Ilusi Influencer dan Suara Jurnalisme untuk Privasi

Kenapa bisnis sekarang sudah tergantung dengan istilah Influencer?

Influencer identik cewe cantik pamerkan gaya hidupnya dan selfie dirinya, ketika bisnis tertarik, Influencer akan menemani produk mereka untuk berfoto bersamanya. Dengan menunjukkan ribuan followers-nya, sebuah perusahaan percaya Influencer ini akan menguntungkan bisnisnya.

Kita ke ahlinya, Mark Ritson, Profesor Marketing dari Inggris mencoba hasil karyanya demi dampak Influencer – Influencer Marketing tidak hanya susah dari followers hoax dan siapa yang lihat, juga kredibilitasnya.

Omong kosong pertama, Benar Followers-nya asli punya mata?

Di luar angkasa, tidak ada yang bisa mendengar teriakanmu. Di sosial media, tidak ada yang tahu pemirsamu benar setengah juta punya sepasang mata atau segudang komputer di utara Shenzen dijalankan oleh pria bernama Abdul.

Omong kosong kedua, Benar Influencers itu terpercaya?

Di ladang sosmed kamu harus mengerti jika seseorang itu manusia dan ini sedikit trik, work out jika benar pesan yang dipesankan genuine untuk menghasilkan kepercayaan. Berapa banyak followers percaya yang Influencer sampaikan produk atau jasa tersebut?

Aku mempelajari komunikasi periklanan itu tahap pertamanya, impact *dampak

Omong kosong ketiga, Benar Influencer punya pengaruh?

“Boleh kah ku bertanya kita tidak boleh terus – terusan gunakan kata ‘Influencer’?, jadi Influencer itu, kamu harus memengaruhi sesuatu, aku rasa ini ga nyentuh kebanyakan Influencer sekarang”, kata – kata dari agensi Singapore, Neil Stewart

Aku bangga kalau para followers Influencer ku sewa bisa mengklik karyaku dan menikmatinya di antara kerumunan matanya, walaupun dapatnya 20 orang, ga masalah. Kata Mark Ritson “Yang nyesal orang Marketing-nya kalau dapat segitu”

Buktinya mana dulu kalau dia memang Influencer, benar ga Followersnya berubah kebiasaan dari makan daging ke makan sayur, dari sabun A ke sabun B, masalahnya pokok referensi ini hanya senang dengan angka likes dan followers. Jadi ga ada yang bisa jelaskan balik apa untung dari mereka?

Pengaruh Mark Ritson sendiri, tidak bisa menjamin jika Influencer bisa berharap followers membeli produk endorse dan respon mendalam pasar. Influencer Marketing saja masih bertanya – tanya, apa ini Editorial atau pesan promosi?, memang ampuh selfie jadi bawaan bahasa iklan sekarang?, hanya tren baru sosial media?, apalagi ini standar bawah di antara marketing sekarang. Belum ada teori dambaan perkumpulan orang iklan sendiri, kecuali orang Influencer Marketing sendiri.

Kabar terbaru, Influencer yang gagal untuk influence bisa jadi ide gugatan hukum, The Fashion Law

Kolumn Mading

Apa Machine Learning kekuatan perusahaan teknologi? – Ben Evans

membangun perusahaan berbasis sistem Machine Learning – pertanyaan : Data apa yang harus kamu dapat untuk melatih resep model-nya demi pelanggan pertama?, berapa banyak yang dibutuhkan?, pertanyaan dua pasti ditanyakan lagi, terus apa suatu produk lebih menguntungkan karena data?, atau lebih dinamis untuk mengambil data mentah banyak, agar kelihatan pemenang?


Jurnalisme teknologi kini memikirkan di mana kemanusiaan perusahaan teknologi yang bebas menelusuri privasi orang tanpa pengawasan regulasi, jurnalisme sekali lagi yang mengingatkan ke publik, budaya corporate ini demi kepentingan profit dan memanfaatkan data pengguna, tanpa sepengetahuannya.

2. Facebook hanya fokus growth dari pemerintah terlalu lama – Financial Times

Janji selalu ingkar, itulah Facebook membawa – bawa pesan pelindung privasi pengguna, realitasnya “Engineer dan atasan FB prihatin privasi yang justru menghalangi growth dan inovasi-nya”.

Opininya, cara Facebook lebih merhatikan growth daripada regulasi, itu mengerikan, pertama perusahaan besar yang kerjanya mau kelihatan kecil – kecilan, Mark dan Sheryl Sandberg lebih dominan atas ketentuan Facebook, atasan sana ga ada efeknya, ketiga motto “Move fast and break things” maksudnya setuju kontrak data-sharing dengan perusahaan lain yang sebenarnya ga ngerti dengan kerjaan Facebook.

Kolumn ini mengingatkan lagi, “Para atasan Corporate sudah punya sejarah panjang untuk memaksimalkan profit perusahaannya hingga dipaksa memikirkan batas mereka”, di era ini.

Berita terkini, beberapa aplikasi populer Android bagi – bagi data dengan Facebook, salah satunya TripAdvisor, KAYAK dan SkyScanner.

3. The death of Don Draper – New Statesman

Ga tahu Don Draper ga apa – apa, artikel ini menjelaskan peruabahan zaman cara orang mengonsumsi iklan, merek dahulu dan sekarang. “Ga mengira sekarang kemana – mana bawa media, berkat Smartphone dan bisnis periklanan sebelumnya tidak pernah menguasai era modern, malah sudah pakai cara jahat.” Kamu tahu siapa peran – peran yang tidak perlu memprediksi kematian advertising, siapaberpikir rasional, siapa logis, di sini ditempatkan paling lengkap.

Misalnya, kenapa Mark Zuckerberg masang iklan satu halaman di koran, di tengah – tengah skandal Cambridge Analytica, karena periklanan itu lebih komitmen.


Menulis, karena kamu membacanya. Suggesti, kritik dan ide untuk ke depannya -> firasraf@kicikku.com