Ikan Tanpa Daging Ikan

Pergi ke Jepang hanya ikutan viral, terkenal karena nikmati kualitasnya, Tokyo, Kyoto. Pergi liburan cuma demi sosial media, keluar negeri kalau hanya kepentingan bisnis terasa langka, tanpa orang dekat perlu tahu. Hebatnya lokal Indonesia pergi ke Jepang, bukan main permintaannya, berarti kita memang makmur selama ini.

Beda antara ikan tuna dan ikan tongkol, satu dari belahan Jepang satu dari belahan Indonesia, bedanya Jepang suka makan mentah dan Indonesia suka makan pedas atau goreng. Samanya jarang yang makan kepalanya. Sashimi dan Wasabi, kepedasan paling asing dari dedaunan khusus di Jepang, ga jauh beda restoran mewah hidangkan menu seni jengkol.

Nelayan ikan tuna saja cerewet, daging ga berlemak restoran tak terima, daging berlemak maunya jual mahal, waktu mancing dua kali lipat. Restoran dan menu ikannya tahu customer mereka punya kesesuaian demi kualitas, bukan menghidangkan langsung makan, mood diskusi teman minum ala barat, cara lambat industri kuliner menulis hidangannya.

Apa yang terasa aneh, harga mahal, selalu membuahkan cerita tak biasa bagi mereka, drama untuk menyenangkan customer, drama bagi yang punya prinsip, drama karena memiliki nilai lebih untuk siapa yang menikmatinya, hanya karena ikan tuna berlemak.

Kebiasaan kita ke luar negeri sudah mulai berbeda karena ikan tuna terkesan keren daripada ikan tongkol, tiket terbang semakin murah semua orang bisa naik pesawat, Instagrammu ga boleh ketinggalan dari teman yang sudah pernah ke sana. Egois lebih nampak dari empati, nafsu dari stress lebih nyaman dengan Ayam daripada ikan. Ujungnya pesawat terbang juga selalu butuh minyak avtur walaupun harga murah.

Singapore Airlines, penerbangan paling terbaik sedunia, profit tenggelam gara – gara harga minyak tinggi, masalah biasa setiap komersial. Ambisi penerbangan belum sejauh electric car dan baterainya, avtur masih makanan sehari – hari, entah siapa jual tiket mahal, siapa jual murah, semua sama – sama gunakan avtur harga sama.

Sekarang ingin menjadi siapa, ikan tanpa daging ikannya, ikan berlemak, orang miskin kaya sama – sama nikmatinya, tinggal siapa yang merasa lebih mengenang?