan sudah terdaftar di jajaran komponen atonominya menuju protiftable businesss.

Generasi konsep visual Instagram, pengusaha yang langsung tumpah ke publik mengutamakan tahap ini menjadi awal operasi bisnisnya, sayangnya ini hanya sekian ratusan jalan untuk memulai bisnis, sebuah narasi selalu mulai dengan pemandangan indah tapi drama tak pernah lepas dari kewalahan masalah drama, tinggal akhirnya ingin seperti apa?

Screen Shot 2018-10-23 at 06.11.56
Brandless via Red Antler

Jutaan Smartphone Android terpasang Track untuk Skema Penipuan Iklan

Skenario bisnis mobile App yang menghasilkan 75 juta US dollar per tahun dan tidak butuh sumber manusia konsumen untuk mendapatkannya, kasus ini sudah beroperasi setiap hari tanpa kelihatan dari dulu.

Kolumn Buzzfeed News mengungkapkan gelap industri ini terbuka dan rapi, seperti riset paper.

Jadi ada perusahaan yang akan menghubungimu sebagai developer dengan traffic penjualan bagus, seperti game anak – anak menggunakan basis iklan sebagai ganti ‘gratis’nya, setelah berhasil mengakusisi pengembang baru akan memasang Tool penipuan iklan tersebut. 125 app Android sudah terjangkit dengan asosiasi Shell Companies dan 23% industri iklan digital berasal dari pengaruh indikasi penipuan bot tersebut dan perkiraan menghasilkan 700 – 800 juta US dollar.

Developer yang berpengalaman dibeli App oleh jaringan ini, mengaku perusahaan ‘We Purchase Apps’, menggunakan Bitcoin sebagai transaksi untuk hak kepemilikan. BuzzFeed News menelusuri kepemilikan sebagian puluhan App tersebut dan hanya satu nama perusahaan pemegangnya, Fly Apps.

Cerita BuzzFeed mulai menarik sejak mengungkap status perusahaan Fly Apps ini, cara mereka beroperasi, hingga app mana berasosiasi dan kepemilikan.

Fly Apps tidak setuju dengan argumen BuzzFeed News dari responnya, kepercayaan atas Adsense tidak ada masalah indikasi trafik nakal dari pernyataan Google, namun Buzzfeed News menemukan kepemilikan aplikasi Fly Apps dihapus dari Play Store.

Shell Companies: Perusahaan yang hanya eksis di atas kertas, tidak ada karyawan dan kantor tapi memiliki bank akun atau pemegang suatu aset.

Jaringan Shell Companies berstatus agensi ini tidak mengembangkan App-nya sendiri, mereka berburu dan membeli developer punya ulasan positif manusiawi dan real pengguna, terus dapat menambah Tool Bot untuk membaca kebiasaan pengguna sebenarnya dan melahirkan Bot tersebut beranak – anak untuk impression Iklan pihak ketiga agar kelipatan Revenue terus naik

Adaptasi internet uang instan dengan kemampuan kriminal jauh dari radar hukum, memalsukan dirinya sebagai firma profesional untuk jenis Mobile Web App Agensi, memalsukan testimoni Klien, suasana kantornya, begitu BuzzFeed News membuktikan layanan mereka tidak sebayang kita kunjungi websitenya, rata – rata langsung menutup diri.

Sebenarnya ini bukan penipuan secara langsung, tapi teknik untuk membodohi suatu sistem iklan adalah jalan keuntungannya dan yang kena penyakitnya adalah pemasok iklan digital ini.


Kabar CEO Apple Tim Cook di Brussels

Dia lebih tegas memanfaatkan Apple sebagai kubu suaranya untuk menegakkan privasi publik dan argumennya terhadap bisnis yang memanfaatkan data orang lain, tracking dan surveillance untuk mengganti posisi Free Market.

