Memancing Kalah dari Naluri

Kenapa orang memancing bersama temannya selalu sedikit egois, tidak terima kalah ketika temannya lebih baik mendapatkan ikan?

Di antara kita, entah itu posisi kita berada di kiri atau kanan, di satu danau, sama – sama punya alat pancing sama, sama – sama berbagi bait-nya, akhirnya si ‘dia’ yang dapat paling banyak ikan besar. Kenapa demikian?, apa mancing selalu tergantung dengan keberuntungan dan melihat teman telah kalah secara tidak sadar.

Siap – siap tidak yakin terhadap diri sendiri, merasa ego, lupa maju dan fokus, tak mau terima hasil apa adanya.

Eksistensi baru muncul, besoknya, yang merasa kalah sedikit egois dengan alat pemanggil ikan secara instan di pasang di pancingnya, teman yang kemarin menang tidak tahu masalah ini, dia merasa agar hari ini baik baginya ataupun temannya.

Tentu saja teman tersebut akan menang karena inovasinya, tak lama lima menit kemudian alat itu berhasil menangkap ikan besar, tiga menit kemudian temannya pun juga mendapatkannya ikan sama.

Sang pemancing tidak biasa merasa aneh?, kenapa dia juga mendapatkan sama?

Ternyata alat itu tak hanya memanggil suara saja, tapi mengumpulkan kawanan ikan dalam satu lingkaran, sama – sama menang, mereka pun senang pulang tangkapan masing – masing.

Besoknya mereka mancing lagi dan terus mendapatkan kenikmatan terus – menerus ini, hingga temannya berkata ‘Kenapa kita benar – benar tak pernah merasakan ini sebelumnya?, daripada exciting begini terus, kita lupa rasa bosan dan sabar lagi’

Khawatir dengarnya ‘Iya ya, ini mungkin keuntungan kita laut telah menerimanya’. Temannya memilih berhenti ‘Pulang duluan ya, kelihatan basi, ga ada cerita2 di depan pemandangan lagi’.

‘Oke lah, silakan’ teman tak biasa ini merasa ga enak dan tetap lanjut saja, ‘daripada berbuat kesalahan dan gagal kenapa aku harus bersikap egois seperti ini?’ tiba – tiba pemancing ketiga datang curiga ‘Kenapa ikan – ikannya selalu datang ke tempat kalian di alat Scanning, apa kalian ada yang menggunakan pemanggil suara ikan?’

‘Ga ada’ dua – duanya menjawab, ‘Jelas ini ada yang ga beres’, boleh saya cek alat mancingnya masing – masing, ‘Ini kamu’. Jadi selama ini kamu pakai alat itu?, terkejut dia, pantes aja kita dapat enak – enak terus dari kemarin’.

Pemancing ketiga berseru, ‘Maaf ya untuk kalian berdua, tidak ada salahnya kalian pakai alat ini, ini daerah baru, masih sepi, belum ada turis seperti kalian memanfaatkannya, berhasil tidak selamanya enak, justru pahit akan di hadapan orang lain, pikirkan turis baru exciting datang untuk mancing dan orang desa sekitar, mereka pun ingin jadi pemenang juga, lagian kalian sudah menang bisa ketemu pemandangan ini’.

Menjadi pemenang memang gampang, lagian siapa yang mampu nahan naluri kekalahan?