Jualan Vintage Records ala Jepang; Facebook Ingin Menang Sendiri

Apapun itu badainya, entah dari Mark Zuckerberg sendiri, Sheryl Sandberg terhadap konglomerat George Soros, ancaman suara dari pemerhati privasi, Facebook tetap ingin berjalan apa yang seharusnya terjadi untuk mereka.

Di kasus ini manajemen lama mereka, Kemarin parlemen Inggris merilis email orang – orang Facebook, dari tahun 2012 – 2015, sejak Facebook IPO, memikirkan gimana caranya layanan mereka menguntungkan bisnisnya.

Tidak ada yang spesial dari koleksi ini, poin pentingnya Facebook tetap waspada betapa insecure-nya perusahaan mereka, menyelamatkan diri dari bencana ancaman privasi, harus berpikir revenue, email tersebut menunjukkan kerja kerasnya sebagai pembawa pesan komunitas global.

Salah satu ide bertentangan dengan privasi, diskusi untuk app Facebook di Android akan mengambil riwayat telfon dan SMS untuk update terbarunya, karena tidak ada notifikasi peringatannya di Android, pengguna pun terpaksa akan setuju untuk membiarkan Facebook melakukannya. Dari emailnya “Ini memang beresiko, tapi ini memberi ruangan kesempatan untuk growth team”.

Baca juga

BuzzFeed News, “Yellow Jackets” Riots di Paris awal mulanya dari Facebook.


Jualan Records antik di Tokyo

Jepang, termasuk negara pengoleksi terbanyak legenda – legenda Jazz, penulis membangun hubungan teman lewat tulisannya dengan penjual vintage piring hitam Jazz ini, ku pelajari dari sini, bisnis vintage memang tidak memandang di mana harus mengikuti keramaian, inilah kunci suksesnya, sama halnya bisnis investasi, harus pandai membuat pemikiran sendiri daripada tergantung viralitas. Karena obsesi

Artikel ini juga memberi masukan siapa – siapa musisi Jazz rekomendasi para pecinta ini, Charlie Parker salah satunya, blues country ..

Apalagi orang Jepang yang beri masukan soal ini, mundur ke ekonomi kreatif 20 tahun lalu dan membangkitkannya di kalangan internet, sayangnya Koya Abe sang pemilik toko harus menyesuaikan kondisi pemerintahan yang kelihatannya tidak cocok dengan karirnya di bisnis musik. Koya Abe konsisten membangun bisnis dari selera musiknya.


Pasar Smartphone semakin Sepi

Alasan kenapa Apple tambah mahalkan iPhone XS dan keluarganya, karena pasar Smartphone ke depan kelihatanya sudah selesai abadnya. Semua orang sudah punya Smartphone, pertanyaannya mau ga ganti lagi yang baru?

Masa – masa jaya Smartphone, dari 2007 – 2013, 2013 – 2014 Smartphone sudah mulai turun pertumbuhannya, sebenarnya tiap tahun teknologi berganti di Smartphone, tidak memungkinkan orang untuk tertarik belanja baru lagi, ini yang khawatirkan manufaktur.

Ujung – ujungnya komoditas

Aku tidak mengerti apa maksud komoditas di sini, tapi kita bisa samakan dengan penjualan komputer dan printer sekarang, penjualannya tidak sensasional, tidak mengarah kepada kesempatan inovasi lagi ke lain, Apple dan Samsung berusaha menghindari kategori ini.

Di kalangan pasar menengah ke bawah, Samsung paling terancam di sini, brand – brand Asia seperti Xiaomi, Oppo, Vivo akan memimpin pertumbuhan dua digit ini, di negara – negara yang mereka berhasil pecahkan.

Semua Tertuju ke Apple

Keluarga iOS memang sering membedakan di antara merek lain, buat Amerika dan Eropa tidak masalah menikmatinya. “Kelebihan Apple, mereka punya konsumen loyal memberikan kesempatan untuk melakukan lebih yang pemain lain tidak bisa mengambil kesempatan itu”

Sayang cara Apple menaikkan harga dan penjualan semakin berkurang, “itu ada naluri batasnya, termasuk keputusan berbahaya” – “Ketika kehilangan volume, kamu akan kehilangan efisiensi manufaktur dan manfaat biaya-nya”. Selebihnya Apple terpaksa harus menimpa kekurangan revenue tersebut dengan divisi revenue, belum cukup dengan modal-nya pengguna iOS sekarang. Demi penghidupan iPhone, Apple bisa saja menentang gravitasi selama industri lain punya argumen sama masalah harga.


Bagaimana Apple mensukseskan produknya dari lingkungan Apple Store? – The Guardian, tanya para “Geniuses” Apple Store, mereka akan menangkal negatif feedback kamu tentang produknya, dengan kata – kata empati demi kamu membawa sekotak sebelum keluar dari Apple Store, memang dari dulu ini ide mewah retail Steve Jobs.


Kolumn Mading

Microsoft Peringatkan Adopsi Facial Recognition dengan prinsip etika, TechCrunch — “Agar teknologi ini solid berlaku untuk pasar sehat, organisasi yang mengembangkan ini, mesti di pengawasan hukum berlaku”, kutipan presiden Microsoft. Publik punya hak untuk menolak adopsi ini, kalau memang tidak diperlukan. Tiga potensi bahaya bagi Smith: Penyadapan besar – besaran, invasi privasi dan penyimpangan tujuan.

Zombie economics: market failure and the agency talent crisis, Campaign — Talent selalu prioritas bisnis kreatif, terus kenapa artikel ini memperingatkannya?, berarti ada yang salah cara mencari talenta di industri ini, terutama agensi kreatif sudah semakin banyak, kualitas talenta-nya tidak seimbang? Apalagi industri advertising, Ekonom anggap “Market Failure”. Client perusahaan besar sering meremehkan agensi, memasang harga murah, karena pasar agensi sudah terlalu banyak, budget-nya bikin agensi satu sama lain bersaing, bayaran murah, keadaan ekonomi kreatif semakin sulit.


Bagaimana Arsitektur Dunia harus tergantung sihir Instagram, The Guardian — Bukankah seharusnya Instagram mengolah sendiri seni-nya di depan dinding arsitektur, bukan desain arsitektur menyesuaikan orang Instagram harus apa?, kalau sang desain harus patuh obsesi ini, sama saja orang berkunjung akan dapat foto sama. Tapi hasil aristek sekarang sudah menjadi magnet perhatian para pencari pengalaman demi Instagram-nya, “Ini berita bagus untuk desainer, unsur pandangan suasana ruangan demi photogenic Instagram”.