Tekanan Facebook dari NYTimes; Peringatan Apple di China; Podcast dan Subscription

Selamat datang kembali di mana aku membahas para keluarga dari FAANG lagi, tahu kan FAANG?, para legendnya Silicon Valley sudah melahirkan tulisan opini di mana – mana, aku termasuk perwakilan dari Indonesia, ga tahu bagaimana orang Jepang melihat Facebook, bagaimana orang Korea melihat Google, ketergantungan kuat kita terhadap konsumsi teknologi ini, membuat cemas, apakah United States bisa memberi contoh yang baik untuk kehidupan inovasinya?

Sedangkan kata – kata buatanmu, seperti Artificial Intelligence, Internet of Things, Smart City, Cyber Security, Machine Learning, seluruh negara sudah mulai mengikuti prinsipmu, aturan sama berarti idenya tak jauh sama. Letak perbedaannya kompetisi yang menentukan, siapa yang akan menang?, kalau lokal tak mampu terpaksa negeri luar masuk?

1. NYTimes bongkar Facebook Lagi

Aku tidak bisa baca artikel NYTimes ini *belum langganan, kabarnya memerlukan 6 bulan riset untuk mendapatkan kehidupan Facebook setelah pertanyaan, apa Facebook benar bertanggung jawab atas kesalahannya selama dua tahun ini, dari penjuru dunia merasakannya?

Dari reaksi Recode untuk artikel ini, siapa yang seharusnya dipecat sekarang?, daripada orang – orang tak bersalah keluar karena sadar diri, yang seharusnya bersalah memecat dirinya sendiri.

Ku ingatkan kembali, membahas masalah sosial media di jurnalisme ini, mengasumsikan teknologi terdepan, diskusi politik lingkungan kantor mengambil keputusan juga cara mereka menghadapi krisis, mencoreng kreativitas digital teknologi, tidak ada ide lagi selain putaran masalah tak berhenti – henti.

Sheryl Sandberg, dulu ngefans dengannya, salah satu wanita berkharisma di Silicon Valley, pembahasan NYTimes banyak menunjukkan temperamennya menghadapi masalah. Ya aku bisa merasakan ekspresi galahnya. Selagi Mark Zuckerberg jalan – jalan keliling dunia demi ambisi Facebook, Sheryl Sandberg lah yang sering di balik layar menyembuhkan luka Facebook, apalagi investigasinya terhadap Rusia.

Poin penting lainnya, Mark Zuckerberg menyuruh manajemennya hanya menggunakan Smartphone Android karena penggunanya banyak di situ dibandingkan Apple, padahal ini pelampiasan dia setelah CEO Apple mengkritiknya.

2. Google Berhasil di China?

Dari Wired, Tetangga sebelah Google, merasa sudah sukses duluan di China untuk mesin pencari versi sensornya, aku ingin tahu apa reaksi Badui?, Sundar Pichai tidak mau ketinggalan dari kesempatan populasi China 20% dari dunia. Kelihatannya keputusan ini tidak ada kaitannya dengan wajah kontroversialnya, karyawan Google sendiri saja sudah protes dengan proyek ini atas kelewatan etika moralnya.

Google termasuk agresif ingin melakukan apa saja, proyek cyber security, logistics dan transportasi, apalagi asosiasinya pemerintah, semua yang berhubungan dengan AI dan autonomous harus mereka meraupnya. Tatkala Sundar Pichai berkesimpulan “Ketika kamu terlalu awal dengan kekuatan teknologi, kamu harus melakukan regulasi sendiri”

3. Podcast dan langganan berbayar

Streaming film, TV, media sudah memasukkan langganan berbayar untuk fondasi produknya, sekarang maraknya Podcast dan kabarnya Hollywood juga tertarik mengembangkannya, apa juga sudah siap menuju langganan berbayar?

TechCrunch dan penulisnya tentang masa depan Podcast, Eric Peckham. Pelajaran di sini, langganan berbayar mendorong kamu mengutamakan kualitas lebih dari mencari – cari popularitas streaming.

Rata – rata pendengar podcast berpenghasilan $75,000 lebih dalam setahun, berarti ada potensi sekecil apapun lingkaran pendengarnya yang loyal, selagi Podcaster tahu obsesi industri mana untuk kontennya, ini tidak masalah untuk menjaga produk langganannya. Pendengar Podcast, opiniku, punya rasa penasaran dua kali dari minim bahan media mendengar cerita skenario, wawancara juga diskusi, daripada orang yang punya akses musik dari seluruh dunia, punya berperilaku terus belajar.

“Sayang satu kompetitor dan lainnya menawarkan konten sama dengan saling lempar harga murah”. Ini tidak akan mungkin berjalan lancar, ya mereka yang berada di pasar umum, siaran berita dan diskusi umum hanya rata – rata orang bicara, akan terasa berat untuk langganan berbayar, di luar sana Podcast umum banyak mengesampingkan sponsor untuk modal baliknya.

Inilah kesempatan Podcast akan datang bagi obsesi industri yang mereka jalankan terus – menerus, sama seperti format media lainnya, mencari niche.


Sisanya gitu – gitu saja

Apple merasa lambat di China, Goldman memperingatkan investor-nya, Business Insider – Index konsumsi ekonomi China turun 50.8 di bulan September dari 51.3 di Agustus, ini mempengaruhi penjualan iPhone di Q4 2018. Padahal akhir bulan menuju musim belanja liburan, peringatan tersebut bagi Investor samar dengan barisan baru iPhone XR dan iPhone XS “masih bisa mengambil growth lagi di akhir tahun”, menurut analyst Goldman Sachs.

Tim Wu dalam hukum persaingan bisa menghentikan raksasa Tech Companies, Intelligencer – Profesor hukum Columbia University merilis buku baru ‘The Curse of Bigness’. Pembahasan ini masalah Amerika yang sedang dihadapi, luka lama monopoli penguasa oli pindah takhta ke pemain teknologi, “Ketika Google membeli Waze, Facebook beli Instagram, bagaimana bisa itu legal?”

Mengundurkan diri dari Instagram, juga menghapus akunnya, liputan Washington Post, Bailey Richardson, mantan karyawan Instagram menceritakan pengalamannya salah satu dari 13 karyawan sebelum Facebook membelinya, mengikuti jejak sang Founders, kini dia merasa Instagram bukan lagi komunitas seni intimasi yang dulu pekerjaannya mengoleksi fotografi pilihan konten dari seluruh dunia, sekarang sudah “seperti adiksi obat yang kita rasakan yang tidak membawa kita merasa ke depan lagi”, tempat dulunya artistik, sekarang pasar media berlomba – lomba menjadi selebriti.

“iPhones are hard to use”, Weblog of Joe Clark – Apple memang suka sembunyikan fitur – fiturnya misterius, orang – orang tua yang kadang harus membutuhkannya justru paling sedikit menggunakan fiturnya, “Aku tidak pernah lihat penyandang cacat menggunakan AssistiveTouch, kecuali pengguna iPhone yang layarnya pecah rusak atau dan orang China lokal”.

Riset baru Facebook, Instagram dan Snapchat memicu depresi, Marketwatch – tidak ada mention Twitter, pelajaran ini sudah kesadaran lama, riset dari Univ. Pennsylvania membuktikannya dengan konsumsi sosmed 143 mahasiswa. Antara orang yang share betapa istimewa hidupnya melebih – lebihkan dan orang yang tambah depresi ketika melihatnya ‘hampa hidupku dibanding mereka’.

Tags: , , , ,

%d bloggers like this: