Butuh bertahun – tahun merek *brand untuk menguasai pikiran manusia ini, tidak bisa Coca – Cola, walaupun minuman soda bergula berjualan murah ini bikin orang – orang beli besoknya setelah melihat iklan, mereka perlu pesan berjangka panjang, walaupun tiga enam bulan, bahkan satu tahun berikutnya ingin minum soda, peminum akan tahu lebih memilih Coca – Cola.

Sekarang digital terlalu membanggakan teknik – teknik jitu, sosial media, web banner, email, ini belum tentu bisa berikan emosi. Sejak inilah aku jadi tertarik belajar iklan industri mulai dari sejarahnya dan orang – orang berumur dalam industri.

Jurnal ini hari ini memberikan argumen – argumen besar tentang kesalahan modern sekarang dan siapa orang – orang yang patut harus kamu ikuti, pandai membaca realistis ini.

Merek tidak bisa bekerja sesuai implikasi-mu, Memulai dari kolumn lama dari Financial Times, ‘How the Mad Men lost the Plot’, jurnal sebelumnya aku juga membahas Mad Men, tapi belum membahasnya.

Mad Men, drama tv series tentang agensi periklanan di masa – masa zaman ‘golden’-nya, kalau kamu nonton serial ini, kamu akan tahu betapa kritiknya cara kerja mereka, hanya demi kata – kata slogan, mereka merasakan di mana emosi-nya, meriset pasar bukan berdasarkan engagement, likes atau comment, mereka memecahkan misteri setiap bisnis dalam jangka panjang client-nya.

Mengambil kutipan dari professor Bryon Sharp dari Australia, tentang bukunya How Brands Grow

“Kalau kamu sekarang bekerja di bawah naungan merek. Pertama, kamu ga akan bisa menaikkan nilai pasar brand kamu dengan menargetkan pengguna pertama – tugas wajib digital media sekarang. Pengeluaran marketer hanya untuk pelanggan mereka sendiri dengan email dan web banner sangat buang – buangan”

Prof Bryon mengaitkan program loyal kurang kuat untuk brand, merek sukses harus pandai mencari orang yang tak mengira tentang itu, yang tak pernah ketemu sebelumnya, atau orang yang sudah lama ga beli dan benar lupa, di situlah titik merek bisa cari perhatian ketika memang mereka akan siap membelinya, ini langsung otomatis ke pikiran kita.

“Periklanan, kata Sharp, paling efektif ketika itu tidak merasa coba dan mengajak, tapi hanya membuat kita ingat merek pada titik pembelian.”

Kata – katanya agak membingungkan, penafsiranku, walaupun kita menjual sesuatu, bagaimana iklan bisa membawa sesuatu tersebut menjadi puncak ada saatnya untuk membeli?

Iklan paling efektif ga menjual, tapi bikin orang beli

Contoh lanjutan dari perusahaan Coke, “Iklan Coke memungkinkan kamu beli Coca – Cola tahun depan dengan proporsi kecil, sebuah dorongan sangat kecil sehingga kamu hampir pasti tidak akan menyadarinya, itulah kenapa orang – orang bilang periklanan tidak efek bagi mereka. Tapi hal kecil bisa menumbuhkan jutaan kaleng terjual”

Asumsi Marketer suka berimajinasi bahwa mereka akan membeli brand menempel di pikiran kita itu salah, konsumen lebih suka cara pintas daripada di antara cari keputusan ribet. Data menunjukkan bahkan orang biasanya beli di satu brand tiba – tiba pindah kompetitor brand lain jika itu terjadi lebih mudah dan murah di hari itu.

Penasaran bagaimana jika aku membuat iklan, apakah itu sifatnya menyinggung, apa itu kata – kata yang tidak ada sama sekali kaitannya dengan produk, iklan hanya membuat brand semakin menarik duduk di tempatnya. Dan orang, pembeli biasa bukan fans dari brand, “engagement” jadi unik itu ga ada artinya,  walaupun orang follow atau like belum tentu mereka klik.

