Toko Obat China tak Kemana – Mana

Obat kuno China, terlupakan paling efektif sembuhnya, di zaman modern, obat China hanya buat orang – orang yang penasaran mencoba daripada konsultasi dokter. Penjualnya biasanya seorang kakek bersama anaknya, tidak perlu bahelo bagus, suasana oriental,  tumpukan rempah berkantong besar berserakan belum dikemas oleh kakek.

“Ada obat panas demam ga?”, tanya ke sang kakek “ada, tunggu bentar”, cari – cari di antara loker – loker kecilnya juga kaleng kacanya, ketemu terus bawa plastik kecil dengan rempah – rempah hasil buatan resep penerusnya “Ini masukkan ke air panas saja, minum pagi malam, seperti minum teh”, “Berapa?”, “10 ribu”

Entah berhasil atau ga itu obat, sudahlah kuno, tidak sadar lupa bahwa dunia sudah berubah, tidak pernah mati di tengah – tengah pasar

Sayangnya pasar selalu mengikuti apa yang bikin orang tertarik, bukan orang tertarik dengan pasar

Kalau buah sudah tidak laku di pasar, berarti orang tidak mau beli buah lagi, terus pasar tidak lagi menjual buah. Asal itu orang konsisten jual buah juga tahu prinsip, walaupun sehari sepi, dia tahu “Nyesal kalau orang kalau ga beli, selama ini hari – harinya berarti ga sehat dengan manis buatan”.

Jadi menganggap bisnis di era menjatuhkan lain itu salah, butuhnya keberagaman di antara kita, apalagi bisnis jual beli. Nyatanya orang melakukan sama dan lain melakukan sama berulang – ulang mengikuti yang pertama sukses duluan, pikirannya mau besar, lebih memilih di antara sekumpulan rusa sama rusa lainnya sambil dikejar Cheetah.

Bukan berarti kalah dari kesehatan modern sekarang, memang toko obat kuno China ga mau kemana – mana, besar atau kecilnya, yang penting bisnis keluarganya ga mati, jika ga ada seorang kakek biasanya tak peduli gaya pakaiannya berjualan, sekumpulan orang terkecil yang peduli percaya akan cari kemana lagi obat toko China.

Kekuatan keberagaman pasar, sekecil apapun itu bisnis tanpa mayoritas orang bicarakan, pasti ada sekecil orang peduli dengan minoritas bisnis tersebut.