Kontroversial, pola berantakan dan suka mengejutkan

Desainer Alexander McQueen selalu ciptakan anti-paradox, satu sisi mengekspresikan seni dan sisi lain urusan bisnis, siapa yang menggunakan gaun buatannya?, gamengira museum Met Gala yang mengenang sejarahnya, bukan kebanyakan orang umum pikirkan tentang Fashion.

Apa itu Paradox?, suatu yang diajarkan kalau memang benar ya itulah benar di hadapanmu. Kreativitas suatu saat ingin mengatakan ini salah dan salah ada saatnya akan menjadi benar, sudah benar orang lain akan mengikuti benar itu lagi. Anti Paradox selalu berbuat salah hingga menjadi benar, Paradox.

Fashion lebih punya kewenangan untuk melakukan ini dan entah kenapa industri kreatif lain tidak bisa mengikutinya, belum bicara makanan.

Fashion punya kebebasan berkarya, sedangkan yang lain harus tergantung dengan atasan, pasar dan briefing, demi komunikasi.

Karena anti paradox fashion, penulis kritik pun punya pengolahan kata bagus untuk menyampaikan narasi karya setiap musiman, desainer tahu ini bisa kontroversial dan beranggapan melawan pendapat mayoritas di industrinya, sedangkan desainer merasa paradoks ya mereka tidak perlu lagi mengundang jurnalis, sudah merasa pedas di sebelum tempat.

Kita bisa ambil pelajaran ini untuk membuat karya di tempat lain, apalagi berdasarkan pengalamanku.

Aku sendiri tinggal di kota Pontianak, Kalimantan Barat, kecil dari kota – kota lainnya di Jawa dan Sumatera.

Tantanganku sekarang aku harus hunting foto untuk aset KICIKKU, tidak bisa pergi ke luar kota atau luar negeri belum ada modal waktu finansial untuk mencukupi.

Malam minggu kemarin di Ayani Mega Mall, entah ini gagal atau komitmenku kurang, keramaian sana memang datang untuk ke berbelanja sana, ditambah sudah ga asing lingkungannya membuat sedikit malu.

Pertama kalinya juga motret di halaman Indoor,

Menjadi fotografer jalanan memang susah apalagi di kampung halaman sendiri, cuma aku satu – satunya bersikap aneh membawa kamera, beberapa aku minta foto siapa aja waktu itu, banyak menolak walaupun gaya fashion mereka menarik, konsep biasanya Portrait.

Ini lebih susah dari motret di kota besar lainnya, Bandung atau Jakarta.

Anti-Paradox mengajarkanku menerima gagal, selanjutnya gimana cara bangkit, apa aku harus tetap motret di Pontianak demi kuantitas atau sabar menunggu kualitas ada kalanya rencana motret di lokasi baru?

Posted by:Firasraf

Based on Indonesia, designer, iOS Developer, and Art Books Dealer