Mengenai Follow, aku perkenalkan empat penulis yang harus kamu ikuti nasehatnya. Mereka sangat berlawanan dengan ahli sosial media, konsultan digital dan julukan – julukan teknik lainnya.

Dave Trott, Salah satu orang Inggris paling tua di industri periklanan, banyak menulis motivasi kreatif dan nasehat yang kamu belum tentu bisa dilakukan di dunia digital ini. Tulisannya banyak mengaitkan dengan sejarah, cerita biografi menjadi pelajaran untuk pembaca.

Bob Hoffman, Adcontrarian – Tulisan jurnal sebelumnya aku pernah memetik dan artikel dia, sering mengkritik budaya digital iklan, konsep salah sosial media yang menyesatkan mayoritas bisnis sekarang dan tulisannya ga nahan – nahan. Artikel terbarunya tulisan paling serius kenapa iklan online ga bisa membentuk brand –

“Iklan yang dicari – cari atas pribadi orang, obsesinya digital advertising, jadi ga semua orang bisa menikmatinya karena interest pemirsa, menjauhkan kita mengetahui apa brand yang bisa diterima di sisi kita”

Ad Aged – Ini kalau kamu sudah nyaman baca dua penulis di atas, di sini dia juga banyak menyinggung masalah modernisasi iklan, tapi lebih halus cara pandangnya, juga inspirasi iklan yang dia kumpulkan, pengalaman dia selama di industri.

Dave Dye – Beliau lebih membahas karya para tokoh – tokoh pengaruh di iklan, juga

membahas seniman dan fotografer. Website ini yang banyak memberi sumber cara menjadi copywriter, membaca rekaman podcastnya selama di industri, terus mengikuti contoh – contoh tulisannya.

Mark Ritson – Profesor Inggris yang suka menyalahkan prinsip sosial media, dengan analisa risetnya, perlu juga kamu membaca pandangannya secara detail mewakilkan penulis – penulis di atas, salah satunya Gary Vynerchuk salah, salah tentang Marketing.

Hebatnya mereka saling kenal dan saling mendukung setiap cover masing – masing.

Kolumn Mading

Penjualan Laptop Q4 turun termasuk tahun lalu – Gartner

Lenovo menggantikan posisi pemimpin pasar dari HP, secara pertumbuhan hanya Dell mendapat positif. Penjualan tahunan pasar PC global turun 1.3 persen dari 2017. Salah satu faktor, “Musim liburan bukan lagi patokan penjualan tinggi untuk pasar PC”

Kenapa Spotify Bukan Lagi Perusahaan Musik – Cherie Hu, Medium

Agar Spotify bisa menjadi Netflix-nya Audio, mereka tidak bisa menumbuhkan bisnisnya hanya dengan musik, tapi segala bidang yang berhubungan dengan “Audio Experience”. CEO-nya menerima seluruh kreator yang berhubungan dengan Audio, pengguna tinggal langganan saja.

Pertanyaan dia, apa nasib para musisi akan kelihatan rendah dari loyalitas streaming?. Yang aku suka dari ide Spotify, mencampur adukkan Podcast dengan Musik dalam satu playlist dari algoritma-nya, jadi seperti radio. Kembali ke kondisi pertanyaan tadi, jadi Spotify menganggap konten musik hanya hiburan uang sampingan?

Brands memodal 200 milliar US Dollar untuk Influencer ber-followers fake – Retail Gazette

Parahnya reaksi ulasan positifnya juga otomatis dari akun bot


Jurnal hari ini fokus menyadari bukan saatnya bicara brand tanpa iklan menarik menciptakan brand, yakinlah ada yang lebih baik daripada mayoritas ikuti, silakan kritik kesalahan, suggesti -> firasraf@kicikku.com

Posted by:Firasraf

Based on Indonesia, designer, iOS Developer, and Art Books Dealer