“Platform dan Algoritma Free sudah menjanjikan untuk kualitas hidup kita yang sebenarnya memperbesar kecenderungan manusia terburuk”

‘Data-industrial Complex’ katanya, tidak sebanding apa yang kamu bayangkan, ‘crazy’ ‘The Crisis is Real. Wawancaranya bersama Amanpour CNN, Tim Cook tegaskan ‘Permainan data privasi sudah lebih dari sekedar industri teknologi’. Gaya bahasanya hanya menyinggung Facebook dan Google tentang model bisnisnya, ingat juga Google dan Facebook juga banyak berperan untuk mengeluarkan aset untuk mendefinisikan privasi sebenarnya, walaupun Apple bukan berada bisnis menyangkut privasi, tapi mereka sensitif tidak membiarkan raksasa dua sana bermain seenaknya.

Laporan Pemegang Tripoly Iklan Dunia

Google tidak mencapai ekspetasi Revenue, walaupun melompat 21% dari tahun sebelumnya, saham turun 4%.

Bisnis iklan Amazon boleh kita fokuskan di sini, walaupun pemain baru, sudah hampir bernilai 3 milliar US Dollar, naik 123% di Q3, 32% revenue brand jualan di Amazon rata – rata mengambil langkah dari aset iklannya.

Revenue Facebook minggu depan, kita bisa mengambil kesimpulan dari apa yang sebenarnya Facebook pelajari dari kegagalannya, tidak ada, dari Sarah Frier, Bloomberg.


Kolumn Mading

Facebook terlalu membesarkan janji konten video, Bloomberg Opinion — Facebook membohongi orang iklan atas angka kunjungan video konten?, angka sengaja ditinggikan agar pengiklan percaya atas interaksi kontennya di Facebook false metrics , sebuah manipulasi data yang menyesatkan riset orang iklan. Perusahaan kecil periklanan menggugatnya atas Error yang sengaja dibiarkan selama setahun. Opini ini juga membahas pertumbuhan video jurnalisme perbandingannya dengan menulis ‘kata – kata’, apa benar orang cenderung lebih suka nonton daripada membaca?, ini yang membuat media sedikit mengambil keputusan berat untuk investasi konten video.

YouTube is closing the gap with Twitch on live streaming, report finds, TechCrunch — Twitch kembali mendominasi live streaming dan Youtube Live sudah mendekati dominasi Twitch, mengambil 25% dari penonton streaming September 2018. Growth Twitch akan konsisten naik berkat konten sudah berdatangan tidak hanya dari pengaruh game.

NYTimes serius penyakit misinformasi Facebook dan Twitter — Pesan dari Editorial Board-nya, industri jurnalisme sudah kehilangan kredibilitas atas apa yang sosial media lakukan terhadapnya dan jurnalisme pula yang bukan bertanggung jawab atas fenomena online tidak seharusnya terjadi sosial media terus menerus dan jurnalisme juga yang terpaksa ikut campur, jelasnya sosial media sesungguhnya industri media.

The Devil Instagrams Prada, Bloomberg Businessweek — Prada merasa ketinggalan dengan pasar Luxury Fashion sudah ketergantungan budaya Internet, tapi Sang pemilik Suami Istri kurang percaya benar dengan revolusi digital pengaruh banyak ke Fashion, soal sosial media anaknya Lorenzo yang menjalankan, sang ibu juga desainer Miuccia Prada menolak menspesialkan pasar Millennial untuk pertumbuhan bisnisnya dari para rivalnya seperti brand muda Miu Miu. Data bicara positif untuk pertumbuhan digital Prada, penjualan onlinenya mengambil 5% dari revenue Prada di awal 2018.

Miuccia Prada ‘Jika aku berada di depan beautiul dress yang merasa ada sesuatu di diriku, aku tidak betah melihatnya, harus ku hancurkan’.

