Selamat Datang di Dunia Cashless

Perusahaan finansial, Bank akan sudah siap mendeklarasi mereka akan meminimalisir media jual beli Cash, mulai dari perusahaan Visa “declaring a war on Cash”.

Sebenarnya aku baru saja ingin membiasakan gunakan Cash, kartu kredit sedikit bahaya, walaupun sekecil belanja misal beli kopi Americano di Starbucks, belum lagi urusan kartu loyal, kebiasaan buruk bila tidak terkendali, tagihan berabe

Dari artikel NYTimes bagaimana ekonomi Cashless akan menutup kemiskinan

Orang – orang mayoritas di lingkaran suku minoritas Amerika, kebanyakan tidak berada di perjanjian sistem Bank sebagai pencahariannya. Kenapa data ini berpengaruh?, “Perusahaan dan bisnis besar tidak sadar sudah melakukan diskriminasi, karena bisnis yang tidak menerima Cash tahu cara bertahannya”

Pengkritik Cashless dari The Guardian, Brian Scott mengingatkan Cashless membawa bahaya, cara kita menahan diri untuk belanja akan lebih bernafsu daripada menyimpan uang Cash. Tapi dia menguntungkan “Cash tidak akan ada istilah hancur, sedangkan Cashless memang mudah layanannya, tapi sering gagal”. Orang Bank punya potensi menghambat pelanggan cari – cari mengambil uang Cash, dengan membenarkan bahwa tujuan Cashless satu – satunya jalan barunya.

Dari pihak manajemen Bank sendiri, Cashless bisa memotong pengeluaran untuk staff branch, biarkan aplikasi online itu sendiri yang mengatur customer, tidak ada infrastruktur ATM, hanya para manajer dan senior bertanggung jawab, akhirnya lowongan pekerjaan terpotong.

Apakah ini kesengajaan disruption?, bahwa efektif memang lebih banyak membawa profit dari versi lama, Cashless mungkin lebih membawa Cash daripada sistem Cash sendiri?, Ini memang efektif, tapi Cashless hanya orang – orang corporate yang bisa membawa eksistensi ini?

Jika peran Corporate tersebut tidak bisa dipercaya, misalnya saja transaksi setiap beli Dunkin Donuts dengan Cashless, perhatikan letak biaya tambahannya, biaya tambahan akan menjadi kuantitas mereka jika 10 ribu orang gunakan dan dikenakan potongan 1000, jawabannya inilah alasan Cashless selalu mempromosikan dirinya dengan Merchant lain.

Cashless saja membawa transaksi efektif bertahap beruntung untuk penjual

“Jika kamu beli dengan kartu kredit atau ‘bla bla bla *cashless’, beli 1 gratis 1, minuman termahal akan dibayar, hanya minggu ini saja, plus dapat poin lebih” Kelihatannya menjanjikan, jika saja kamu lebih memilih bayar Cash setelah cerita-nya, niat penjual berganti muka.” . Karena promosi itu cara satu – satunya agar kita aktif menggunakan Cashless.

Cashless punya keberuntungan di antara dua pihak perusahaan, mungkin sebutannya “Corporate Profit”, jika pelanggan menggunakan salah satu kelebihan, mereka sama – sama menguntungkan dan jika lebih memilih Cash, salah satu bisa rugi, tidak mendapat ekspetasi atau growth mereka.
China tidak lagi membudayakan Cash, berita seorang Kakek marah – marah di China karena kebanyakan bahkan toko kecil hanya menerima digital payment.


Kolumn Mading

“Apple mangambil komisi 30% dari pengembang App”,, boleh jadi kenapa alasan gugatan monopoli App Store — Bloomberg Opinion, berasal dari konsumen, bukan pembuat App Terus kenapa gugatan ini berasal dari konsumen?, karena komisi terpotong pembuat App terpaksa harus membebankan konsumen, setelah hitung – hitung demi untungan tiap bulan.

Apple tidak bertanggung jawab atas naik harga, itu pilihan pengembang. Sebenarnya sisi pengguna tidak tahu soal potongan pengembang App ke Apple, haruskah khawatir?

Di tengah – tengah krisis, ada sebagian anak muda Venezuela menciptakan kerjaan baru di Fiverr dari Vox, platform Freelancer dari Israel, mereka bisa saja melakukan hal gila apapun sesuai pesanan pelanggannya dan Fiverr sangat populer di sana. Cerita lokal dokter gigi di Venezuela lebih banyak menghasilkan di Fiverr daripada di klinik, berarti tak perlu talenta lebih asal bisa memuaskan bayaran pelanggan, profesional dan ber-moral, Fiverr tetap menjanjikan pekerjaan.

Kita memang berada di tengah – tengah “mendengar lagu di Spotify” dan “streaming film di Netflix” – Real Life Magazine, tulisan tinggi ini, khawatir bahwa algoritma memandu salah cara kita menelusuri suatu konten, membiasakan penelusuran kita dengan cara logika mereka, agar screen di hadapan pengguna terasa cantik, “sedikit demi sedikit kehilangan tingkat abstrak-nya”, contoh, seandainya saja setiap hari halaman utama-nya penyanyi – penyanyi tua Jazz, Spotify ga akan laku, pengaruh juga sejarah bagaimana kumpulan kertas buku sebelum dan sesudah masa sudah memiliki cover dan judul absolut.

Jadi Cover Visual di hadapanmu saja bisa mengubah prinsipmu