In Praise of Mediocrity, NYTimes — Setelah membaca ini, aku merasa meluangkan waktu untuk selalu menjadi amatir, mengerjakan hobi untuk kebebasan berkarya, jauh dari istilah ‘pekerjaan’. Penulis Tim Wu, professor hukum Columbia University khawatir kita berada dalam kependudukan krisis hobi, kehidupan pasif terlalu memikirkan cara menyelamatkan dari krisis ekspetasi sendiri. Antusiasme untuk ‘waktu luang’, passion untuk mempelajari sesuatu dan menguasainya bukan bakat keajaiban sejak lahir.

Membangun Website Ramah Lingkungan, Low Tech Magazine — Kita tidak menyangka konsumsi Internet juga pengaruh konsumsi energi dan website ini peduli membangunnya sendiri dengan ramah lingkungan beserta properti hardwarenya, Solar PV 50W dan kapasitas baterai 12V 7Ah, web servernya mengonsumsi kekuatan 1 hingga 2.5 watts. Agar ramah, tidak melibatkan typeface, logo dan grafis ukuran kecil. Kalau cuaca buruk berawan tidak ada sinar matahari bersalju, rata – rata per tahun 35 hari akan offline.

Matchmaking Dating Online, The New Inquiry —  App jodoh online bukan untuk membuka hubungan, nafsu menjual diri untuk membuka dirimu menjadi prospek, kalau kamu buka akun berarti dirimu asumsiku ‘kesepian, nganggur’, apalagi perempuan yang mengesampingkan laki – laki untuk mesin uangnya, serta memberi balik kepuasan, ini bisa menjadi bisnis terselubung. ‘Platform jenis ini memanfaatkan rasa hasrat nafsu dari dirimu menjadi abstrak profit’. ‘Kamu tidak akan dapat saling jatuh cinta, hanya jatuh cinta terhadap layanan servisnya’. Harus mengenal penulisnya, Ana Cecila.

‘Delete your Account’ Jaron Lanier, LA Review of Books – Buku terbarunya, ‘Ten Arguments of Delete Social Media Now’ belum terbeli, sebelumnya bisa mulai dari wawancara ini, mulailah memberanikan bisnis internet tidak ada pasar untuk gratis, ‘ketika kamu punya efek koneksi sosial dan adiktif, kamu akan susah melepasnya’, Jaron Lanier sudah membayangkan kritik bisnis data dan sosial media sebanding dengan kronologis sosial media akhir – akhir ini. Mention dia hanya dua, keluar dari dunia Facebook dan Google.

Escape from Fantasy, Martin Weigel — Sakitnya, beresikonya, tidak ada panduannya untuk menjadi kreatif di bisnis periklanan, ini pembahasan luas bagaimana industri ini sudah mengalami krisis untuk bernarasi?, ‘kita harus melihat cara baru melihat sesuatu’, tidak berbicara satu sama lain, keluar sana apa realitas sebenarnya, lari dari fantasi.

The Information Doesn’t Want To Be Free, Traffic Magazine — Mengenai pasar tidak gratis, Jessica Lessin pemilik jurnalisme bisnis teknologi terdepan, The Information berani kasih harga 4 juta per tahun, lebih memilih pasar spesifik dari ‘general’, tidak mengikuti cara media mainstream bermain, konsisten dan fokus untuk pembaca B2B. Dan yang aku suka dari prinsipnya, ‘tidak percaya sistem Venture Capital bisa membentuk bisnis berkelanjutan jangka panjang, terlalu fokus growth yang menghilangkan selera pembaca’.

100 Websites berpengaruh di Internet versi Gizmodo — Daftar ini berdasarkan website mana serius mengubah dunia,  yang pandai mencuri ide orang lain, menjadikannya monopoli, merusak budaya atau mengangkat suara kemanusiaan dan juga mendefinisikan baru kata ‘kekuatan’ atau tempat terbaik untuk belajar.


Silakan kritik, suggesti dan cerita atau secangkir kopi -> firasraf@kicikku.com

%d blogger menyukai ini: